Jurnal Rekayasa Kimia dan Lingkungan Vol. 13, No. 1, Hlm. 78 - 86, 2018 ISSN 1412-5064, e-ISSN 2356-1661 https://doi.org/10.23955/rkl.v12i1. 10572 78 Penurunan Kadar Metilen Biru Dalam Limbah Batik Sokaraja Menggunakan Sistem Fe 2 O 3 -H 2 O 2 -UV Decrease Level of Methylene Blue In Sokaraja Liquid Waste Using Fe 2 O 3 -H 2 O 2 -UV System Dian Windy Dwiasi*, Tien Setyaningtyas, Kapti Riyani Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Jenderal Soedirman Jl. Dr. Soeparno, Karangwangkal, Purwokerto, Jawa Tengah 53123 *E-mail: mbawindy@yahoo.com Terima draft: 19 April 2018; Terima draft revisi: 30 Mei 2018; Disetujui: 5 Juni 2018 Abstrak Telah dilakukan penelitian mengenai penurunan kadar zat warna metilen biru pada limbah cair batik Sokaraja dalam sistem Fe2O3-H2O2-UV. Dalam penelitian ini dilakukan beberapa perlakuan antara lain penentuan berat Fe2O3 optimum, konsentrasi H2O2 optimum, pH optimum, waktu optimum, dan efektivitas sistem AOP optimum. Dari hasil penelitian diperoleh kondisi optimum reaksi antara lain yaitu berat Fe2O3 sebanyak 0,5 gram, konsentrasi H2O2 sebesar 50 ppm, pH optimum pada pH 2, waktu kontak 10 jam, dan sistem AOP optimum pada sistem Fe2O3-H2O2-UV dengan persentase penurunan metilen biru sebesar 63 %. Kata kunci: AOP, metilen biru, Fe2O3, H2O2, radiasi UV Abstract A study has been conducted on the reduction of methylene blue dye in Sokaraja batik waste in Fe2O3-H2O2-UV system. In this research, several treatments were done, such as determination of optimum Fe2O3 weight, optimum concentration of H2O2, optimum pH, optimum time, and optimum AOP system effectiveness. From the research obtained the optimum condition of the reaction was Fe2O3 weight of 0.5 gram, H2O2 concentration of 50 ppm, optimum pH at pH 2, contact time of 10 hours, and optimum AOP system on Fe2O3- H2O2-UV system with a percentage of methylene blue decrease of 63%. Keywords: AOP, methylene blue, Fe2O3, H2O2, UV irradiation 1. Pendahuluan Perkembangan industri batik di beberapa daerah di Indonesia saat ini mengalami kemajuan yang cukup berarti sehingga menimbulkan dampak yang positif terhadap perekonomian masyarakat. Selain dampak positif, kegiatan di bidang tekstil ini juga menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Penggunaan warna sintetis dalam industri batik sudah tidak dapat dihindari lagi, mengingat harganya yang murah, warnanya lebih tahan lama, dan pilihan warna yang lebih beragam jika dibandingkan dengan pewarna alami. Akan tetapi, pewarna sintetis memiliki sifat yang susah terurai di alam. Apalagi umumnya industri batik ini banyak terdapat di daerah yang dekat dengan sungai, sehingga apabila limbah yang dihasilkan dari proses produksi dibuang ke badan air, maka akan mengakibatkan terjadinya perubahan kualitas air (Tuty, 2011). Industri batik dan tekstil merupakan salah satu penghasil limbah cair yang berasal dari proses pengkanjian, proses penghilangan kanji, pengelantangan, pemasakan, maserasi, pencetakan, pewarnaan dan proses penyempurnaan dengan jumlah yang cukup besar sehingga dapat menimbulkan pencemaran lingkungan, karena kemampuan lingkungan sangat terbatas untuk dapat mendegradasi bahan pencemar tersebut (Sugiharto, 1987). Senyawa zat warna di lingkungan perairan sebenarnya dapat mengalami dekomposisi secara alami oleh adanya cahaya matahari, namun reaksi ini berlangsung relatif lambat, karena intensitas cahaya ultraviolet (UV) yang sampai ke permukaan bumi relatif rendah sehingga akumulasi zat warna ke dasar perairan atau tanah lebih cepat daripada fotodegradasinya (Dae-Hee dkk., 1999 dan Al-kdasi, 2004). Jika industri tersebut membuang limbah cair, maka aliran limbah tersebut akan melalui perairan di sekitar pemukiman.