Jurnal Budidaya Pertanian Vol. 16(1): 77-87 Th. 2020 ISSN: 1858-4322 (Print) ISSN: 2620-892X (On line) Terakreditasi RISTEKDIKTI Peringkat SINTA 3, SK. 85/M/KPT/2020 Versi online: http://ojs3.unpatti.ac.id//index.php/bdp DOI: 10.30598/jbdp.2020.16.1.77 77 Teknik Penggunaan Ajir pada Beberapa Varietas Ubi Jalar (Ipomoea batatas L.) di Dataran Tinggi Papua The Using Technique of Stake Angle for Several Sweet Potato (Ipomoea batatas L.) Varieties in the Papua Highlands Alberth Soplanit 1* , Merlin K. Rumbarar 1 , Siska Tirajoh 1 , Nur E. Suminarti 2 1 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Papua, Jl. Yahim No.49, Dobonsolo-Sentani, Jayapura, Papua 2 Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang, Jl. Veteran, Lowokwaru-Kota Malang, Indonesia *E-mail Penulis Korespondensi: asoplanit@yahoo.co.id Tanggal submisi: 12 Maret 2020; Tanggal penerimaan: 24 Juni 2020 ABSTRACT This study aimed to obtain high efficiency in the use of solar radiation energy by combining varieties and stake angle (against horizontal) in sweet potato cultivation in the Papua highlands. The experiment was conducted on entisol soil type at 1560 m above sea level from April to September 2016. The environment experiment was arranged in a factorial Randomized Block Design with three replications. Factor A (variety) consisted of three varieties, i.e. Siate (local), Papua Sollosa, and Cangkuang; factor B (stake angle) consisted of four angles i.e. without stakes, 45°, 60°, and 90°. Specific Leaf Area decreased following an increase in stake angle levels for all varieties. The experiment reveals that Cangkuang with a 90° stake angle was higher on tuber dry weight (248.7 g per plant). The highest tuber yields were achieved by Cangkuang variety at 90° and 60° stakes angle with production 31.53 ton per ha and 28.86 ton per ha, respectively. Under conditions of abiotic stress due to the high level of cloud shade in the Papua highlands, it is recommended to use Cangkuang sweet potato variety or varieties with wide leaves, combined with the use of stakes at 90° and 60° angles. Keywords: stake, solar radiation energy, sweet potato variety, Papua highland ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan efisiensi penggunaan energi radiasi matahari yang tinggi dengan mengkombinasikan varietas dan kemiringan (sudut terhadap horizontal) ajir pada budidaya tanaman ubi jalar di dataran tinggi Papua. Penelitian berlangsung pada tanah entisol, ketinggian 1560 m di atas permukaan laut dari bulan April - September 2016. Rancangan lingkungan adalah faktorial yang disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dengan tiga ulangan. Faktor A (varietas) terdiri dari tiga varietas, yakni Siate (lokal), Papua Sollosa dan Cangkuang; faktor B (sudut kemiringan ajir) terdiri dari empat sudut yakni tanpa ajir, kemiringan ajir 45°, 60°, dan 90°. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas daun spesifik (LDS) menurun mengikuti peningkatan kemiringan ajir pada semua varietas, dengan bobot kering umbi tertinggi 248,7 g per tanaman dihasilkan oleh varietas Cangkuang pada kemiringan ajir 90°. Hasil umbi tertinggi secara berturut-turut diperoleh oleh varietas Cangkuang pada kemiringan ajir 90° dan 60° masing- masing 31,53 ton per ha dan 28,86 ton per ha. Pada kondisi cekaman abiotik akibat tingkat keawanan tinggi di dataran tinggi Papua, dianjurkan untuk menanam varietas ubi jalar Cangkuang atau varietas dengan karakter berdaun lebar dikombinasikan dengan penggunaan ajir dengan kemiringan 90° dan 60°. Kata kunci: Ajir, energi radiasi matahari, varietas ubi jalar, dataran tinggi Papua PENDAHULUAN Tanaman ubi jalar atau dikenal dengan sebutan hipere oleh suku Dani yang bermukim di lembah Baliem dataran tinggi Papua, merupakan tanaman penting karena selain sebagai sumber pangan utama bagi masyarakat setempat tapi juga sebagai sumber pakan ternak babi, dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sistem sosial budaya mereka. Karena manusia, ubi jalar dan ternak babi memiliki ketergantungan antara satu dengan lainnya, yang dapat digambarkan sebagai hubungan segitiga dimana ubi jalar memegang peranan penting sebagai sentral sehingga masyarakat setempat menyebutnya sebagai