AZRAI ET AL.: KERAGAMAN GENETIK JAGUNG HIBRIDA SILANG PUNCAK 199 Keragaman Genetik dan Penampilan Jagung Hibrida Silang Puncak pada Kondisi Cekaman Kekeringan Genetic Diversity and Agronomic Performance of Top Cross Maize Hybrid under Drought Stress Muhammad Azrai 1* , Roy Efendi 1 , Suwarti 1 , dan R. Heru Praptana 2 1 Balai Penelitian Tanaman Serealia Jl. Ratulangi No. 274 Maros, Sulawesi Selatan, Indonesia * E-mail: azraimulia@gmail.com 2 Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan Jl. Merdeka, 147 Bogor, Jawa Barat, Indonesia Naskah diterima 18 April 2016, direvisi 7 November 2016, disetujui 25 November 2016 ABSTRACT Maize breeding population with a wide genetic diversity is required to develop superior drought tolerant varieties. The objective of this research was to obtain information on genetic diversity, heritability value and grain yield performance, yield components and agronomic traits of maize genotypes derived from top cross under severe drought stress. One hundred and fifty maize genotypes derived from top cross and four hybrids maize as check varieties, were tested in Probolinggo, East Java, and Gowa, South Sulawesi during dry season of 2013. Factorial randomized block design with two replications was used in thisexperiment. Each hybrid was grown in two rows of 5 m length plot, one plant per hill spaced 70 cm between rows and 20 cm within row. Results showed that top cross hybrids had significantly different responses to drought stress. Broad sense heritability, value of silking, number grain-rows per ear, and shelling percentage were high. Heritability estimates for of anthesis, anthesis-silking interval, plant height, ear height, weight and ear performance, ear length, 1000 seeds weight and grain each yield were intermediate. The 20 best hybrids based on the highest grain yield, consisted of 17 genotypes with good combining ability with P21, 2 genotypes had good combining ability with Bima 11 and only one genotype had good combining ability with both the top cross parents, (P21 and Bima 11). Grain yield of 20 top cross hybrids in Probolinggo ranged from 4.8 t/ha to 6.7 t/ha significantly higher than that of tester varieties, while yields in Gowa ranged from 4.5 t/ha-6.7 t/ha. Only 4 tested hybrids significantly outyielded the four tester varieties. For the purpose of further selection, determining of the best S1 genotype should be done per location to overcome large environmental effects. Keywords: Maize, top cross, genetic variability, selection. ABSTRAK Pembentukan varietas unggul jagung hibrida toleran kekeringan memerlukan materi dengan keragaman genetik yang luas. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi ragam genetik dan nilai heritabilitas serta penampilan hasil, komponen hasil dan beberapa peubah agronomi hibrida silang puncak dari galur S1 pada kondisi cekaman kekeringan berat. Sebanyak 158 hibrida silang puncak dan empat varietas hibrida pembanding diuji penampilan hasil, komponen hasil dan sifat agronomi lainnya di Probolinggo, Jawa Timur dan Gowa, Sulawesi Selatan pada musim kemarau 2013. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok, dua ulangan. Setiap hibrida ditanam pada petakan yang terdiri dari dua baris, panjang 5 m, jarak antarbaris 70 cm, dan jarak dalam baris 20 cm. Hasil penelitian menunjukkan hibrida silang puncak memberikan respon yang berbeda nyata terhadap cekaman kekeringan. Nilai duga heritabilitas umur berbunga betina, jumlah barisan biji per tongkol, dan rendemen biji tergolong tinggi, sedangkan umur berbunga jantan, selang bunga jantan dan betina, tinggi tanaman dan letak tongkol, bobot dan penampilan tongkol panen, panjang tongkol, bobot 1.000 biji dan hasil biji tergolong sedang. Dari 20 hibrida terbaik berdasarkan rata-rata hasil panen tertinggi, terdapat 17 galur berdaya gabung baik dengan varietas P21, 2 galur berdaya gabung baik dengan Bima 11, dan hanya satu galur berdaya gabung baik dengan kedua tetua silang puncaknya, yaitu P21 dan Bima 11. Hasil biji 20 hibrida silang puncak tersebut di Probolinggo berkisar 4,8-7,3 t/ha, nyata lebih unggul dari semua varietas pembanding, sedangkan di Gowa berkisar 4,5-6,7 t/ha, 4 hibrida di antaranya nyata lebih unggul dari keempat varietas pembanding. Untuk seleksi lebih lanjut, pemilihan galur S1 terbaik sebaiknya per lokasi karena pengaruh faktor lingkungan cukup besar. Kata kunci: Jagung, silang puncak, variabilitas genetik, seleksi. PENDAHULUAN Untuk dapat berproduksi optimal, tanaman jagung membutuhkan air 400-600 mm per siklus produksi (Farhad et al . 2011). Kondisi ini diharapkan dapat dipenuhi dari curah hujan pada periode akhir musim hujan dan sisa kelembaban tanah (soil residual moisture). Perubahan iklim global yang berakibat pada cekaman kekeringan merupakan ancaman terhadap produksi jagung nasional (Haryono 2012). Pergeseran pola distribusi hujan berpengaruh terhadap pola tanam