Sri Hapsari SP, Ani Margawati, SA. Nugraheni Jurnal Gizi Indonesia (ISSN : 1858-4942) 26 Peran modul mp-asi dalam perilaku pemberian mp-asi pada ibu anak bawah dua tahun (baduta) Sri Hapsari SP 1 , Ani Margawati 2 , SA. Nugraheni 3 ABSTRACT Background : Lack of complementary feeding behavior is one of the problems in Indonesia. Nutrition education about complementary feeding among mother from infants aged 6-24 months should be carried out to support compelementary feeding behavior. Module with an easily language punctuated by images and can be learned at home is expected to incerase complementary feeding behavior among mothers from child under two years old. Method : The design of this research was quasi-experimental with non-randomized pre-test and post-test control group design. Training of complementary feedings module were given for four meetings. The annalyze were conducted by SPSS program. Result : This study found that the median age of subjects between two group are adults. The median duration of education are 9 years. There was no difference of Financial families outcome in the both of groups is low. Nutrition education with module can increase complementary feeding behavior at intervention group and the improvement of this scores better than control group. Complementary feeding behavior retention increased significant among 2 weeks and 1 month after intervention. Conclusion : Nutrition education with module contribute to improve complementary feeding behavior among mothers from child under two years old. Key words : nutrition education, complementary feeding behavior, complementary feedings modul ABSTRAK Latar Belakang : Perilaku pemberian MP-ASI yang salah masih menjadi salah satu masalah di Indonesia. Pendidikan gizi mengenai pemberian MP-ASI yang benar pada ibu bayi usia 6-24 bulan perlu dilakukan guna mendukung pemberian MP-ASI. Pendidikan gizi menggunakan modul dengan bahasa yang diperjelas dengan gambar dan bisa dipelajari di rumah diharapkan dapat meningkatan perilaku pemberian pada ibu anak baduta. Metode : Rancangan penelitian ini adalah Quasi Experiment with non randomized pre post-test control group design. Subjek diambil secara purposive sampling, dengan jumlah subjek adalah 24 ibu untuk setiap kelompok. Pelatihan modul MP-ASI diberikan dalam 4 kali pertemuan. Analisis statistik yang digunakan adalah Independent Samples T-Test, Mann Whitney, Paired T Test dan Wilcoxon. Hasil : Penelitian ini menemukan bahwa nilai tengah usia subjek pada kedua kelompok termasuk golongan usia dewasa. Nilai tengah pendidikan subjek pada kelompok perlakuan maupun kelompok kontrol sama yaitu 9 tahun. Pengeluaran perkapita keluarga pada kelompok perlakuan maupun kontrol tergolong rendah. Pendidikan gizi menggunakan modul MP-ASI berperan dalam meningkatkan perilaku pemberian MP-ASI pada ibu kelompok perlakuan, dan perubahan skornya lebih tinggi dibanding kelompok kontrol. Retensi perilaku mengalami peningkatan bermakna pada 2 minggu dan 1 bulan setelah perlakuan. Simpulan : Pendidikan gizi menggunakan modul MP-ASI berperan dalam meningkatkan perilaku pemberian MP-ASI pada ibu anak baduta. PENDAHULUAN Pemberian air susu ibu (ASI) saja tanpa tambahan makanan atau minuman lainnya perlu dilakukan kepada bayi sejak lahir sampai berusia 6 bulan setelah itu bayi perlu diberi makanan pendamping ASI (MP- ASI). 1 Pemberian ASI dan MP-ASI yang benar pada usia bayi dapat menurunkan angka kematian bayi sampai 19% dan mencegah terjadinya masalah gizi terutama di negara berkembang. 2 Pemberian MP-ASI yang salah akan berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak dengan terjadinya penyimpangan pertambahan berat badan yang cenderung menurun. 3 Studi multisenter tentang MP-ASI menunjukkan bahwa MP-ASI yang diberikan pada anak baduta masih dibawah AKG, terutama masalah rendahnya mikronutrien pada MP-ASI tradisional yang hanya memenuhi 20% AKG. 4 Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2010 juga menunjukkan bahwa terdapat 34,7% anak usia 6 11 bulan dan 30,4% anak usia 12 23 bulan yang berstatus gizi kurus, sangat kurus dan lebih. Angka tersebut lebih tinggi dibanding status gizi kurus, sangat kurus, dan lebih pada usia kurang dari 6 bulan maupun usia setelah 23 bulan. 5 1. Program Studi Ilmu Gizi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Widya Cipta Husada, Malang (email korespondensi: sri.hapsari11@gmail.com) 2. Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang 3. Prodi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, Semarang