80 Gondang: Jurnal Seni dan Budaya, 4 (1) (2020): 80-82. DOI: https://doi.org/10.24114/gondang.v4i1.18011 Gondang: Jurnal Seni dan Budaya Available online http://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/GDG Tinjauan Buku: Suyadi San. Semiotika Teater Bangsawan. Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2018. ix+148 halaman. ISBN: 602- 258-496-5 Alan Darmawan Universität Hamburg, Jerman Diterima: 06 Mei 2020; Disetujui: 25 Mei 2020; Dipublish: 11 Juni 2020 How to Cite: Darmawan, A., (2020). Suyadi San. Semiotika Teater Bangsawan. Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2018. ix+148 halaman. ISBN: 602-258-496-5. Gondang: Jurnal Seni dan Budaya, 4 (1) (2000): 80- 82. *Corresponding author: E-mail:alan.darmawan@uni-hamburg.studium.de ISSN 2549-1660 (Print) ISSN 2550-1305 (Online) Buku ini menyajikan hasil dari upaya akademik dan praktik dalam meneliti dan mementaskan Teater Bangsawan (h.3). Sebagai peneliti sastra dan penggiat teater, Suyadi San menyatakan bahwa usaha ini menjadi “awal dimulainya mempertahankan“ dan meneruskan “warisan budaya abad ke-sembilan belas“ tersebut (h.131,137). Semiotika Teater Bangsawan mendeskripsikan isi dan bentuk Teater Bangsawan, yang Suyadi San klaim sebagai icon Sumatra Utara, untuk mengenalkan warisan budaya ini kepada generasi muda. Ikon artistik bukan khas Sumatra Utara. Gambaran umum di Indonesia menunjukkan bahwa upaya membuat icon ini berjalan seiring dengan pemajukan identitas budaya daerah. Ini berbeda dengan masa Orde Baru dimana negara mendefinisikan identitas etnik dan daerah. Indonesia pasca Reformasi memberi otonomi kepada satuan administratif di tingkat daerah dalam politik, keuangan, dan pembangunan. Di bidang sosial dan kebudayaan, terbuka ruang bagi ekspresi perasaan kedaerahan dan jati diri budaya lokal. Daerah provinsi dan kabupaten pun membuat ikon artistik yang dianggap mewakili ciri lokalitasnya. Sebagian besar dari proses ini adalah penemuan ulang tradisi untuk disajikan dalam konteks, cita- cita, dan orientasi lokal di masa kini. Di beberapa daerah di Sumatra, pemajuan ikon artistik turut memicu produksi dan promosi kesenian, seperti Tari Saman di Aceh, Tari Zapin di Riau, Teater Dulmuluk di Sumatra Selatan, dan Teater Mak Yong dan Bangsawan di Kepulauan Riau. Dalam usaha mencari bahan produksi kesenian kelompok binaannya, ‘Teater Generasi‘ di Medan, Suyadi San menelusuri tradisi dan meneliti Teater Bangsawan. Ia menerapkan teori semiotika untuk mengkaji teater ini. Semiotika berarti doktrin formal tentang tanda, atau studi tentang “segala sesuatu yang dianggap tanda“ (h. 6). Semiotika Teater Bangsawan merujuk pada teori dari Charles Morris untuk melihat Teater Bangsawan dari pendekatan semiotika yang fokus pada tiga aspek: ‘sintaksis‘ yang melihat hubungan