JURNAL TEKNIK ITS Vol. 5, No. 2, (2016) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) F-279 Abstrak— Kebutuhan manusia terhadap air minum yang layak konsumsi semakin lama semakin berkembang sebanding dengan perkembangan penduduk yang kian lama kian meningkat. Untuk dapat memenuhi kebutuhan air minum sehari-hari, banyak industri yang membuka usaha air minum diantaranya adalah adanya depot air minum isi ulang (DAMIU). Pemilihan depot air minum isi ulang sebagai alternatif air minum menjadi risiko yang dapat membahayakan kesehatan jika kualitas depot air minum isi ulang masih diragukan. Penilitian ini menggunakan metode FMEA (Failure Mode and Effect Analysis) untuk mencari prioritas terjadinya kegagalan dalam proses pengolahan air minum isi ulang. Risiko-risiko yang didapat harus memiliki nilai agar terukur sehingga ditemukan prioritas penanganan dan dicari upaya untuk perbaikan. Penilaian tersebut dikenal dengan nilai RPN (Risk Priority Number) yaitu hasil pengalian dari tingkat keparahan (severity), frekuensi kejadian (occurrence) dan tingkat deteksi (detection). Berdasarkan hasil analisa dan identifikasi menggunakan metode FMEA diketahui bahwa kegagalan yang terjadi pada sistem UV dengan 3 prioritas tertinggi yaitu penggunaan UV dengan nilai RPN 100, waktu kontak UV dengan nilai RPN 100 dan penggantian filter awal dengan nilai RPN 64. Pada sistem UV dan ozon, 3 prioritas tertinggi yaitu waktu kontak sistem ozon, waktu kontak UV dan penggunaan UV dengan masing-masing nilai RPN yaitu 100. Sedangkan pada sistem UV, ozon dan RO (Reverse Osmosis) 3 prioritas tertinggi sama seperti dengan sistem UV dan ozon dengan nilai RPN yang berbeda yaitu lama pengoperasian dengan nilai 100, waktu kontak dan kesesuaian penggunaan UV dengan nilai 64. Kata Kunci— Air Minum, Analisa Kegagalan, Depot Air Minum, FMEA. I. PENDAHULUAN ASYARAKAT pada saat ini sulit mendapatkan air bersih dikarenakan banyak tercemarnya sumber air tanah akibat rendahnya kemampuan tanah untuk menyerap air karena perubahan tata guna tanah yang tidak terkendali sebagai dampak dari kepadatan penduduk [1]. Untuk dapat memenuhi kebutuhan air minum sehari-hari, banyak industri yang membuka usaha air minum dalam kemasan (AMDK), namun harga AMDK yang relatif mahal menyebabkan tidak dapat dikonsumsi oleh setiap kalangan. Alternatif lain dalam pemenuhan kebutuhan air minum adalah adanya air minum isi ulang (AMIU) yang diproduksi oleh depot air minum isi ulang (DAMIU). Pemilihan depot air minum isi ulang sebagai alternatif air minum menjadi risiko yang dapat membahayakan kesehatan jika kualitas depot air minum isi ulang masih diragukan terutama depot air minum isi ulang berskala kecil, terlebih jika konsumen tidak memperhatikan keamanan dan kehigienisannya [2]. Di Kecamatan Sukolilo Surabaya terdapat ± 23 depot air minum isi ulang, dimana dari 10 depot yang dilakukan sampling terdapat 4 depot yang belum memenuhi parameter total koliform [3]. Produk air minum yang dijual kepada konsumen sudah seharusnya layak konsumsi yaitu bersih, sehat, dan memenuhi standar baku mutu kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah yaitu Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 492/Menkes/IV/2010 Tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Menurut penelitian terdahulu, sering ditemukan parameter biologis yang masih belum memenuhi baku mutu yaitu tingginya nilai total koliform. Semakin tinggi tingkat kontaminasi bakteri koliform, semakin tinggi pula risiko kehadiran bakteri-bakteri patogen lain yang biasa hidup dalam kotoran manusia dan hewan. Meninjau permasalahan tersebut maka perlu diketahui hal apa saja yang menjadi penyebab sehingga masih tedapat depot air minum isi ulang yang belum memenuhi baku mutu. Salah satu metode analisa kegagalan yang dapat digunakalan adalah menggunakan metode FMEA (Failure Mode and Effect Analysis). II. METODE PENELITIAN Metode penelitian digunakan sebagai acuan dalam melakukan penelitian. Penelitian ini mengenai bagaimana cara mengetahui risiko kegagalan terhadap kualitas air minum hasil produksi depot air minum. A. Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan sebagai acuan yang akan digunakan dalam melakukan analisis. Pengumpulan data dilakukan dengan cara melakukan survei langsung dengan mencocokan data depot minum air isi ulang dari Dinas Kesehatan dengan kondisi lapangan sehingga didapatkan jumlah depot air minum isi ulang. Selanjutnya untuk pemilihan tempat dari keseluruhan tempat depot yang ada kemudian diolah dengan menggunakan metode Cluster Sampling dan Sistematis Sampling. Pengumpulan data juga dilakukan dengan wawancara dan pengisian kuisioner singkat. Kuisioner yang diisi berisikan poin-poin untuk Risiko Kegagalan pada Kualitas Produksi Air Minum Isi Ulang di Kecamatan Sukolilo Surabaya Menggunakan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) Egy Asri Yassin Utami, Atiek Moesriati, dan Nieke Karnaningroem Jurusan Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia e-mail: atiek@enviro.its.ac.id, nieke@enviro.its.ac.id M