Jurnal Peternakan Sriwijaya Vol. 3, No. 1, Juni 2014, pp. 7-13 ISSN 2303 1093 7 Analisis Sifat Fisik Bekatul dan Ekstrak Minyak Bekatul Hasil Fermentasi Rhizopus sp. dengan Menggunakan Inokulum Tempe F. Yosi, E. Sahara, dan S. Sandi Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya Jl. Raya Palembang Prabumulih KM 32, Indralaya, Ogan Ilir, Sumsel, 30662. e-mail : fitrayosi@unsri.ac.id ABSTRAK Bekatul dan minyak bekatul mengandungberbagai asam lemak. Guna meningkatkan kandungan asam lemak pada bekatul, dilakukan proses fermentasi. Salah satu mikroba yang potensial untuk digunakan dalam proses fermentasi adalah kapang Rhizopus sp. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh volume inokulum dan waktu fermentasi terhadap sifat fisik bekatul dan minyak bekatul hasil fermentasi Rhizopus sp dengan menggunakan inokulum tempe. Sifat fisik bekatul danekstrak minyak bekatul yang diamati antara lain tekstur, warna, dan aroma bekatul hasil fermentasi serta warna ekstrak minyak bekatul hasil proses maserasi. Pengamatan fisik dilakukan secara visual. Data hasil pengujian sifat fisik dianalisis secara deskriptif. Ada 9 perlakuan yang digunakan yaitu fermentasi dengan volume inokulum 3 ml dan waktu fermentasi 3 hari (V3H3), V3H6, V3H9, V5H3, V5H6, V5H9, V7H3, V7H6, dan V7H9. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin lama waktu fermentasi, warna bekatul semakin putih kehitaman dan teksturnya semakin kering. Aroma bekatul yang difermentasi selama 3 hari tercium lebih harum dibandingkan dengan yang 6 dan 9 hari. Semakin lama difermentasi, aromanya semakin berkurang. Jika dilihat dari warna ekstrak minyak bekatul diduga bahwa bekatul yang difermentasi selama 6 hari mengandung lebih banyak asam lemak dibandingkan 3 dan 9 hari, baik pada volume inokulum 3 ml, 5 ml, dan 7 ml Kata kunci : Bekatul, fermentasi, inokulum tempe, Rhizopus sp, sifat fisik ________________________________________________________________________________ PENDAHULUAN Bekatul merupakan produk samping dari pengolahan padi yang berpotensi untuk dijadikan bahan pakan ternak. Bekatul diperoleh dari proses penggilingan padi yang berasal dari lapisan terluar beras yaitu antara butir beras dan kulit padi berwarna cokelat (Sukma, 2010). Bekatul termasuk ke salah satu bahan pakan sumber asam linolenat adalah (Jang et al., 2001). Meskipun kaya asam linolenat, bekatul memiliki faktor pembatas, yaitu memiliki kandungan serat kasar yang tinggi sehingga nilai kecernaan nutrisinya menjadi rendah (Sujono, 2003). Guna meningkatkan kecernaan nutirisi pada bekatul, maka salah satu cara yang dilakukan adalah melalui proses fermentasi (Rahmat, 2003). Fermentasi adalah suatu proses pemecahan senyawa organik menjadi senyawa sederhana yang melibatkan mikroba (Pujaningsih, 2005). Ada banyak mikroba yang dapat digunakan sebagai inokulum dalam proses fermentasi ini, salah satunya adalah kapang. Di samping dapat meningkatkan kecernaan nutrisi, fermentasi bekatul dengan menggunakan kapang dapat pula meningkatkan kandungan asam lemak tak