175 Perkembangan Aksara Kwadrat di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali: Analisis Paleograf Titi Surti Nastiti PERKEMBANGAN AKSARA KWADRAT DI JAWA TENGAH, JAWA TIMUR, DAN BALI: ANALISIS PALEOGRAFI The Development of Kwadrat Script in Central Java, East Java and Bali: Paleography Analysis Titi Surti Nastiti Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Jl. Raya Condet Pejaten No. 4, Jakarta Selatan Email: tsnastiti@yahoo.com Naskah diterima: 20-01-2017; direvisi: 08-03-2017; disetujui: 07-04-2017 Abstract To date, kwadrat script always associated with Kadiri era from 12 th century, so that it is known as “kwadrat kadiri”. Besides in Central Java and East Java, there are some inscriptions in Bali which use kwadrat script. This research aims to know the development of kwadrat script and since when this script was used. Besides, it is also to track the historical relation of the use of kwadrat in Java, especially East Java with Bali. This research uses analitical-descriptive method and paleography approach. Based on paleography analysis, it is known that kwadrat script had been known since the era of King Dharmawangsa Tguh (± 991-1016). This script was brought to Bali by King Dharmawangsa Tguh’s sister named Gunapriya Dharmapatni/Mahendradatta who married King Udayana from Bali. If the two siblings had known kwadrat script, it means that the script had been known since the reign of their parent named Makutawangsawarddhana. Keywords: inscription, kwadrat script, kadiri era, java, bali. Abstrak Aksara kwadrat selama ini selalu dikaitkan dengan masa Kaḍiri dari abad ke-12 sehingga dikenal dengan istilah “kwadrat kaḍiri”. Selain di Jawa Tengah dan Jawa Timur, ada beberapa prasasti dari Bali yang menggunakan aksara kwadrat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan aksara kwadrat dan sejak kapan aksara kwadrat ini dipakai. Selain itu juga untuk menelusuri hubungan kesejarahan pemakaian aksara kwadrat di Jawa, terutama Jawa Timur dengan Bali. Dalam penelitian ini, metode yang dipakai adalah metode deskriptif analitis dengan pendekatan paleograf. Berdasarkan analisis paleograf dapat diketahui bahwa aksara kwadrat adalah aksara yang telah dikenal sejak masa raja Dharmawangśa Tguḥ (± 991–1016). Aksara ini dikenal di Bali karena dibawa oleh saudara perempuan Dharmawangśa Tguḥ, Guṇapriya Dharmapatnī/Mahendradattā yang menikah dengan raja Udāyana dari Bali. Jika kedua bersaudara tersebut telah mengenal aksara kwadrat, aksara tersebut telah dikenal sejak masa pemerintahan orang tua Dharmawangśa Tguḥ dan Guṇapriyadharmapatnī, yaitu Makuṭawangsawarddhana. Kata kunci: prasasti, aksara kwadrat, masa kaḍiri, jawa, bali. PENDAHULUAN Dalam khazanah sejarah tulisan yang ada di Indonesia, terutama di Jawa Timur dikenal tulisan “kwadrat”. Tulisan yang ditulis dengan aksara kwadrat mempunyai ciri tersendiri, yaitu aksara yang ditulis besar, memiliki tulisan yang menonjol, dan pada umumnya memiliki bentuk persegi empat. Mungkin karena bentuknya yang persegi empat ini maka dinamakan aksara kwadrat. Prasasti-prasasti kwadrat pada umumnya berupa prasasti pendek dan dikenal dengan sebutan aksara kwadrat kadiri. Mengenai aksara kwadrat, de Casparis menekankan bahwa selain berbentuk persegi