Syah, Arsitektur Neo Vernakular pada Gedung Pertunjukan Seni Tari Tradisional Suku Dayak di Samarinda 159 Arsitektur Neo Vernakular pada Gedung Pertunjukan Seni Tari Tradisional Suku Dayak di Samarinda Fauzi Syah¹, Suci Ramadhani 2 , Esty Poedjioetami 3 1, 2, 3 Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perancangan, Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya, Surabaya, Indonesia e-mail: 1 fauzisyah2510@gmail.com Abstract. Samarinda refers to the capital city of East Kalimantan Province which has numerous cultures including traditional dance art namely typical dance of Dayak tribe. Therefore, this research planned and designed the building for showing the performance of Dayak Tribe Traditional Dance Art in Samarinda by the theme of Neo Vernacular Architecture. It aims at developing the typical dance from East Kalimantan. The theme of Neo Vernacular Architecture and the macro concept (Developing culture) are implemented by creating a design which can preserve local elements formed empirically by a tradition. The micro concept of land order (Cultural Realm) Creating a land structure design by applying an area that has a comfortable and beautiful atmosphere and applying the cultural values of the Dayak tribe to the area, whereas the micro concept of shape (Forward Culture) presents a design of building shape also having the concept of advanced culture to motivate the development of local typical culture. The micro concept of space (Adaptive) develops spaces design which is directly or indirectly interconnected with each other. The spaces will be able to facilitate the activities. Thus, this design is expected to be the centre for Dayak tribe typical dance art which can give positive contribution to the environment and people as well as become the tourism object for both domestic and foreign tourists who are interested in the dance art originated from East Kalimantan in Samarinda. Keywords: Dance Art Performance Building, Neo-Vernacular Architecture, traditional, Dayak Tribe Abstract. Kota Samarinda merupakan Ibukota provinsi Kalimantan Timur dan didominasi oleh warga Suku Dayak yang memiliki kesenian khas salah satunya berbentuk tarian khas Suku Dayak. Gedung Pertunjukan Seni Tari Tradisional Suku Dayak di Kota Samarinda dengan menggunakan tema aritektur Neo-Vernakular bertujuan untuk mengembangkan kesenian tari khas dari Kalimantan Timur. Pendekatan tema arsitektur Neo Vernakular bertujuan untuk melestarikan genius loci yang ada serta terbentuk secara empiris oleh tradisi, sehingga rancangan ini menerapkan konsep makro Develop Culture. Mikro KonsepTatanan Lahan (Cultural Realm) Menciptakan desain tatanan lahan dengan menerapkan sebuah kawasan yang memiliki suasana nyaman dan asri serta menerapkan nilai-nilai budaya Suku Dayak pada kawsan. Mikro Konsep Bentuk (Forward Culture) Menciptakan desain bentuk bangunan dengan konsep budaya yang maju, agar dapat memberikan semangat untuk mengembangkan kebudayaaan khas daeerah. Mikro Konsep Ruang “Adaptive” bertujuan untuk menciptakan ruang langsung maupun tak langsung, ruang fisik maupun imajiner, yang berfungsi sebagai wadah kegiatan. Hasil rancangan ini diharapkan menjadi pusat kesenian tari khas Suku Dayak yang dapat memberikan kontribusi positif bagi lingkungan dan masyarakat serta dapat menjadi obyek wisata bagi masyarakat, baik dari dalam maupun luar negeri yang tertarik tentang kesenian tari asli Kalimantan Timur di Kota Samarinda. Kata Kunci: Pertunjukan Seni Tari, Arsitektur Neo-Vernakular, Trian khas Suku Dayak