MONSU’ANI TANO Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3, No. 1, Bulan April, 2020. ISSN: 2620-4347 (Print), ISSN: 2615-5737(Online) PEMBINAAN KELOMPOK REMAJA MELALUI EDUKASI & PEER EDUCATORS KESEHATAN REPRODUKSI DI DESA TANJUNG REJO Agnes Purba 1* , Eva Kartika 2 , Dewi R Bancin 3 1,3 Program Studi Pendidikan Profesi Bidan Universitas Sari Mutiara Indonesia 2 Program Studi Pendidikan Profesi Ners Universitas Sari Mutiara Indonesia * Email : agnespurba260582@gmail.com Article History: Received : 13 Maret 2020 Revised : 17 April 2020 Accepted : 19 April 2020 Abstrak : Remaja mempunyai permasalahan yang sangat kompleks seiring dengan masa transisi yang dialaminya. Masalah yang menonjol di masa remaja yaitu permasalahan seksualitas, HIV dan AIDS, Napza, rendahnya pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi dan usia pernikahan yang relatif masih muda. Permasalahan ini muncul sebagai konsekuensi dari rendahnya pendidikan, lingkungan sosial yang tidak baik serta pendidikan seks yang tidak diinformasikan oleh orang terdekat. Pemberian edukasi dan pembentukan peer educator dilakukan sebagai wadah bagi remaja untuk memperoleh lingkungan sosial yang baik mengingat bahwa secara psikologis remaja suka berkumpul dengan teman sebaya. Selain itu kegiatan ini dapat meningkatkan pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi/pendidikan seks dini bagi remaja, pergaulan bebas dan kenakalan remaja. Keywords : edukasi, peer educator, kesehatan reproduksi Pendahuluan Remaja tidak terlepas dari permasalahan, hal ini terkait dengan masa transisi yang dialami. Masalah yang menonjol dikalangan remaja yaitu seputar seksualitas, PMS, HIV dan AIDS, Napza, rendahnya pemahaman tentang kesehatan reproduksi dan usia menikah muda yaitu 19.8 tahun (BKKBN, 2012). Naibaho (2016) menjelaskan di Desa Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang terdapat 3 informan yang menikah usia muda karena sudah hamil terlebih dahulu (saat pacaran). Faktor yang menyebabkan menikah usia muda adalah kemauan sendiri, tingkat pendidikan rendah karena ekonomi yang pas-pasan serta anggapan bahwa anak perempuan tidak perlu sekolah tinggi. Hasil penelitian Puslitbang tersebut menyatakan bahwa hampir separuh (47.9%) remaja perempuan tidak mengetahui kapan seorang perempuan memiliki hari atau masa suburnya. Badan Narkotika Nasional (BNN) mengemukakan bahwa, kelompok pengguna narkotika di Sumatera Utara sangat mengkhawatirkan. Tahun 2016 jumlah pecandu narkotika