https://ejournal.forda-mof.org/ejournal-litbang/index.php/GLM Diterima: 21-10-2020 Disetujui: 17-02-2021 p-ISSN 2723-4924 e-ISSN 2723-5084 Artikel DOI: 10.20886/GLM.2021.1.2.79-92 FITOKIMIA TUMBUHAN BERKHASIAT OBAT TRADISIONAL DI KALIMANTAN SELATAN DAN KALIMANTAN TENGAH Phytochemical content of traditional herbal medicines in South and Central Kalimantan Fajar Lestari 1 dan Susy Andriani 1 1 Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Banjarbaru Jl. Ahmad Yani Km 28,7 Guntung Manggis, Landasan Ulin, Banjarbaru-Kalimantan Selatan 70721 Telepon (0511) 4707872 *Email: fajarsembilanbelas@gmail.com ABSTRAK Penggunaan obat dari bahan–bahan alam sudah dimulai sejak zaman nenek moyang dan diwariskan secara turun temurun. Namun, khasiat dari berbagai tumbuhan tersebut belum terbukti secara klinis. Penelitian ini bertujuan mengetahui kandungan fitokimia tumbuhan hutan berkhasiat obat berdasarkan informasi dari masyarakat. Penelitian dilakukan di dua ekosistem, yaitu ekosistem lahan basah di rawa gambut Sungai Rasau, Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah dan lahan kering di lereng Pegunungan Meratus, Desa Peramasan Bawah, Kalimantan Selatan. Pengambilan data tumbuhan di lapangan dilakukan dengan cara membuat jalur transek. Analisis fitokimia secara kualitatif dilakukan di laboratorium Fakultas MIPA Universitas Lambung Mangkurat dengan mengambil spesimen tumbuhan dari beberapa jenis yang biasa digunakan masyarakat setempat sebagai obat sebanyak 100-150 g berat basah dari masing-masing bagian tanaman. Specimen tanaman kemudian diuji kandungan metabolit sekundernya meliputi uji steroid/triterpenoid, kuinon, tanin, flavonoid, saponin, dan alkaloid di laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tumbuhan obat yang dimanfaatkan masyarakat masih tersedia di habitat alaminya. Pada ekosistem lahan kering ditemukan sebanyak 27 jenis tanaman dan 22 jenis di ekosistem rawa gambut yang potensial sebagai obat herbal. Hasil analisis fitokimia diketahui sebagian besar sample tumbuhan terbukti mengandung metabolit sekunder berupa steroid/triterpenoid, kuinon, tanin, flavonoid, saponin dan alkaloid. Kondisi ini menunjukkan bahwa jenis-jenis tanaman tersebut potensial sebagai obat herbal. Namun demikian, jenis-jenis tanaman tersebut masih memerlukan uji lanjut terkait zat aktif tertentu yang berpotensi sebagai biofarmaka. Kata kunci: biofarmaka, gambut, lahan, metabolit ABSTRACT The use of medicine derived from natural ingredients had already begun since ancestors and passed down from generation to generation. However, the properties of those various plants were not clinically been proven. This study aims to find out phytochemical content of medicinal forest plants based on information from the local communities. The study was conducted in two ecosystem types namely wetland ecosystem in peat swamp of Sungai Rasau, Sebangau National Park, Central Kalimantan and dryland ecosystem in Meratus Mountain slope, Peramasan Bawah village, South Kalimantan. Vegetation data in the field was collected by making line transect. Phytochemical analyses qualitatively was done in the Faculty of Math and Natural Science laboratory of Lambung Mangkurat University, while specimen samples were taken from some species that commonly used by the local communities for medicinal purpose as 100 to 150 g of gross weight of each plants. Then the plant specimens were tested for their secondary metabolites comprised steroids/triterpenoids, quinone, tannin, flavonoids, saponins, and alkaloids tests in the laboratory. The research results showed that medicinal plants used by local communities were still available in their natural habitat.