586 Profil Miskonsepsi Siswa SMA pada Materi Pembelajaran Suhu dan Kalor Silfia Maftuhatun Ni’mah 1 , Sentot Kusairi 1 , Edi Supriana 1 1 Pendidikan Fisika-Universitas Negeri Malang INFO ARTIKEL ABSTRAK Riwayat Artikel: Diterima: 08-04-2019 Disetujui: 23-05-2019 Abstract: This research was aimed to compare senior high school misconception with different class level on heat and temperature. This study used a survey method with subjects of class XI and XII as many as 68 high school students in Kediri. The instrument used is in the form of two-tier items as many as 11 questions. Student responses to items are categorized into three scientific knowledge, errors, and misconceptions. The results of the study showed that grade XI students experienced a misconception of 54% and class XII students of 63%. Most students experience misconceptions in the concept of thermal equilibrium. This research needs to be followed up with various efforts to overcome misconceptions in physics learning. Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengomparasikan miskonsepsi siswa SMA dengan jenjang kelas berbeda pada suhu dan kalor. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan subjek siswa kelas XI dan kelas XII sebanyak 68 siswa SMA di wilayah Kediri. Instrumen yang digunakan berupa butir soal two-tier tentang suhu dan kalor sebanyak 11 soal. Respon siswa terhadap butir soal dikategorikan menjadi tiga, yaitu pengetahuan ilmiah, kesalahan, dan miskonsepsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa kelas XI mengalami miskonsepsi sebesar 54% dan siswa kelas XII sebesar 63%. Sebagian besar siswa mengalami miskonsepsi pada konsep kesetimbangan termal. Penelitian ini perlu ditindaklanjuti dengan berbagai upaya untuk mengatasi miskonsepsi dalam pembelajaran fisika. Kata kunci: misconception; temperature and heat; two-tier; miskonsepsi; suhu dan kalor; two-tier Alamat Korespondensi: Silfia Maftuhatun Ni’mah Pendidikan Fisika Universitas Negeri Malang Jalan Semarang 5 Malang E-mail: nikmah_silfia@yahoo.com Suhu dan kalor merupakan materi fisika dimana siswa banyak mengalami kesulitan atau miskonsepsi (Alwan, 2011; Sozbilir, 2003). Miskonsepsi merupakan keadaan yang mengkhawatirkan bagi pembelajaran sains terutama bidang fisika karena sifatnya yang abstrak (Kartal, Öztürk, & Yalvaç, 2011; Alwan, 2011). Salah satu contoh miskonsepsi yang dialami siswa pada materi suhu dan kalor adalah siswa menganggap kalor merupakan suatu zat material, sedangkan para ilmuwan mendefinisikan kalor sebagai proses dinamik transmisi energi (Chiou & Anderson, 2010). Miskonsepsi dalam pembelajaran fisika berkembang pada tingkat yang paling dasar (Kartal et al., 2011) yang berpengaruh terhadap proses pembelajaran siswa sehingga miskonsepsi menjadi masalah yang serius ketika mempelajari konsep ilmiah (Baser, 2006). Oleh karenanya miskonsepsi perlu ditangani dengan baik dan pada waktu yang tepat. Miskonsepsi perlu ditangani dengan benar karena jika tidak maka miskonsepsi akan muncul dalam kerangka konseptual siswa bahkan sampai mereka dewasa (Baser, 2006). Miskonsepsi bisa menjadi masalah ketika mempelajari konsep ilmiah, gagasan siswa yang salah bisa membatasi proses penyaluran pembelajaran (Alwan, 2011). Pemahaman konsep ilmiah yang benar merupakan kunci untuk mempelajari konsep ilmu lainnya. Konsep dianggap sebagai ide, objek, maupun peristiwa yang membantu memahami dunia sekitar (Thompson & Logue, 2006). Bagi pendidik sains sangat penting mengetahui pemahaman konsep siswa, hal itu berguna untuk mengembangkan kurikulum dan metode pengajaran baru (Sozbilir, 2003). Penelitian sebelumnya mengenai identifikasi miskonsepsi siswa pada suhu dan kalor menggunakan tes pilihan ganda beralasan. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar siswa menggunakan konsepsi alternatif mereka dalam materi suhu dan kalor (Alwan, 2011). Sementara penelitian yang dilakukan oleh Kartal menggunakan tes diagnostik yang diberikan kepada mahasiswa menunjukkan bahwa mereka mengalami miskonsepsi pada materi suhu dan kalor (Kartal et al., 2011). Hasilnya mengharuskan mahasiswa untuk mengonfigurasi apa yang telah mereka pelajari sebelumnya dengan cara yang benar dan menjaganya. Penelitian sebelumnya mengenai komparasi miskonsepsi telah dilakukan oleh Rahmawati, Prayitno, & Indrowati (2013), namun penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat miskonsepsi pada materi system ekskresi siswa kelas XI melalui penerapan model pembelajaran kontruktivisme tipe Novick dan pembelajaran konstruktivis-kolaboratif. Tersedia secara online http://journal.um.ac.id/index.php/jptpp/ EISSN: 2502-471X DOAJ-SHERPA/RoMEO-Google Scholar-IPI Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan Volume: 4 Nomor: 5 Bulan Mei Tahun 2019 Halaman: 586592