Seminar Nasional Pemberdayaan Masyarakat, Pekanbaru, 2020-11-19 conference.unri.ac.id
Unri Conference Series: Community Engagement. Volume 2 ISSN 2685-9017
335
Peningkatan produksi petani Jamur Tiram dengan
teknik kultur di Kota Medan
Yurnaliza, Liana Dwi Sri Hastuti*, Riyanto Sinaga, Adrian Hartanto, & Wita E Tarigan
Universitas Sumatera Utara
* liana.hastuti@usu.ac.id
Abstrak. Jamur tiram merupakan salah satu komoditas yang sedang diminati masyarakat untuk memenuhi kebutuhan
makanan sehat dan bergizi, dimana permintaan yang terus meningkat setiap tahunnya. Di kota Medan sendiri budidaya
jamur tiram sudah mulai berkembang, baik skala industri rumah tangga maupun skala kecil hingga menengah namun
belum memenuhi permintaan pasar. Salah satu yang menyebabkan rendahnya produksi jamur tiram adalah ketersediaan
bibit, baik F-0, F-1, F-2 maupun F-3 sehingga petani gagal untuk dapat membuat media baglog sebagai tahap akhir
dalam produksi jamur tiram. Bibit serta baglog dapat diproduksi sendiri oleh petani, jika dalam pembuatannya sesuai
dengan standar kultur teknik dalam produksi bibit. Sosialisasi telah dilakukan dengan metode penyuluhan, demonstrasi
dan mengintroduksi teknologi kultur serta sterilisasi dengan menggunakan autoklaf hemat energi sesuai kepada
kebutuhan petani jamur. Penggunaan autoklaf sangat efektif dan signifikan dalam menurunkan jumlah bibit yang
terkontaminasi, terlihat pada grafik yang turut ditampilkan pada tulisan ini. Pengetahuan membuat tepung jamur
dengan metode sederhana dengan cost rendah dalam kemasan kekinian serta higienis siap dipasarkan sebagai bahan
dasar produk olahan makanan atau sebagai bahan obat tradisional juga diberikan.
Kata kunci: jamur tiram, Medan, autoklaf, tepung jamur
Abstract. Oyster mushrooms are one of the commodities that people are interested in to meet the needs of healthy and
nutritious foods, where the demand of this fungus increases every year. In the city of Medan, oyster mushroom
cultivation has begun to develop in the home industry, small to medium scale industries, but in fact it has not yet
fulfilled the market demand. The low production of oyster mushrooms caused by the low knowledge of the farmer in
preparation of the seed, either F-0, F-1, F-2 or F-3 and ultimately fail in baglog preparation as the final media stage for
oyster mushroom production. In the seedlings and backlogs manufacturer should follow the technical culture standard
preparation of seedling. Socialization has been carried out by Tim ABDIMAS with the demonstration and introducing
culture and sterilization technique using saving energy autoclave, efficient in use for the mushroom farmers and
expected after the program the farmers can be confident and become independent in spawn or seedling producing by
themselves. The use of autoclave is very effective and significant in reducing the number of contaminated seedlings, as
seen in the graph which is also presented in this paper. Knowledge of making mushroom flour with a simple method
with low cost in contemporary and hygienic packaging ready to be marketed as a basic ingredient in food processed
products or as an ingredient in traditional medicine is also provided.
Keywords: oyster mushrooms, Medan, autoclave, mushroom flour
To cite this article: Yurnaliza., L. D. S. Hastuti., R. Sinaga., A. Hartanto., & W. E. Tarigan. 2020. Peningkatan
produksi petani Jamur Tiram dengan teknik kultur di Kota Medan. Unri Conference Series: Community Engagement
2: 335-343. https://doi.org/10.31258/unricsce.2.335-343
© 2020 Authors
Peer-review under responsibility of the organizing committee of Seminar Nasional Pemberdayaan Masyarakat 2020