Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (JTIIK) DOI: 10.25126/jtiik.201961264 Vol. 6, No. 2, April 2019, hlm. 129-134 p-ISSN: 2355-7699 Akreditasi KEMENRISTEKDIKTI, No. 30/E/KPT/2018 e-ISSN: 2528-6579 129 PENGEMBANGAN ALAT BANTU KOMUNIKASI PENDERITA PASCASTROKE MENGGUNAKAN FLEX SENSOR DAN ACCELEROMETER Agung W. Setiawan 1 , Lavita N. Rizalputri 2 , Ahmad H. Thias 3 Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, Institut Teknologi Bandung 1,2,3 Email: 1 awsetiawan@stei.itb.ac.id, 2 Lavita.nuraviana@gmail.com, 3 ahmadhabbie@gmail.com (Naskah masuk: 19 November 2018, diterima untuk diterbitkan: 18 Desember 2018) Abstrak Pada tahun 2013, prevelansi penderita stroke di Indonesia sebesar 12,1 % serta merupakan penyebab kematian kedua dan penyebab disabilitas ketiga di dunia. Di Indonesia, angka kontribusi proporsional disability- adjusted life-years (DALYs) dari stroke sekitar 9,7 % dan merupakan penyebab disabilitas nomor satu. Penderita yang mengalami disabilitas akan kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari, terutama berkomunikasi. Oleh karena itu perlu dikembangkan alat bantu komunikasi yang dapat membantu penderita pascastroke berkomunikasi sehari- hari dengan memanfaatkan gerakan telapak tangan. Pada penelitian ini digunakan empat buah flex sensor yang diletakkan pada jari telunjuk, tengah, manis, dan kelingking serta satu sensor 3-axis gyroscope MPU6050. Alat bantu komunikasi untuk penderita pascastroke ini telah berfungsi untuk mendeteksi tujuh gerakan dasar, yaitu: “Ya”, “Tidak”, “Saya mau pergi kesana”, “Jam berapa sekarang?”, “Saya mau makan”, “Saya mau minum”, dan “Halo!”. Ketujuh kata atau kalimat tersebut juga ditampilkan di sebuah display. Pendeteksian ketujuh gerakan ini diperoleh dari tekukan empat jari yang dideteksi menggunakan flex sensor dan posisi tangan di arah 3 sumbu (x, y, dan z) menggunakan gyroscope yang diletakkan pada sebuah sarung tangan. Alat ini diharapkan dapat menjadi awal dalam pengembangan alat bantu komunikasi untuk penderita. Kata kunci: alat bantu komunikasi, penderita pascastroke, deteksi gerakan tangan, komunikasi sehari-hari. DEVELOPMENT OF COMMUNICATION ASSISTIVE DEVICE USING FLEX SENSOR AND ACCELEROMETER FOR POST-STROKE PATIENT Abstract In 2013, prevalence of stroke in Indonesia is 12.1% and the second leading cause of deaths and the third most common cause of disability in the world. In Indonesia, disability-adjusted life-years (DALYs) proportional contribution of stroke is around 9.7% and the first leading cause of disability. Patients with disabilities will have difficulty for performing daily life activities, especially communicating with other people. Therefore, it is necessary to develop communication assistive device that can help post-stroke patients to communicate using their palm. Four flex sensors mounted on the index, middle, ring, and pinky fingers; and one 3-axis gyroscope MPU6050 sensor. This communication asisstive device has fully function to detect seven basic movement for daily life communication, that is: "Yes", "No", "I want to go there", "What time is it?", "I want to eat", "I want to drink" and "Hello!". The seven words / sentences also appear on the viewer screen. The detection of these seven motions is obtained from the four flex sensors and the position of the hand in the 3-axes (x, y, and z) direction from gyroscope that is placed on a glove. This research is a preliminary research in the area of assistive device technology for post-stroke patients. Keywords: communication assistive device, post-stroke patient, palm gesture, daily communication. 1. PENDAHULUAN Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2013, prevelansi penderita stroke di Indonesia sebesar 12,1 %. Hal ini mengalami peningkatan sebesar 3,8 % dibandingkan dengan data Riskesdas tahun 2007 (8,3 %). Pada tahun 2013, stroke merupakan penyebab kematian nomor dua dan merupakan penyebab disabilitas nomor tiga di dunia. Di Indonesia, stroke merupakan penyebab disabilitas nomor satu dengan angka kontribusi proporsional Disability-Adjusted Life-Years (DALYs) dari stroke sekitar 9,7 % dari semua penyebab, dan ini merupakan salah satu yang tertinggi di dunia (Feigin, dkk., 2017). DALYs adalah salah satu cara ukuran terbaik untuk mengukur stroke burden yang digunakan oleh World Health Organization (WHO).