Indonesian Journal of Artificial Intelligence and Data Mining (IJAIDM) Vol 3, No.1, March 2020, pp. 21 – 27 p-ISSN: 2614-3372 | e-ISSN: 2614-6150 21 Journal homepage: http://ejournal.uin-suska.ac.id/index.php/IJAIDM/index Sentiment Analysis of Cyberbullying on Twitter Using SentiStrength 1 Ulfa Khaira, 2 Ragil Johanda, 3 Pradita Eko Prasetyo Utomo, 4 Tri Suratno 1,2,3,4 Program Studi Sistem Informasi, Universitas Jambi Email: 1 ulfa.ilkom@gmail.com, 2 ragiljohanda1@gmail.com, 3 pradita.eko@unja.ac.id, 4 trie123@gmail.com Article Info ABSTRACT Article history: Received February 02 th , 2020 Revised March 05 th , 2020 Accepted March 04 th , 2020 Cyberbullying is a form of bullying that takes place across virtually every social media platform. Twitter is a form of social media that allows users to exchange information. Bullying has been a growing problem on Twitter over the past few years. Sentiment analysis is done to identify the element of bullying in a tweet. Sentiments are divided into 3 classes, namely Bullying, Non-Bullying and neutral. There are three steps to classify cyberbullying i.e. collection of data set, preprocessing data, and classification process. This research used sentiStrength, an algorithm which uses a lexicon based approach. This SentiStrength lexicon contains the weight of its sentiment strength. The assessment results from 454 tweets data obtained 161 tweet non-bullying (35.4%), 87 tweet neutral (19.1%), and 206 tweet bullying (45.4%). This research produces an accuracy value of 60.5%. Keyword: Cyberbullying Sentiment analysis SentiStrength Twitter Copyright © 2020 Puzzle Research Data Technology Corresponding Author: Ulfa Khaira, Program Studi Sistem Informasi, Universitas Jambi, Jalan Raya Jambi-Ma.Bulian KM.15 Email: ulfa.ilkom@gmail.com DOI: http://dx.doi.org/10.24014/ijaidm.v3i1.9145 1. PENDAHULUAN Di era globalisasi seperti saat sekarang ini, segala bentuk kemudahan terjanjikan bagi kehidupan manusia. Kehadiran teknologi informasi memiliki pengaruh yang besar bagi peradaban manusia. Informasi dapat menyebar secara luas dalam waktu yang singkat berkat kemajuan teknologi, salah satu bentuknya yaitu penggunaan media sosial. Media sosial merupakan platform media yang memfokuskan pada eksistensi pengguna serta memfasilitasi mereka dalam beraktivitas maupun berkolaborasi. Karena itu media sosial dapat dilihat sebagai medium (fasilitator) online yang menguatkan hubungan antar pengguna sekaligus sebuah ikatan sosial. Melalui media sosial yang semakin banyak berkembang memungkinkan informasi menyebar dengan mudah di masyarakat. Informasi dalam bentuk apa pun dapat disebarluaskan dengan mudah dan cepat sehingga mempengaruhi cara pandang, gaya hidup, serta budaya suatu bangsa[1]. Salah satu media sosial yang sangat populer saat ini yaitu Twitter. Twitter merupakan media sosial yang berbentuk microblogging atau ngeblog secara singkat dalam satu paragraf dengan maksimal 280 huruf, karena jumlah huruf dalam satu kali tweet terbatas/dibatasi. Pengguna Twitter terdiri dari berbagai kalangan, seperti pejabat, selebritis, artis, hingga masyarakat biasa pada umumnya. Akan tetapi, kemudahan yang diberikan untuk berbagi informasi melalui media sosial tak luput dari penyalahgunaan yang dilakukan oleh penggunanya. Salah satu bentuk penyalahgunaan tersebut yaitu cyberbullying. Cyberbullying merupakan bentuk tindak kekerasan yang dilakukan oleh seseorang terhadap korbannya di dunia maya, dimana korban dihina, diejek, dipermalukan dan diintimidasi oleh pelaku. Dampak dari cyberbullying yaitu mempengaruhi mental korban, bahkan banyak dari korban bullying berakhir dengan bunuh diri karena tidak tahan dengan banyak tekanan. Ada hubungan positif dan signifikan antara perilaku pelaku cyberbullying dan perilaku korban cyberbullying yang mana semakin reaktif perilaku pelaku cyberbullying maka semakin reaktif pula perilaku korban cyberbullying. Hal ini membuktikan betapa besarnya pengaruh cyberbullying terhadap kehidupan sosial[2].