46 MAKNA PENGGAMBARAN "MUKA BINATANG" DAN “MUKA MANUSIA” PADA MASA PRASEJARAH DI INDONESIA: KAJIAN ARKEOLOGI POST PROSESSESUAL- PERSPEKTIF STRUKTURALISME "CLAUDE LÉVI-STRAUSS" Blasius Suprapta Jurusan Sejarah, Universitas Negeri Malang Abstrak: Makna penggambaran "muka binatang" dan “muka manusia” dalam kehidupan Prasejarah Indonesia selalu berhubungan dengan masalah religi, khu- susnya bertumpu masalah upacara kematian. Dalam alam pikiran abstrak nirsadar hal ini berhubungan dengan konsepsi pemujaan roh nenek-moyang. Dalam tata- ran alam pikiran abstrak sadar berbentuk atau mewujud dalam kreatifitas atau perilaku tata cara upacara penguburan mayat. Dalam tataran alam pikiran abstrak, berupa atau mewujud menjadi berbagai bentuk fisik artefak hiasan muka bi- natang atau muka manusia. Dengan demikian maknanya merupakan simbol- simbol yang berhubungan dengan si mati yang telah berada di alam kematian. Inilah hasil kajian tentang makna penggambaran "muka bintang" dan “muka manusia” dalam kehidupan masyarakat Prasejarah Indonesia berdasarkan para- digma Arkeologi Post-Prossesual perspektif Strukturalisme Claude Lévi-Strauss. Kata-kata kunci: "muka binatang", “muka manusia”, Arkeologi Post- Prossesual, Strukturalisme Lévi - Strauss Abstract: The meaning of "animal face" and the “human face” description in the life of Indonesian prehistory is related to religious issues, especially on the issue of death. In the unconscious mind , this is related to the conception of ancestor spirit worship, In the level of nature, the conscious mind is shaped or embodied in the creativity or behavior of the burial ceremony. In the level of abstract form or manifest becomes various forms of physical artifacts or animal face or human face. Thus the meaning is the symbols associated with the dead who has been in the realm of death. This is the result of the study of the meaning of "animal face" and “human face” in the life of Indonesian Prehistoric society based on the par- adigm of Post-Prossesual archaeology and Structuralism of Claude Lévi-Strauss perspective. Keywords: "animal face", “human face”, Post-Processual Archaeology, Structuralism Lévi Strauss Bila berbicara tentang Prasejarah Indone- sia, tentu saja kita dihadapkan sebuah per- tanyaan tentang bagaimanakah konsepsi pembabakan Prasejarah Indonesia disusun serta direkonstruksi? Sebagaimana telah kita sepakati bersama bahwa Pembabakan Prasejarah Indonesia disusun berdasarkan konsep sosial-ekonomi yang berbasis pada paradigma bahwa kebudayaan adalah ber- makna tradisi atau mempunyai keberlanju- tan dari waktu ke waktu (Soejono 2000: 8- 10, 12-16). Sehubungan dengan hal itu, maka Pembabakan Prasejarah Indonesia oleh Soejono disusun sebagai berikut: (1) Masa Berburu dan Mengumpul Makanan Tingkat Sederhana dengan basis ke- budayaan yakni tradisi paleolitik, (2) Masa Berburu dan Mengumpul Makanan Ting- kat Lanjut dengan basis kebudayaan yaitu tradisi mesolitik, (3) Masa Bercocok Tanam dengan basis kebudayaan yaitu tradisi neolitik (4) Masa Perundagian dengan basis kebudayaan disebut dengan teknologi paleometalik atau seni tuang