Volume 9 No. 1 Maret 2018 P-ISSN 2086-6178 E-ISSN 2579-3292 http://ejournal.bsi.ac.id/ejurnal/index.php/jkom Berita Penutupan Hotel Alexis di Media Online Rety Palupi 1 , Jaka Atmaja 2 1,2 Akademi Komunikasi BSI Jakarta 1 e-mail: rety.ryp@bsi.ac.id 2 e-mail: jaka.jaj@bsi.ac.id Cara Sitasi: Palupi, R., & Atmaja, J. (2018). Berita Penutupan Hotel Alexis di Media Online. Jurnal Komunikasi, 9(1), 8–14. Abstract - The phenomenon of Alexis hotel starts from its existence to its closing becomes the latest rumor. Two crucial points are, Alexis hotel is like ’paradise’ nightlife for men, and it is dismissed of the operational by the Governor of DKI Jakarta, which just inaugurated less than a month. While the mass media as the publisher of information to the public, fairly, roles neutrally. However, it is now not taboo anymore if the media presents things containing elements of its importance. This paper attempts to framing analyze specifically by using the V. Sigal parameter from the coverage of Alexis hotel. The author selects ten news which displayed by some online media. Afterwards, it is going to be analyzed by using five parameters, they are: Tone news, sources, sensitivity, balance, and placement. Eventually, the results is stated that althoug the Tone news is strongly negative, but the Alexis Hotel, a place for that has activities in the night, tend not to be to have the bad impact from ten discussed matters Keywords: framing, media, V.Sigal, partiality PENDAHULUAN Penulis sebagai warga Jakarta sering kali mendengar perbincangan tentang Alexis. Baik pada pemberitaan resmi maupun perbincangan warga sehari-hari. Terlebih pada akhir Oktober tahun 2017 lalu, perbincangan Alexis sangat hangat dan menjadi headline. Pada tanggal 30 Oktober 2017, Pemprov DKI Jakarta yang dipimpin oleh Anies Baswedan menyatakan bahwa tidak diizinkannya praktek usaha Alexis untuk terus berjalan. Hotel yang berlokasi di Ancol Pademangan ini menuai banyak kontroversi. Bahkan sudah menjadi bahan pembicaraan umum di publik ataupun warganet bahwa tempat hiburan malam ini dijadikan lokasi prostitusi. Pada media, Anies Baswedan juga mengungkapkan “Ada temuan-temuan di lapangan dan ada juga laporan-laporan yang diterima dan kemudian dijadikan pertimbangan mengapa izin tidak diberikan,” (Badriyanto, 2017) Hal yang jadi menarik bagi penulis adalah, terdapat dua faktor yang mendorong publik untuk melirik sendiri permasalahan ini. Pertama, Hotel Alexis yang diluncurkan pertama kali tahun 2006 sudah mendeklarasikan diri sebagai one stop entertainment, pusat ‘surga’ bagi pria. Sangat kontroversi karena berdiri di tengah warga Indonesia yang masih kental budaya ketimurannya. Kedua, Hotel Alexis ditutup karena tidak diberikannya izin untuk praktek usahanya terus dijalankan. Penutupan ini dilakukan oleh Anies Baswedan selaku Gubernur DKI Jakarta yang baru menjabat kurang dari satu bulan. Jika penulis merunut ke belakang, proses Pilkada DKI Jakarta diramaikan dengan banyak hal. Yang paling diingat adalah nasalah SARA (Suku, Agama, Ras, Antar golongan). Dan akhirnya memunculkan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno sebagai pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Dengan dilantiknya Gubernur dan Wakil Gubernur DKI terpilih, lalu dalam waktu kurang dari satu bulan tidak memperpanjang izin usaha Hotel Alexis yang juga kontroversial, membuat penulis ingin membahas pemberitaannya di dunia maya. Karena penulis menganggap pemberitaan di dunia maya lebih mudah tersebar dan mempengaruhi warganet. Framing yang dilakukan oleh sebuah media dapat ditelaah berdasarkan bentuk isi beritanya. Pada mulanya framing adalah struktur konseptual yang dalam arti kata lainnya merupakan perangkat kepercayaan yang mampu mengatur pandangan tentang situasi politik, kebijakan pemimpin, dan 8 Rety 1 , Jaka 2