17 Tahun Kota Palopo: Kota, Manusia dan Para Penggerak Amiruddin Akbar Fisu 1 1 Fakultas Teknik Universitas Andi Djemma Palopo Email: amiruddinakbarfisu07@gmail.com ABSTRAK Artikel ini merupakan opini yang ditulis dalam rangka perayaan ulang tahun yang ke-17 Kota Palopo. Opini ini berisi tentang karakteristik masyarakat urban Kota Palopo, kebijakan pembangunan Palopo, serta peran para pemuda Kota Palopo sebagai kaum masa depan kota. Kata kunci: 17 tahun Kota Palopo, perencanaan kota, perkotaan Beberapa waktu yang lalu, Gubernur Sulawesi Selatan, Prof. Nurdin Abdullah, mengeluarkan sebuah statement menarik. Saat menjamu para tokoh Luwu raya di rumah jabatan gubernur, beliau mengatakan, “kalau ada wacana untuk pemindahan ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan, lebih bagus di Luwu Raya”, atau secara implisit menurut asumsi saya, sebut saja Kota Palopo yang selama ini didengung-dengungkan sebagai calon Ibu Kota Provinsi Luwu Raya. Entah serius, atau hanya pernyataan politik manis untuk meredupkan perjuangan Wija To Luwu menggapai cita Provinsi Luwu Raya, ataukah hanya guyon belaka, seorang guru besar sekelas Prof. Nurdin pasti punya ketertarikan yang besar terhadap Tanah Luwu ini. Seperti saya yang melihat bagaimana karakter manusia, kota, dan masa depan Palopo yang membuat saya juga begitu tertarik dengan Kota ini. Manusia-manusia urban Palopo Pada satu forum diskusi yang diadakan oleh Palopo Urban Forum bertajuk Quo Vadis Visi Palopo 2023, saya memaparkan bahwa kawasan urban Kota Palopo tidak lebih dari 20% luas wilayahnya. Para ahli memiliki banyak indicator untuk mendefinisikan kawasan urban, baik dari jumlah penduduk, kepadatan penduduk, aspek social ekonomi, tata guna lahan yang didominasi oleh aktifitas non-pertanian/ perkebunan, dan lain-lain. Dari semua indicator tersebut, memang mengerucut pada luasan 20% wilayah ini, meskipun masih terdapat karakteristik lain yang belum terpenuhi, salah satunya adalah kurangnya minat masyarakat untuk menggunakan transportasi umum. Menurut Fisu (2016), salah satu ciri kota atau zona yang dapat mempengaruhi pemilihan moda transportasi adalah kepadatan penduduk dan jarak dari pusat kota. Menurut Fisu (2016), radius 400 meter merupakan jarak yang masih tergolong nyaman untuk berjalan kaki, sedangkan infrastruktur dan akses angkutan umum di Kota Palopo