JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 1, No. 1, (Sept. 2012) ISSN: 2301-928X E-48 Abstrak— Panthera tigris sumatrae merupakan subspesies Panthera tigris yang tersisa di Indonesia. Subspesies tersebut terdistribusi hanya di Pulau Sumatera. Status critically endangered menyebabkan Panthera tigris sumatrae dikonservasi secara ex-situ. Maka dari itu, dilakukan program penangkaran di kebun binatang atau suaka marga satwa, salah satunya adalah Kebun Binatang Surabaya. Studi ini bertujuan untuk mengamati perilaku harian dan faktor-faktor yang memengaruhi adaptasi Panthera tigris sumatrae di Kebun Binatang Surabaya, kemudian dibandingkan dengan literatur. Studi menggunakan metode focal animal sampling pada bulan Juni 2012. Metode penelitian ini adalah metode observasi yang dilakukan pada empat individu harimau Sumatera di KBS. Adapun pengamatan yang dilakukan adalah perilaku makan, istirahat, sosial dan lain-lain. Hasil yang didapatkan pada penelitian mengenai perilaku harian empat harimau Sumatera pada habitat ex-situ di KBS yaitu rata-rata perilaku istirahat 74,9%, perilaku sosial 2,86%, perilaku makan 1,5% dan perilaku lain-lain 20,74 %. Secara umum perilaku harian harimau Sumatera di habitat ex-situ KBS punya kesamaan dengan habitat insitu. Baik dalam hal lama waktu aktivitas, cara, serta perilaku harimau Sumatera pada tiap-tiap aktivitas. Kata Kunci— Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), perilaku harian, Kebun Binatang Surabaya. I. PENDAHULUAN NDONESIA pernah memiliki tiga dari delapan subspesies harimau yang ada di dunia, namun dua diantaranya, yaitu harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) dan harimau Bali (Panthera tigrisbalica) telah dinyatakan punah, masing-masing pada tahun 1940-an dan 1980-an [1] .Saat ini hanya sub spesies harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae)yang tersisa dan hidup pada habitat yang terfragmentasi dan terisolasi satu dengan lainnya[2] Jumlahnya di Sumatera hanya tinggal 450- 600 ekor saja. Telah tejadi penurunan populasi akibat perburuan liar, kerusakan habitat yang disengaja (pembukaan hutan dan perladangan berpindah) maupun bencana alam (kebakaran hutan) dan pengurangan luas habitatnya [3]. Penelitian ini merupakan studi awal mengenai observasi perilaku harian harimau Sumatera dewasa di kandang tertutup Kebun Binatang Surabaya. Kebun Binatang adalah suatu tempat atau wadah yang mempunyai fungsi utama sebagai lembaga konservasi yang melakukan upaya perawatan dan pengembangbiakan berbagai jenis satwa berdasarkan etika dan kaidah kesejahteraan satwa dalam rangka membentuk dan mengembangkan habitat baru, sebagai sarana perlindungan dan pelestarian jenis melalui kegiatan penyelamatan, rehabilitasi dan reintroduksi alam dan dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan, penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta sarana rekreasi yang sehat. Habitat alami harimau Sumatera adalah di alam bebas, sepanjang tersedia cukup mangsa dan sumber air, serta terhindar dari berbagai ancaman potensial. Di habitat aslinya, harimau Sumatera terdapat di hutan hujan dataran rendah hingga pegunungan, dengan ketinggian antara 0 – 3.000 meter di atas permukaan laut. [1][4]. Harimau Sumatera memerlukan tiga kebutuhan dasar yaitu ketersediaan hewan mangsa yang cukup, sumber air [5], dan tutupan vegetasi yang rapat untuk tempat menyergap mangsa. Harimau merupakan satwa yang soliter, jarang dijumpai berpasangan, kecuali pada harimau betina beserta anak-anaknya. Harimau dapat berkomunikasi melalui bau -bauan dan suara. Harimau mempunyai indra penciuman yang kuat dan seringkali meninggalkan tanda berupa urin dengan bau yang khas. Tanda tersebut berfungsi sebagai penanda jalan, penanda wilayah kekuasaan atau sebagai alat komunikasi informasi yang lebih spesifik seperti identitas individu, periode waktu individu harimau lewat pada areal tertentu, dan penanda estrus pada harimau betina [6]. II. METODOLOGI Penelitian ini dilakukan di Kebun Binatang Surabaya pada bulan Juni 2012. Penelitian yang dilakukan adalah mengamati perilaku harian antar harimau Sumatera yang ada di Kebun Binatang Surabaya dan dibandingkan dengan literatur perilaku harimau Sumatera di habitat alaminya sebagai data sekunder. Perilaku hewan selama penelitian dicatat menggunakan metode Animal Focal [7]. Metode yang digunakan adalah modifikasi focal time sampling yaitu metode pengambilan data pengamatan perilaku yang menggunakan empat ekor individu satwa yang terdiri dari satu ekor jantan dan tiga ekor betina sebagai obyek pengamatan dan menggunakan teknik pencatatan perilaku satwa tersebut pada interval waktu tertentu. Objek yang diamati adalah individu-individu harimau Sumatera, yang terdiri dari satu ekor jantan dan tiga ekor betina di Kebun Binatang Surabaya. Pengamatan Perilaku yang diamati mengacu pada penelitian [7]. Pengumpulan data dalam penelitian ini di fokuskan pada empat individu harimau Perilaku Harian Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) dalam konservasi ex-situ Kebun Binatang Surabaya Ari Ganesa dan Aunurohim Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 E-mail: aunurohim@bio.its.ac.id I