Jurnal Komunikasi Malaysian Journal of Communication Jilid 34(2) 2018: 293-308 E-ISSN: 2289-1528 https://doi.org/10.17576/JKMJC-2018-3402-18 Fiksimini Berbahasa Sunda dalam Media Sosial DIAN INDIRA TEDDI MUHTADIN T. FATIMAH DJAJASUDARMA Universitas Padjadjaran, Indonesia ABSTRAK Dipandang dari sudut pandang media sosial, globalisasi merupakan alternatif kepada kemunculan bahasa-bahasa kecil ke dalam ranah global. Di samping itu, media sosial menjadi alternatif kepada keterbatasan media konvensional. Ini terbukti dengan kemunculan kumpulan-kumpulan bahasa Sunda di media sosial seperti Facebook dan Twitter yang boleh diakses oleh semua orang tanpa mengetahui sempadan negara. Satu kumpulan dalam media sosial iaitu kumpulan Fiksmimini Bahasa Sunda (FBS) pada laman Facebook yang lahir pada 16 September 2011. Kumpulan ini dianggotai oleh lebih dari 10,000 ahli dari pelbagai negara. Kumpulan ini komited untuk menggunakan bahasa Sunda sesuai dengan aturan bahasa Sunda yang baik dan benar. Dalam proses pengumpulan ini telah melahirkan pengarang baru dan mengghairahkan kembali para penulis lama dalam bahasa Sunda. Sebahagian daripada karya mereka kemudiannya diterbitkan dalam media konvensional seperti majalah dan buku. Di samping itu, kumpulan FBS telah memberi inspirasi pula munculnya kumpulan-kumpulan berbahasa Sunda lainnya baik yang memberi tumpuan pada bentuk susastra (antara lain fiksimini, cerita pendek, petisi, haiku, pantun) dan nonsastra. Kaedah penyelidikan menggunakan kaedah kualitatif dengan data deskriptif melalui teknik kajian kesusasteraan. Melalui kajian fiksimini dalam media sosial ini akan dikupas masih tinggikah kepedulian masyarakat pemilik bahasa Sunda (orang Sunda) terhadap bahasa Sunda dikaitkan dengan keadaan bahasa Sunda yang termasuk kategori terancam punah. Kata kunci: Fiksimini, bahasa Sunda, susastera, media sosial, Facebook. Sundanese Minifiction in Social Media ABSTRACT Viewed from the perspective of social media, globalization is an alternative to the emergence of small languages into the global world. In addition, social media became an alternative to the limitations of conventional media. This is evidenced by the emergence of Sundanese-language groups in social media such as Facebook and Twitter that can be accessed by everyone without knowing the country's borders. One group in the social media, the Fiksmini Bahasa Sunda (FBS) group on the Facebook page that was born on September 16, 2011. The group consists of more than 4,000 members from various countries. This group is committed to the use of Sundanese in accordance with the rules of the Sundanese language. Many new writers are born through this group and FBS has urged senior writers to publish their works in Sundanese. Part of their work is then published in conventional media such as magazines and books. In addition, the FBS group has inspired also the emergence of other Sundanese groups both focusing on literary forms (e.g. fiksimini, short stories, poems, haiku, pantun) and not literature. Methods of research used qualitative methods with literature study techniques. Through the study of fiksimini in social media in this paper will be discussed, is awareness of the Sundanese language community (Sundanese) to