Oseana, Volume 45, Nomor 2 Tahun 2020: 3139 p-ISSN: 0216-1877, e-ISSN: 2714-7185 31 KAJIAN RISIKO KESEHATAN MANUSIA TERKAIT KONSUMSI MAKANAN LAUT (SEAFOOD) YANG TERCEMAR LOGAM Triyoni Purbonegoro 1* 1 Pusat Penelitian Oseanografi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur, Jakarta Utara 14430 * Alamat email: triyoni.purbonegoro@lipi.go.id ABSTRACT Consuming contaminated seafood can be potentially harmful for human health, especially for coastal communities. For this reason, a health risk assessment is very important to determine the safe limit for consuming seafood. Several stages in this assessment are; (i) direct comparison with the standard/maximum limit of heavy metal concentration determined by each country or international organization, (ii) determination of the maximum amount of seafood that can be consumed by adults per week, (iii) determination of the Estimated Daily Intake (EDI), and (iv) determination of the Target Hazard Quotient (THQ) of each metal and the Total Hazard Index (HI) for the combined metals. Keywords: pollution, metals, seafood, human health risk assessment. PENDAHULUAN Pencemaran laut tidak hanya memberikan dampak terhadap ekosistem itu sendiri, tetapi juga keamanan pangan dan kesehatan manusia. Makanan laut (seafood), seperti ikan, kerang, dan udang, selain memberikan berbagai manfaat gizi, tetapi juga dapat membahayakan kesehatan tubuh manusia apabila cemaran di dalamnya melewati batas konsentrasi tertentu (Vandermeersch et al., 2015). Logam berat seperti Fe, Cu, dan Zn merupakan unsur esensial bagi metabolisme, meskipun pada konsentrasi tinggi dapat menjadi cemaran yang berdampak merugikan. Sementara itu, beberapa jenis logam berat nonesensial lainnya, seperti Hg, Pb, dan Cd, tidak diketahui perannya dalam sistem biologi dan bersifat toksik, meskipun pada konsentrasi rendah. Salah satu kasus dampak buruk logam berat terhadap kesehatan manusia adalah tragedi Minamata di Jepang pada tahun 1950an. Tragedi tersebut menimpa masyarakat nelayan yang mengonsumsi ikan dan kerang-kerangan tercemar metilmerkuri (MeHg) pada konsentrasi tinggi (Selin, 2009). Penyebabnya adalah limbah yang dikeluarkan oleh perusahaan penghasil bahan kimia (Chisso Corporation) yang mencemari Teluk Minamata, termasuk populasi ikan dan kekerangan di dalamnya (Sindermann, 2006). Mengonsumsi makanan laut yang tercemar dapat berpotensi buruk bagi kesehatan manusia, terutama masyarakat pesisir. Untuk itu, kajian risiko kesehatan sangat penting dilakukan untuk menentukan jumlah batas aman dalam mengonsumsi makanan laut tersebut (Yap et al., 2016; Liu et al., 2019). Dalam rangka mengkaji keamanan pangan, JECFA (Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives) dan JMPR (Joint FAO/WHO Meeting on Pesticide Residues) sebagai