Ariyanto et al.: Kajian Intersepsi Cahaya Matahari 355 J. Agrotek Tropika. ISSN 2337-4993 Vol. 3, No. 3: 355-361, September 2015 KAJIAN INTERSEPSI CAHAYA MATAHARI PADA TIGA VARIETAS SORGUM (Sorghum bicolor (L.) Moench) DENGAN KERAPATAN TANAMAN BERBEDA PADA SISTEM TUMPANGSARI DENGAN UBIKAYU (Manihot esculenta Crantz) Apri Ariyanto, M. Syamsoel Hadi, & M. Kamal Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Lampung Jl. Prof. Soemantri Brodjoneogoro, No. 1 Bandar Lampung 35145 Email: Apriariyanto@gmail.com ABSTRAK Tumpangsari tanaman sorgum dengan tanaman ubi kayu merupakan usaha pemanfaatan ruang kosong pada tanaman ubi kayu untuk meningkatkan penggunaan lahan. Persaingan cahaya matahari antartanaman yang ditumpangsarikan merupakan permasalahan dalam sistem ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola intersepsi cahaya matahari tiga varietas sorgum pada tingkat kerapatan tanaman berbeda pada sistem tumpangsari dengan ubi kayu. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Desa Negara Ratu Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan dari bulan Agustus sampai November 2014. Percobaan disusun secara faktorial (4x3) dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah kerapatan tanaman (p), dan faktor kedua adalah varietas sorgum (g). Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) kerapatan empat tanaman perlubang tanam memiliki persentase intersepsi cahaya matahari tertinggi, (2) intersepsi cahaya matahari ketiga varietas sorgum menunjukkan pola yang relatif sama pada berbagai umur pengamatan (3) interaksi antara varietas dengan kerapatan tanaman memberikan perbedaan intersepsi cahaya matahari tanaman sorgum pada tumpangsari dengan ubi kayu pada umur 5 dan 7 mst dan (4) persentase intersepsi cahaya matahari tanaman sorgum nyata berkorelasi negatif dengan jumlah biji per malai, bobot biji per malai, bobot biji per m 2 , bobot 100 butir, dan bobot brangkasan kering. Kata kunci: intersepsi cahaya matahari, kerapatan tanaman, tumpangsari, varietas sorgum. PENDAHULUAN Sorgum merupakan salah satu tanaman pangan yang sudah lama dikenal oleh petani Indonesia khususnya di daerah Jawa, NTB dan NTT. Pada setiap daerah tanaman sorgum dikenal dengan nama yang berbeda- beda. Di daerah Jawa sorgum dikenal dengan nama Cantel dan umumnya ditanam di lahan tegalan sebagai tanaman sela atau ditumpangsarikan dengan tanaman pangan lainnya (Talanca, 2011). Secara umum, sorgum mempunyai potensi besar untuk dikembangkan di Indonesia karena mempunyai daerah adaptasi yang cukup luas. Tanaman sorgum toleran terhadap kekeringan dan genangan air, dapat berproduksi pada lahan marginal, serta relatif tahan terhadap gangguan hama dan penyakit. Biji sorgum dapat digunakan sebagai bahan pangan, bahan baku industri pakan dan pangan seperti industri gula, monosodium glutamat (MSG), asam amino, dan industri minuman (Sirappa, 2003). Salah satu usaha intensifikasi pangan adalah dengan dilakukan penanaman ganda atau tumpangsari. Menurut Warsana (2009), tumpangsari adalah suatu usaha menanam beberapa jenis tanaman pada satu lahan dan waktu yang sama. Penanaman dengan cara ini bisa dilakukan pada dua atau lebih jenis tanaman yang relatif seumur, atau pada beberapa jenis tanaman yang umurnya berbeda. Berdasarkan penelitian Lesoing dan Francis (2000) tumpangsari tanaman sorgum dengan kedelai menunjukan peningkatan hasil tanaman sorgum, namun terjadi penurunan hasil kedelai dibandingkan dengan monokulturnya. Menurut Hamim dkk. (2012), sistem tumpangsari sorgum dengan tanaman ubikayu merupakan salah satu alternatif yang dapat dilakukan pada lahan yang terbatas. Persaingan unsur hara, air dan cahaya matahari merupakan permasalahan dalam sistem ini. Persaingan yang sangat berpengaruh dalam sistem tumpangsari adalah penyerapan cahaya matahari. Oleh karena itu, untuk menghindari persaingan antar tanaman yang ditumpangsarikan dalam hal mendapatkan sinar matahari, perlu diperhatikan tinggi dan luas antartajuk tanaman yang ditumpangsarikan. Tinggi dan lebar tajuk