Iffat Taqiyyah, Dwi Indri Anggraini|Terapi Lintah Sebagai Alternatif Pengobatan pada Dermatitis Atopik Medula|Volume 7|Nomor 5|Desember 2017|171 Terapi Lintah sebagai Alternatif Pengobatan pada Dermatitis Atopik Iffat Taqiyyah 1 , Dwi Indri Anggraini 2 1 Mahasiswa, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung 2 Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung Abstrak Dermatitis atopik (DA) merupakan salah satu penyakit kulit yang disebabkan oleh reaksi alergi tubuh. Penyakit DA seringkali memiliki hubungan dengan kelainan atopik yang lainnya seperti rinokonjungtivitis alergika, alergi makanan dan/atau asma. Gejala pada dermatitis atopik memiliki tiga fase yaitu fase akut, subakut, dan kronis. Presentasi klinis pada DA akut adalah vesikular, weeping, dan crusting eruption. Pada DA subakut memiliki gambaran kulit kering, DA subakut memiliki gambaran berupa kulit kering, bersisik, papula eritem, dan plak. Sedangkan gambaran DA kronis yaitu terdapat likenifikasi hasil dari garukan berulang. Terapi farmakologi yang biasa digunakan pada DA adalah kortikosteroid topikal dan inhibitor kalsineurin topikal yang berfungsi sebagai anti inflamatorik. Pada pengobatan dengan kortikosteroid dan inhibitor kalsineurin topikal terdapat efek samping yang dapat timbul antara lain efek pada kutaneus yaitu purpura, teleangiektasia, striae, hipertrikosis fokal, dan timbulnya jerawat, rasa terbakar, dan lain-lain. Penggunaan obat-obatan farmakologi seringkali mengalami relaps dan rekuren hingga akhirnya menjadi DA yang kronis. Dalam melakukan pengobatan pada DA terdapat salah satu alternatif terapi diluar terapi farmakologi yaitu dengan menggunakan lintah. Penggunaan lintah menjadi pilihan untuk menghindari efek samping dari penggunaan obat-obatan yang biasa diberikan. Lintah yang sering digunakan pada terapi adalah spesies Hirudo medicinalis, H. verbana dan H. orientalis. Saliva yang terdapat pada lintah memiliki 100 substansi aktif yang berperan sebagai anti inflamatorik. Terapi lintah juga merupakan salah satu terapi yang baik untuk membuang toksin, alergen, dan darah kotor yang statis pada area lesi. Konstituen anti inflamatorik dan antihistamin pada saliva lintah meredakan reaksi radang pada eksim atopik. Kata kunci: Dermatitis atopik, pengobatan alternatif, terapi lintah Leech Therapy as Alternative Medicine for Atopic Dermatitis Abstract Atopic dermatitis (AD) is one of the skin diseases caused by allergic reactions of the body. AD associated with other atopic disorders such as allergic rhinoconjunctivitis, food allergies and/or asthma. Symptoms of atopic dermatitis have three phases: the acute, subacute, and chronic phases. Clinical presentation of acute AD are vesicular, weeping, and crusting eruption. In subacute AD has a dry skin, scaly skin, erythema papule, and plaque. The chronic AD image illustrates the results of repeated scratching. Pharmacological therapy commonly used in AD are topical corticosteroids and topical calcineurin inhibitors that act as an anti-inflammatoric. In the treatment with corticosteroids and topical calcineurin inhibitors there are side effects such as effects on cutaneous purpura, teleangiektasia, striae, focal hypertrichosis, and the onset of acne, burns, and others. The use of pharmacological drugs contracted relapse and recurrence until it became a chronic AD. In the treatment of AD, there is an alternative therapy with leech therapy. The use of leeches is an option to avoid the side effects of regular medication use. Leeches that are often used in therapy are Hirudo medicinalis, H. verbana and H. orientalis. Saliva of the leech has 100 active substances that act as anti-inflammatoric. Leech therapy has a best mechanism for removing toxins, allergens & immobile impure blood at local site and thereby improving blood circulation. Anti-inflammatory constituents and antihistamines in the saliva leech relieve inflammatory reactions in the atopic eczema eczema. Keywords: Alternative medicine, atopic dermatitis, leech therapy Korespondensi: Iffat Taqiyyah, alamat Jln. Soekarno Hatta gg. By Pass Raya II no 10 Rajabasa Bandar Lampung, HP: 081284640373, email: iffat.taqiyyah@gmail.com Pendahuluan Dermatitis atopik (DA) merupakan salah satu penyakit kulit yang disebabkan oleh reaksi alergi tubuh. Reaksi alergi pada kulit ini juga dikenal sebagai eksim atau eksim atopik. Penyakit ini dapat timbul pada semua usia, namun lebih sering pada anak-anak. 1 Prevalensi penyakit ini sekitar 2% sampai 5% (pada anak dan dewasa muda sekitar 15%), dermatiits atopik adalah salah satu penyakit yang paling sering terjadi. 2 Pasien DA sering memiliki hubungan dengan kelainan atopik yang lainnya seperti rinokonjungtivitis alergika, alergi makanan dan/atau asma. Onset eksim biasanya terjadi antara 2 dan 6 bulan pada semua umur. Pada beberapa penelitian, eksim pada anak-anak akan mengalami perbaikan saat sudah berusia dewasa, namun terdapat beberapa kasus dimana kondisi kronis dapat menetap sampai usia dewasa. 1 Pada bulan pertama kehidupan, deskuamasi kekuningan yang disebut dengan