11 Jurnal Perennial, 6(1) : 11-19 KARAKTERISTIK AKAR BEREKTOMIKORIZA PADA Shorea pinanga, Pinus merkusii DAN Gnetum gnemon Root Characteristics of Ectomycorrhizal Fungi on Shorea pinanga, Pinus merkusii, and Gnetum gnemon Melya Riniarti, Irdika Mansur, Arum Sekar Wulandari, dan Cecep Kusmana ABSTRACT Morphology and anatomy characteristics often used to identify ectomycorrhizal fungi. We used three Scleroderma spp. (Scleroderma columnare, S. dictyosporum), and S. sinnamariense) and inoculated to Shorea pinanga, Pinus merkusii, and Gnetum gnemon. After 6,8, and 10 months, each root tips were collected to determined hyphae colour, branching pattern, clamp-connection, hartig net and mantle. This result revealed that S. sinnamariense did not form association with S. pinanga and P. merkusii but form association with G. gnemon. On the other hand, S. columnare and S. dictyosporum could form association with all the host plants. S. columnare and S. dictyosporum formed white hyphae while S. sinnamariense formed yellow hyphae with monopodial branching pattern. The depth of hartig net and mantle was increased by timed. Key words: ectomycorrhizal fungi, hartig net, mantle, Scleroderma PENDAHULUAN Ektomikoriza merupakan simbiosis mutualisme antara fungi dan akar tanaman, dalam hubungan ini fungi memperoleh hasil fotosintesis sementara akar mendapat bantuan unsur hara dan air dan keuntungan lainnya melalui perantara hifa fungi (Allen et al. 2003; Dehlin et al. 2004). Sebagian besar tanaman yang membentuk simbiosis dengan fungi ektomikoriza adalah jenis pohon, sekalipun beberapa jenis semak dan perdu juga ditemukan dapat berasosiasi dengan fungi ini (Onguene dan Kuyper 2002). Fungi ektomikoriza diketahui dapat berasosiasi dengan jenis-jenis tanaman dari family Dipterocarpaceae (Turjaman et al. 2005, Turjaman et al. 2006), Pinaceae (Chen 2006, Linda 2006) dan Gnetaceae (Wulandari 2002; Watling et al. 2002), yang merupakan bagian dari angiospermae dan gymnospermae. Hubungan fungi dengan tanaman inang ini dapat disebut ektomikoriza bila terdapat beberapa karakteristik morfologi dan anatomi pada akar tanaman akibat masuknya hifa pada sel-sel akar. Terdapat berbagai variasi dalam karakteristik morfologi dan struktur akar berektomikoriza, namun terdapat tiga bentuk utama yang secara umum disepakati sebagai karakteristik penting, yaitu terbentuknya sebuah mantel atau lapisan hifa dan miselium fungi yang menutupi sebagian dari ujung akar, berkembangnya hifa di antara sel-sel akar yang membentuk sel-sel yang kompleks yang disebut hartig net, dan hifa-hifa yang menonjol keluar dari mantel dan berkembang ke tanah (hifa ekstra radikal) (Petterson et al. 2004). Bahkan menurut Smith dan Read (2008) bila salah satu dari tiga ciri utama ini tidak terbentuk dengan sempurna maka peranan fungi ektomikoriza pada tanaman inang tidak akan berjalan dengan baik. Masing-masing fungi ektomikoriza akan memiliki karakteristik morfologi dan anatomi yang khas pada tanaman inang yang diinfeksinya. Keunikan ini menjadi ciri yang akan digunakan untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasikan jenis-jenis fungi tersebut (Agerer 2002), sehingga akan lebih meningkatkan pemahaman akan fungsi dan mekanisme yang terjadi antara fungi dan tanaman inangnya. Tujuan penelitian ini adalah memperoleh informasi tentang karakteristik morfologi dan anatomi akar pada Shorea pinanga, Pinus merkusii, dan Gnetum gnemon yang telah diinokulasi dengan tiga jenis Scleroderma spp. selama 6, 8 dan 10 bulan.