Zoea Syndrome (ZS) pada Larva Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) Rubiyanto Widodo Haliman 1) , Tommy Hemawan 1) , Lilik Wirastiani 2) , Dicky Prania Al Amurullah 2) , Muhammad Murdjani 3) , Yani Lestari Nur’aini 3) , dan Gemi Triastutik 3) 1 PT. Tirtamutiara Makmur Kotak Pos 14, Besuki-Situbondo 68356; 2 Akademi Perikanan Kotak Pos 1, Sedati, Sidoarjo; 3 Balai Budidaya Air Payau Kotak Pos 5, Panarukan Situbondo 68351 Diterima Mei 2004 disetujui untuk diterbitkan Januari 2005 Abstract White shrimp (Litopenaeus vannamei) culture in Indonesia has been well developed since 1999. Among the problems occurred during the culture period in the hatchery, Zoea Syndrome (ZS) is the most serious. An observation has been done to determine the prevalence and the clinical signs of this syndrome. Nauplii were collected from hatcheries in East Java (3 hatcheries) and Central Java (1 hatchery) and subject to PCR test in order to obtain TSV free nauplii. The results showed that TSV free nauplii could also be infected by ZS, where the prevalence could reach 100%. There was also a possibility that Vibrio sp. was involved in ZS infection. Key words: zoea syndrome, larvae, Litopenaeus vannamei Pendahuluan Udang vannamei (Litopenaeus vannamei) merupakan udang introduksi (Haliman, 2003) dari perairan Amerika Latin (Elovaara, 2001). Udang ini mulai dibudidayakan di Indonesia sejak tahun 1999 dan mendapat sambutan yang antusias dari masyarakat pembudidaya udang di Indonesia, sebagai salah satu spesies alternatif pengganti udang windu (Penaeus monodon). Beberapa keunggulan udang vannamei adalah kemampuannya untuk dibudidayakan dengan padat penebaran yang tinggi, memanfaatkan pakan dengan efisien sehingga nilai nisbah konversi pakannya relatif rendah, dan masa pemeliharaan yang lebih singkat dibandingkan dengan udang windu (Haliman, 2003). Sungguhpun demikian budidaya udang vannamei bukanlah tanpa permasalahan. Salah satu masalah serius yang kerap terjadi di pembenihan udang vannamei adalah kasus Zoea Syndrome (ZS). Hingga kini belum banyak penjelasan yang tersedia tentang status penyakit ZS (Elovaara, 2001), selain disebutkan bahwa terjadi kematian masal pada stadia zoea larva udang vannamei, yang ditandai pula dengan kosongnya saluran pencernaan larva. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan gejala klinis ZS yang menginfeksi larva udang vannamei. Bahan dan Metode Nauplius vannamei diperoleh dari pembenihan udang vannamei yang berada di pesisir utara Jawa Timur (3 perusahaan pembenihan) dan Jawa Tengah (1 perusahaan). Sebelum dimasukkan ke dalam bak pemeliharaan larva, dilakukan seleksi nauplius dengan metoda PCR dua tahap (Nested PCR Test) menurut sistem IQ2000 TM (Farming IntelliGene Technology Corp., Taipei, Taiwan) untuk mendapatkan nauplius bebas Taura Syndrome Virus (TSV). Dari setiap kelompok nauplius diambil 150 ekor nauplius, dimasukkan ke dalam tabung mikro ukuran 2 ml yang berisi 500 l larutan RNA Extraction Solution (Farming IntelliGene), dihancurkan dengan sumpit bambu, kemudian didiamkan selama 5 menit pada suhu ruang. Setelah itu ditambahkan 100 l larutan CHCl 3 (Merck) dan dilakukan pengadukan dengan bantuan vortex mixer selama 20 detik, didiamkan pada suhu ruang