Seminar Nasional Maritim, Sains, dan Teknologi Terapan 2016 Vol. 01 Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, 21 November 2016 ISSN: 2548-1509 1 Analisis Kebutuhan Dalam Perancangan Alat Bantu Terapi Stroke Dengan Menggunakan QFD-AHP dan Prinsip Ergonomi Anda Iviana Juniani 1 , Dewi Kurniasih 2 , Lukman Handoko 3 Prodi Teknik Desain Manufaktur Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya 60111 1 , Prodi Teknik Desain Manufaktur Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya 60111 2 , Prodi Teknik Keselamatan dan Kesehatan KerjaPoliteknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya 60111 3 andaiviana@ppns.ac.id Abstrak Analisa pengaruh dari berbagai karakteristik dan factor lingkungan pada penderita stroke di lima rumah sakit pemerintah di Surabaya belum pernah dilakukan sehingga diperlukan upaya untuk mengetahui sehingga bisa dilakukan upaya perbaikan untuk meminimalisir kemalasan pada penderita. Terapi latihan yang terdiri gerakan tubuh atau bagian tubuh tertentu untuk mengatasi gangguan atau memperbaiki fungsi.Terapi latihan di air bagi penderita stroke dilakukan dengan jangka waktu 6-8 minggu, dengan durasi 2 kali seminggu, sekali terapi waktunya 1 jam. Untuk itulah penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode QFD-AHP dan Prinsip ergonomic, dimana hasilnya berdasarkan hasil kuisioner AHP untuk voice of customer bobot tertinggi untuk masing-masing kategori adalah untuk kategori fleksibel nilai tertinggi terdapat pada sub kategori alat mudah dibawa, kemudian pada kategori desain bobot tertinggi adalah alat ketinggian dapat disesuaikan saat pengguanaan, pada kategori material bobot tertinggi adalah sub kategori penyangga terbuat dari bahan yang aman, Untuk kategori keamanan bobot tertinggi merupakan pada sub kategori pegangan atau genggaman nyaman saat digunakan dan pada kategori fungsi bobot tertinggi terdapat pada sub kategori alat dapat digunakan oleh penderita stroke ringan maupun berat. Kesimpulan dari penelitian ini adalah alat terapi yang dapat meminimalisir kemalasan penderita adalah alat terapi yang mudah dibawa, memiliki bahan yang aman dan tidak terlalu berat. Kata Kunci : Stroke, QFD-AHP, fungsi bobot, prinsip ergonomic, alat terapi. PENDAHULUAN Di beberapa negara berkembang 10 – 12% dari seluruh total kematian setiap harinya disebabkan oleh stroke. Stroke berada di urutan ketiga sebagai penyebab kematian di dunia setelah jantung dan kanker, selain itu stroke juga merupakan penyebab kecacatan jangka panjang nomor satu di dunia. Di beberapa negara berkembang 10 – 12% dari seluruh total kematian setiap harinya disebabkan oleh stroke. Delapan program baru Sustainable Development Goals (SDGs) untuk pencegahan atau promosi kesehatan yang menjadi perhatian pun, kinisalah satunya adalah kematian akibat penyakit tidak menular seperti hipertensi, stroke, diabetes, jantung, gagal ginjal, dan masih banyak lainnya ( liputan 6.com). Berdasarkan Laporan Tahunan Rumah Sakit tahun 2012 (per 31 Mei 2013), kasus penyakit terbanyak pasien rawat inap di rumah sakit umum pemerintah tipe C yang berada di Jawa Timur, salah satunya adalah Cerebro Vascular Accident (CVA) Infark atau yang dikenal oleh orang awam dengan Stroke adalah 548 kasus(Profil Kesehatan Jawa Timur, 2012). Meskipun kemajuan yang signifikan dalam strategi pengobatan telah melewati 2 dekade, stroke masih tetap menjadi penyebab paling umum kecacatan di seluruh dunia dan bertanggung jawab untuk ketiga terbesar dari jumlah kematian.Stroke adalah penyakit otak yang paling destruktif dengan konsekuensi berat. Stroke tidak hanya akan menimbulkan kecacatan yang dapat membebani seumur hidup tapi juga ancaman kematian bagi pasien(Peisker, Koznar, Stetkarova, & Widimsky, 2016). Angka kejadian stroke baik serangan pertama kali ataupun serangan ulang lebih sering terjadi pada laki-laki (Sudlow and Warlow,1997, Bonita, 1998 dalam Fitria 2012). Ketika seorang pasien terkena serangan stroke, maka pasien tersebut akan mengalami kelainan neurologis seperti berkurangnya kemampuan motorik anggota tubuh dan otot, kognitif, visual dan koordinasi secara signifikan. Berkurangnya tingkat kemandirian dan mobilitas seorang pasien ini dapat berpengaruh terhadap kualitas hidup (quality of life)yang dimilikinya (Pongmoragot et al., 2016). Untuk itu diperlukan rehabilitasi yang merupakan suatu upaya untuk mengembalikan pada saat setelah terkena serangan stoke, mengurangi tingkat depresi dan memberikan motivasi agar semangat menjalani pengobatan.Setelah mengalami masa pemulihan dan juga masa pengobatan di Rumah Sakit, para penderita stroke setelah diperbolehkan pulang ke rumah maka tentunya akan membutuhkan perawatan stroke di rumah. Perawatan stroke di rumah jika tidak di dampingi maka akan membuat pasien pasca stoke tidak termotivasi, karena daya ketergantungan mereka sangat tinggi kepada orang lain. Padahal cara terapi stroke ringan yang dapat dilakukan dirumah sangat penting untuk pemulihan pasca stroke agar kondisi tubuh dapat kembali normal.