Marbun et al.: Pengaruh Suhu Deraan dan Lama Penderaan 55 J. Agrotek Tropika. ISSN 2337-4993 Vol. 2, No. 1: 55 – 60, Januari 2014 PENGARUH SUHU DERAAN DAN LAMA PENDERAAN PADA VIABILITAS BENIH TOMAT (Lycopersicon esculentum Mill.) VARIETAS OVAL Kristin Stefiana Marbun, Eko Pramono, & M. Syamsoel Hadi Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Lampung Jl. Prof. Soemantri Brodjonegoro, No. 1, Bandar Lampung 35145 stefiana_k@yahoo.com ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kombinasi perlakuan suhu deraan dan lama penderaan yang efektif menurunkan viabilitas benih tomat. Penelitian ini menggunakan rancangan perlakuan faktorial 2 faktor (2x6) dalam rancangan kelompok teracak sempurna, dengan 3 kali ulangan. Faktor pertama adalah suhu yang terdiri dari 2 taraf, yaitu 39 o C dan 41 o C. Faktor kedua adalah lama penderaan yang terdiri dari 6 taraf, yaitu 0 jam, 24 jam, 48 jam, 72 jam, 96 jam, dan 120 jam. Data dianalisis dengan analisis ragam dan diuji lanjut menggunakan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) dengan α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi suhu deraan dan lama penderaan dapat menurunkan viabilitas benih tomat ditunjukkan oleh variabel kecambah normal kuat, panjang akar primer, dan bobot kering kecambah normal, dengan kombinasi suhu 39 o C dengan lama penderaan 24 jam atau suhu 41 o C dengan lama penderaan 24 jam. Kata kunci: benih tomat, lama deraan, suhu, viabilitas PENDAHULUAN Tomat termasuk dalam jenis tanaman sayuran yang sering digunakan sebagai bahan pangan dan industri. Menurut BPS, produksi tomat di Lampung tahun 2011 mencapai18.420 ton ha -1 , meningkat tahun 2012 sebesar 20.257 ton ha -1 . Meningkatnya konsumsi akan buah tomat menuntut kualitas yang semakin baik. Peningkatan kualitas tersebut dapat diperoleh bila menggunakan benih bermutu. Benih yang bermutu akan menghasilkan produksi yang maksimal dan produk berkualitas. Mutu benih meliputi mutu fisik, genetik, dan fisiologi. Mutu fisik benih yang tinggi adalah benih yang bersih dari campuran kotoran seperti pasir, tanah, tangkai atau daun kering, bersih dari benih mati dan benih abnormal fisik, benih kosong. Benih bermutu fisik tinggi menunjukkan keseragaman dalam bentuk, ukuran, warna, dan berat per jumlah atau volume. Mutu genetik benih ditunjukkan dengan sifat genetik yang seragam. Mutu benih secara fisiologi adalah mutu yang diukur dari kemampuan benih yang dapat berproduksi normal pada kondisi yang normal pula (Sadjad, 1993). Mutu fisiologi benih yang menurun menyebabkan proses kemunduran benih. Hal ini dapat berpengaruh pada kemampuannya untuk berkecambah setelah mengalami penyimpanan. Untuk mengetahui viabilitas suatu benih dapat dilakukan dengan beberapa cara, salah satunya dengan pengusangan cepat ( accelerated aging ). Metode pengusangan fisik merupakan metode yang paling mudah dan menyerupai kondisi alami saat di penyimpanan. Metode ini memberikan kondisi lingkungan yang suboptimum yang dapat menyebabkan kemunduran benih dalam penyimpanan yang sesuai kondisi sebenarnya (Mugnisjah, Setiawan, Suwarto, dan Santiwa, 1994). Metode ini pertama kali dilakukan oleh Delouche tahu 1971 menggunakan suhu 41 o C dan RH 100% selama empat hari (Copeland dan McDonald, 2001). Suhu yang rendah lebih baik dibandingkan suhu yang tinggi dalam penyimpanan benih karena suhu rendah dapat memperlambat penurunan viabilitas benih. Lama penderaan menjadikan kemunduran benih terus berlangsung, semakin lama benih didera semakin menurunkan viabilitas benih. Dengan meningkatnya suhu dan semakin lama penderaan terhadap benih tersebut maka umur penyimpanan menjadi lebih cepat dan viabilitas benih semakin menurun. Penderaan menggunakan suhu 39 dan 41 o C dengan kelembaban 100% merupakan factor yang dapat mempercepat kemunduran benih tomat karena dapat mempercepat respirasi dan metabolisme dalam benih. Semakin tinggi suhu dan semakin lama waktu penderaan akan semakin menurunkan viabilitas benih tomat. Selama penderaan benih akan menyerap kadar air dari kondisi yang lembab dan suhu yang tinggi. Hal ini yang menyebabkan cepatnya penuaan benih. Pada benih sesame yang didera pada suhu 42 dan 43 o C masih