PRAKTIK BUDAYA PERAWATAN DALAM KEHAMILAN PERSALINAN DAN NIFAS PADA ETNIK BADUY DALAM Cultural Practices in Pregnancy, Birth Delivery and Postpartum Care of Inner Baduy Ethnic Group Mara Ipa * , Djoko Adi Prasetyo**, Kasnodihardjo *** Mara Ipa *1 , Djoko Adi Prasetyo 2 , Kasnodihardjo 3 1 Loka Litbang P2B2 Ciamis, Badan Litbang Kesehatan 2 Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Airlangga 3 Pusat Teknologi Intervensi Kesehatan Masyarakat, Badan Litbang Kesehatan *E-mail: tiarmara@gmail.com Abstract Background: High maternal mortality rate is an indicator of health problems. Negative impact of socio cultural aspect is one of the constraints related to the implementation of reproductive health Baduy Dalam Ethnic as one whom strong to uphold pikukuh (custom rules). Objective: The objective of this study is to identify and analyse cultural practices among Baduy Dalam ethnic relating to pregnancy, delivery and postpartum periods. Methods: This study is a qualitative study using in-depth interview, and observation methods for data collection. Informants selection using purposive sampling techniques in pregnant mothers, postpartum mothers, village midwife, head of cultural committee, youth leaders, traditional leaders women at reproductive age and girl teenagers. Study was conducted in Cibeo, Cikertawana and Cikeusik Village in May until June 2014. Data validation using triangulation of informants and analysis of the potencies and constraints was performed to determine the inhibiting and supporting factors. Result: The study found supportive cultural practices include: obedient to head of cultural committee; traditional celebration as a media health promotion program; the utilization of traditional medicine and the pattern of settlement cluster. Harmful cultural practices during pregnancy, birthing procession and postpartum period include independently birthing procession, situational place of birth (saung/home), unpredictable waiting time for paraji to arrive; non-sterile umbilical cord cutting; the age of first time birthing; heavy work; prohibition using underwear and sanitary napkins. Conclusion: Intensive approach to community Baduy Dalam Ethnic by health workers was recommended to create trust to the system of modern health service. Keywords: Baduy, cultural practices, pregnancy, delivery, postpartum. Abstrak Latar belakang: Tingginya Angka Kematian Ibu sebagai indikator besarnya masalah kesehatan reproduksi. Aspek sosial budaya yang membawa dampak negatif bagi kesehatan merupakan salah satu kendala pelaksanaan kegiatan terkait kesehatan reproduksi. Suku Baduy Dalam merupakan salah satu pelaku tradisi yang kuat memegang teguh pikukuh (aturan adat). Tujuan: Tujuan umum penelitian ini untuk mengidentifikasi dan menganalisa praktik budaya perawatan Etnik Baduy Dalam yang terkait kehamilan, kelahiran, dan nifas. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, pengambilan data dilakukan dengan metode wawancara mendalam, dan observasi. Pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling pada ibu hamil, ibu nifas, paraji (dukun beranak), bidan desa, ketua adat, tokoh pemuda, tokoh adat, ibu usia subur, remaja puteri dengan total informan sebanyak 15 orang. Penelitian dilakukan di Kampung Cibeo, Cikartawana, Cikeusik Desa Kankes, Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak Provinsi Banten tempat bermukimnya Suku Baduy Dalam pada bulan Mei-Juni 2014. Data informan divalidasi melalui triangulasi, analisis potensi dan kendala dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor penghambat dan pendukung. Hasil: Penelitian menemukan praktik budaya sebagai pendukung: kepatuhan pada pimpinan adat (kokolot), perayaan tradisi sebagai media promosi program kesehatan, pemanfaatan obat tradisional, pola pemukiman secara kluster. Faktor yang membahayakan tidak ada pemeriksaan medis selama kehamilan, persalinan dan nifas, prosesi melahirkan secara mandiri, tempat persalinan situasional (saung/rumah), lama waktu menunggu paraji, pemotongan tali pusat, usia pertama kali melahirkan, melakukan aktivitas berat, larangan menggunakan pakaian dalam dan pembalut wanita. Kesimpulan: Kepatuhan pada Kokolot bisa dijadikan kunci sebagai pintu masuk menumbuhkan diterimanya program-program kesehatan ibu dan anak pada masyarakat Baduy Dalam. Kata kunci: Baduy, praktik budaya, kehamilan, persalinan, nifas. Naskah masuk: 20 November 2015 Review: 13 Januari 2016 Disetujui terbit: 3 April 2016