KAJIAN GAYA HIAS SINGABARONG DAN PAKSI NAGA LIMAN DALAM ESTETIKA HIBRIDITAS KERETA KESULTANAN CIREBON Study of Ornament Style in the Aesthetic of Visual Hybridity Singabarong and Paksi Naga liman Royal Carriages Nina Sofyawati Program Studi Magister Desain, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung nina.sofyawati@gmail.com ABSTRAK Kereta Kencana Singabarong dan Paksi Naga Liman merupakan hasil produksi kebudayaan yang dibuat oleh individu/ sekelompok masyarakat sebagai refeksi dari adanya gagasan dan tindakan yang dihasilkan di tempat dan periode tertentu. Perupaan kereta kencana tersebut dalam bentuk makhluk hibriditas merefeksikan lingkungan kosmos dan simbol akulturasi budaya yang menghiasi perkembangan kebudayaan dan seni hias di wilayah Cirebon. Kedua karya seni ini memiliki asal usul mirip, termasuk adanya kesinambungan tradisi seni hias yang serupa. Akan tetapi, kedua kereta kencana ini menampilkan perbedaan dalam hal ekspresi gaya ragam hias. Penelitian ini juga melihat gejala peristiwa, kondisi, maupun situasi dalam periodisasi ketika karya seni itu diproduksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui elemen bentuk apa saja yang berubah dan menjadi kekhasan dalam menampilkan ekspresi gaya di antara kedua visualisasi kereta tersebut; mengetahui motivasi, spirit, dan tren yang melatarbelakanginya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif historis dengan pendekatan teori estetika morfologi dan kebudayaan sebagai pendukung. Temuan yang diperoleh berupa karya seni yang terlihat sangat bersifat feodal. Kedua Kereta Kencana Paksi Naga Liman cenderung memiliki pengaruh gaya Hindu, sedangkan Singabarong didominasi oleh pengaruh Cina. Ketiga, spirit, zaman, dan tren dipengaruhi oleh peristiwa yang terjadi serta pengaruh gaya kepemimpinan sultan dalam konsep Tri-Tangtu dan keempat perupaannya banyak dipengaruhi unsur dan atribut-atribut wayang. Kata kunci: gaya, ragam hias, singabarong, paksi naga liman, hibriditas ABSTRACT Singabarong and Paksi Naga Liman are the result of cultural product who created by individual/ social group in the certain places and period as a refection of their idea and activities. The visual of these hybrid creatures representing a cosmos system and symbols of cultural acculturation that adorn their culture and history of ornamental traditions. As a work of art that have similar origins, but in fact these two carriages actually show the di ferent style. So, this study related to fnd the occurrence, conditions, and situations in the periodization when the art was produced. The aim of this research is to fnd what a changed of element’s form and characteristic that can show a di ferent style in that visual carriages, as well know the motivation, trend, and spirit. To solve these problems and produce a accurate data, so than this research use a historical qualitative methods with a theoretical aesthetics morphology and cultural approach. The result of this research are, frst that artwork looks very a feudal’s art. Secondly, Paksi Naga Liman showed a Hinduism style, while Singabarong is dominated by Chinese style. Thirdly, about spirit, epoch, and trend is infuenced by the event/ phenomenon and the infuence of leadership style of sultan in Tri-Tangtu concept, fourthly their form much infuenced by the elements and attributes’s wayang. Keywords :style, ornament, singabarong, paksi naga liman, hybridity PENDAHULUAN Dari sekian banyak produksi kebudayaan peninggalan Kesultanan Cirebon dalam bentuk fsik (tangible), artefak Kereta Kencana Singabarong Keraton Kasepuhan dan Paksi Naga Liman Keraton Kanoman merupakan artefak yang hingga kini menyita perhatian publik dan terus-menerus menjadi bahan penelitian dari berbagai aspek. Kereta kencana merupakan alat transportasi yang biasa digunakan oleh raja untuk mendukung segala aktivitas sehari-hari. Kereta kencana merupakan kendaraan ketika seorang raja/sultan hendak mengelilingi wilayah kekuasaannya atau menghadiri acara-acara kebesaran kerajaan. Terlepas dari segi fungsional sebagai kereta pusaka, kendaraan ini memiliki nilai-nilai simbolik. Hampir semua benda yang berasal dan tersimpan di keraton, selain memperlihatkan nilai artistik dan fungsional sebagai suatu produk seni-budaya, benda tersebut juga tak bisa lepas dari nilai-nilai simbolik religio-magis (Yudoseputro, 2008:99). 304