254 Media Mahardhika Vol. 16 No. 2 Januari 2018 Strategi Pemasaran Hotel-Budget Dalam Meningkatkan Occupancy Rate Sebagai Hotel Start-Up Di Kota Surabaya (Studi Kasus pada Hotel Oriza Surabaya) Maya Ida Kesumawatie Amrina Yulfajar Nur Hamdiyah STIE Mahardhika Surabaya maya.ida@stiemahardhika.ac.id ABSTRAK Fenomena menjamurnya bisnis perhotelan khususnya di Kota Surabaya, menjadi bagian penting ketertarikan peneliti untuk menggali lebih dalam apa saja yang menjadi strategi pemasaran Hotel-Startup dalam meningkatkan tingkat hunian kamar (Occupancy Rate) dengan memfokuskan pada hotel predikat bintang dua untuk bersaing dengan hotel- hotel lainnya di Kota Surabaya. Strategi-strategi yang ditetapkan lebih banyak mempertimbangkan biaya pemasaran yang rendah. Hingga saat ini, manajemen Hotel belum merasa membutuhkan strategi pemasaran yang membutuhkan biaya tinggi seperti pemasangan iklan di radio, televisi, papan reklame di lokasi strategis. Strategi pemasaran Hotel Oriza yang telah dilakukan antara lain Memasang Iklan di buku telepon (yellow pages), Membuat Customer list, Membuat dan memajang brosur pada meja resepsionis, Telemarketing, Membangun citra perusahaan melalui logo dan warna yang unik, Sales Call, Mencari calon konsumen di seminar-seminar, di perkumpulan atau komunitas yang berhubungan dengan bisnis hotel. Kata Kunci : Pemasaran, Strategi Pemasaran dan Occupancy Rate PENDAHULUAN Sejak Negara kita memasuki era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), persaingan di dunia bisnis semakin meningkat. Salah satunya adalah binis perhotelan yang memiliki tingkat pengembalian atas investasi yang cukup besar dan bahkan diprediksi masih akan terus meningkat di tahun-tahun ke depan. (http://www.republika.co.id/ Tanggal 3 Februari 2016). Menurut Gustavo (2013:14) dalam penelitiannya tentang Tren bisnis perhotelan pada abad ke 21, mengutip dari United Nation World Tourism Organization (UNWTO) pada tahun 2013, menyatakan bahwa hingga tahun 2030 dunia pariwisata diperkirakan akan menghadapi peningkatan permintaan yang signifikan. Oleh karena itu pada beberapa tahun terakhir, banyak sekali ditemui pembangunan hotel-hotel baru, baik hotel bintang 1 (satu) atau bahkan hotel bintang 5 (lima). Pembangunan ini seiring dengan semakin meningkatnya Industri pariwisata di Indonesia dan semakin banyaknya turis domestik dan asing yang berkunjung ke beberapa wilayah di Indonesia. Kota Surabaya sebagai salah satu kota metropolitan kedua terbesar setelah Jakarta, memiliki tingkat pertumbuhan pembangunan hotel yang cukup pesat. Pembangunan hotel di kota ini memberikan keuntungan besar bagi Pemerintah Kota Surabaya karena sektor ini telah memberikan pendapatan yang tiap tahunnya mengalami kenaikan sebesar 4% dalam menyumbang Pendapatan Asli Daerah Kota Surabaya (Emmanuel, 2015:71). Lebih lanjut menurut data dari Perhimpunan Hotel dan Restoran di Indonesia, saat ini perminat kamar hotel lebih banyak menyasar segmen hotel budget dikarenakan segmen tersebut lebih banyak dipilih pada kota-kota besar dan kota tujuan wisata. (http://www. jpnn.com/news/potensi-hotel-budget- besar tanggal akses 10 Januari 2016)