Mimikri, Mockery, dan Resistansi Gaya Hidup Pribumi terhadap Budaya Kolonial Belanda dalam Tetralogi Pulau Buru Mimicry, Mockery, and Resistance of Indigenous Life Style to the Dutch Colonial Culture in the Buru Tetralogy Puji Retno Hardiningtyas Balai Bahasa Bali Jalan Trengguli I No. 34 Denpasar Timur, Bali, Indonesia Ponsel: 08563758246, Pos-el: ruwetno@yahoo.co.id Naskah masuk: 24 Desember 2017, disetujui: 15 Januari 2018, revisi akhir: 19 April 2018 DOI: https://dx.doi.org/10.26610/metasastra.2018.v11i1.91—112 Abstrak: Penelitian ini membahas mimikri, mockery, serta resistansi gaya hidup tokoh pribumi dan kolonial akibat kontak budaya Indis dalam tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Tujuan penelitian ini adalah mendeksripsikan realitas gaya hidup pribumi dalam tetralogi Pulau Buru terutama pada mimikri, mockery, sekaligus resistansi masyarakat terjajah dari penjajahnya. Metode pengumpulan data penelitian ini adalah studi pustaka dengan teknik baca-catat. Data dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif analitik dengan teknik pemahaman dan interpretasi. Teori poskolonial Homi K. Bhabha digunakan untuk mengkaji masalah mimikri, mockery, dan resistansi. Hasil dan pembahasan penelitian ini menemukan bahwa kontak budaya antara penjajah dan terjajah di Hindia Belanda telah melahirkan budaya Indis. Adanya pembauran budaya Indis memengaruhi terjadinya mimikri terhadap budaya Barat yang dilakukan oleh tokoh pribumi. Sebaliknya, munculnya mockery terhadap pribumi juga dilakukan oleh tokoh kolonial Belanda yang tidak menyukai kesejajaran/kemapanan pribumi. Namun, di balik peristiwa mimikri dan mockery, kehadiran Minke dan Nyai Ontosoroh sebagai tokoh kuat untuk meresistansi budaya pribumi sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajahan kolonial di bumi Hindia Belanda. Kata kunci: mimikri, mockery, resistansi, gaya hidup, pribumi-kolonial Abstract: This research discusses mimicry, mockery, and resistance of indigenous and colonial lifestyle as a result of Indies cultural contact in the tetralogy of Pramoedya Ananta Toer’s “Pulau Buru”. The purpose of this research is to describe the reality of indigenous lifestyle in the Buru tetralogy especially at mimicry, mockery, as well as resistance from colonized people. Data collection method of this research is the literary study of reading- record technique. The data are analyzed by applying the analytical descriptive method with understanding and interpretation technique. Homi K. Bhabha's postcolonial theory is used to examine mimicry, mockery, and resistance problems. The result of the research shows that cultural contact between colonialists and colonized people in the Indies has engendered Indies culture. The existence of the mixing of Indies culture influenced the occurrence of mimicry to western culture performed by indigenous leaders. In contrast, the emergence of mockery against the indigenous was done by Dutch colonial leaders who did not like the indigenous alignment/establishment. However, behind the events of mimicry and mockery, the presence of Minke and Nyai Ontosoroh is as the strong figures. It is intended for indigenous cultural resistance as a form of resistance to colonial occupation in the Dutch East Indies.