Global: Jurnal Politik Internasional Vol. 23 No. 2. Page 260-284. DOI: 10.7454/global.v23i2.647
© Global: Jurnal Politik Internasional 2021 E-ISSN: 2579-8251
260
MUSLIM COMMUNITY IN THE ATMOSPHERE OF POPULISM IN
NORWAY
Gilang Mahadika
Department of Anthropology
Gadjah Mada University
Email: gilangmahadika@mail.ugm.ac.id
Submitted: 8 August 2021; accepted: 13 November 2021
Abstrak
Di negara-negara Eropa, banyak diskusi dan perdebatan mengenai komunitas yang berlatar belakang
migrasi. Migran saat ini lebih mampu bersaing dengan penduduk lokal dalam hal mencari pekerjaan
yang lebih baik dan berpartisipasi dalam kegiatan politik di negara-negara Eropa. Hal ini
menimbulkan ketakutan dalam masyarakat 'mainstream' karena diduga dapat mengancam kehidupan
mereka. Momen menarik ini bisa menjadi manfaat bagi partai politik populis untuk mendapatkan
suara dari mayoritas penduduk. Namun, pasca serangan teror 22/7 yang terjadi di Norwegia berhasil
menciptakan ketegangan antara warga lokal dengan mereka yang dianggap 'berlatar belakang
migrasi'. Mengingat, orang-orang yang berlatar belakang migrasi, khususnya komunitas Muslim,
sudah memiliki sejarah panjang migrasi ke Norwegia. Oleh karena itu, pertanyaan penelitian artikel
ini adalah bagaimana komunitas Muslim beradaptasi dengan situasi Populisme di Norwegia. Dengan
menggunakan literatur sejarah dan artikel-artikel penelitian pasca 22/7 menunjukkan bahwa
pendekatan interseksional berguna untuk melihat percampuran aspek kelas, identitas, agama,
kebangsaan, gender, dan etnisitas masyarakat yang terpinggirkan. Kini, para migran ini menghadapi
berbagai diskriminasi. Melakukan protes di ruang publik sebagai cara beradaptasi dengan iklim
populisme menjadi salah satu perjuangan mereka untuk memperoleh hak-hak sebagai warga
(kewargaan) karena pemerintah dinilai gagal mengelola masyarakat yang beragam, terutama dalam
membantu kelompok minoritas. Situasi seperti ini cukup umum terjadi di era populisme yang muncul
di banyak negara yang menargetkan kelompok minoritas sebagai manuver politik untuk mendapat
suara yang besar di kalangan masyarakat 'umum'.
Kata kunci:
populisme, masyarakat Muslim, serangan teror, kewargaan, Norwegia
Abstract
In the European nations, there has been a lot of discussions and arguments regarding the community
who have a ‘migration background’. Migrants nowadays are more capable of competing against local
residents in terms of looking for better employment and participating in the political activities in
European countries. Consequently, it creates fear within ‘mainstream’ society since it is presumably
able to threaten their way of life. This interesting moment can benefit the populist political parties for
gaining voices from the majority population. But, in the aftermath of 22/7 terror attacks in Norway, it
also created tension between locals and those who are considered having a ‘migration background’.
The people who have migration background, especially Muslim community, already has long history
of migration to Norway. Therefore, the research question is how the Muslim community adapt to the
situation of populism in Norway. By using historical literatures and research articles regarding the
aftermath of 22/7 terror attack, it shows that the intersectional approach is useful to see the
intermingled aspects of class, identity, religion, nationality, gender, and ethnicity of marginalised
communities. These migrants now are facing multiple discriminations. Protests in the public sphere
as a way of adapting to the atmosphere of populism are considered as their struggles for citizenship
since the government seems to fail at managing multicultural society, especially advocating the
minority groups. This kind of situation is common in the era of populism emerging in many countries
targeting minority groups as political manoeuvre in order to gain voices among the ‘common’ society.
Keywords:
populism, Muslim community, terror attacks, citizenship, Norway