Buletin Jagaddhita Vol. 1, No. 1, Februari 2019 e-ISSN 2656-0089 buletin.jagaddhita.org Dampak Stunting Pada Kondisi Psikologis Anak Muhana Rafika, S.Gz Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat UGM muhanarafika@gmail.com Stunting, istilah yang sering kita dengar belakangan ini terkait dengan status gizi anak. Stunting menjadi penting dan menarik perhatian banyak kalangan. Menurut data WHO, Indonesia tergolong dalam tiga besar negara dengan prevalensi stunting yang tinggi. Pada tahun 2013, rata-rata balita pendek dan sangat pendek sebesar 37.2 % (Riskesdas, 2018). Pemerintah sudah mengupayakan berbagai program untuk menurunkan angka prevalensi stunting di Indonesia. Hal tersebut terbukti dengan menurunnya rata-rata kejadian stunting pada data 2018 menjadi 30,8% pada balita. Walaupun mengalami penurunan, angka tersebut masih tergolong tinggi bila dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia Tenggara. Apa sebenarnya yang disebut stunting? Stunting adalah masalah kurang gizi kronis karena kurangnya asupan gizi dalam waktu yang lama, yang berakibat pada gangguan pertumbuhan pada anak, salah satu cirinya adalah tinggi badan anak lebih rendah atau pendek dari standar anak-anak seusianya (Kemenkes, 2018). Ciri lain dari anak yang termasuk dalam stunting adalah pertumbuhan yang melambat, wajah tampak lebih muda dari anak seusianya, pertumbuhan gigi terlambat, performa buruk pada kemampuan fokus dan memori belajarnya, pubertas terlambat, dan usia 8-10 tahun anak menjadi lebih pendiam, tidak banyak melakukan kontak mata terhadap orang di sekitarnya (Setiaji, 2018). Stunting dan Dampaknya Pada Anak Di Indonesia, lokasi persebaran kejadian stunting paling banyak adalah wilayah Nusa Tenggara Timur, namun daerah-daerah lain pun juga masih perlu perhatian dan kepedulian