JIUBJ Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi, 21(3), Oktober 2021, 989-995 Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat universitas Batanghari Jambi ISSN 1411-8939 (Online), ISSN 2549-4236 (Print) DOI 10.33087/jiubj.v21i3.1616 989 Makna Tradisi Butale Haji di Tigo Luhah Semurup Kabupaten Kerinci Fatonah Nurdin*, Supian, Denny Defrianti Prodi Ilmu Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Kependidikan, Universitas Jambi *Correspondence email: fatonah.nurdin@unja.ac.id Abstrak. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan tujuan untuk menghasilkan data kualitatif dengan pendekatan interaksi simbolik, melalui sejarah tradisi butale haji serta makna dan nilai dari tradisi butale haji dalam budaya masyarakat Tigo Luhah Semurup kabupaten Kerinci. Fokus penelitian ini adalah sejarah dan makna aktivitas tradisi butale haji di Tigo Luhah Semurup. Pemahaman tentang tradisi butale haji sebagai nilai interaksi simbolik dalam budaya masyarakat Tigo Luhah Semurup yang mengikat kekerabatan dan kebersamaan. Latar belakang dari penelitian ini adalah dimulai dari interaksi masyarakat Tigo Luhah Semurup yang telah terjadi interaksi selama bertahun-tahun dan berlangsung turun-temurun hingga saat ini. Pada saat berkumpul menikmati kebersamaan dan kegotongroyongan terjadi interaksi antara satu dan yang lainnya antar sesama warga dalam kegembiraan dan keharuan mengantar saudara mereka untuk berangkat ke tanah suci Mekkah. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa masyarakat Tigo Luhah Semurup sangat menjaga tradisi butale haji ini. Aktivitas butale haji yang dilakukan dengan sadar, dengan motif dan tujuan untuk menjaga hubungan kekerabatan, kebersamaan, gotongroyong dan keikhlasan dalam melaksanakan aktivitas tradisi butale ini juga menjadi sarana komunikasi antar kerabat untuk saling mendukung dan mendoakan kepergian saudara melaksanakan ibadah haji dengan gembira tanpa meninggalkan beban dan rasa khawatir. Kesimpulannya, aktivitas tradisi butale haji sebagai nilai penguat dan perekat hubungan kekeluargaan, kebersamaan, gotong royong, keikhlasan dalam masyarakat Tigo Luhah Semurup kabupaten Kerinci. Kata kunci: Tale; Butale Haji; Petale; tradisi; Kerinci. Abstract. This study uses qualitative methods with the aim of producing qualitative data with symbolic interaction approach through the history of Butale Haji tradition and to know the meaning and value of it, in the culture of the people of Tigo Luhah Semurup, Kerinci regency. The focuses of this research were the history and the meaning of the Butale Haji traditional activities in Tigo Luhah Semurup. Understanding of the Butale Haji tradition as the symbolic interaction value in the culture of Tigo Luhah Semurup society which binds kinship and togetherness. The background of this research was starting from the interaction of the Tigo Luhah Semurup society which has been an interaction for years and has been passed down from generation to generation till present. At the time of gathering to enjoy togetherness and mutual cooperation, there was an interaction between one another among fellow citizens in joy and compassion to take their siblings to the holy land of Mecca. The results of this study indicated that the society of Tigo Luhah Semurup really maintain this Butale Haji tradition. Butale Haji tradition which was carried out consciously, with the motive and purpose of maintaining kinship, togetherness, mutual cooperation and sincerity in doing activities. Butale Haji was also as the means of communication between relatives to support each other and pray for the departure of siblings to do Hajj with happily without leave the burden and worry. In conclusion, Butale Haji traditional as the strengthening value and the adhesive friendship, togetherness, mutual cooperation, sincerity in the Tigo Luhah Semurup society in Kerinci regency. Keywords: Tale; Butale Haji; Petale; tradition; Kerinci PENDAHULUAN Manusia dalam kesehariannya tidak bisa terlepas dengan kebudayaan, hal ini dikarenakan manusia merupakan sebagai pencipta serta yang menggunakan kebudayaan tersebut. Masyarakat dan kebudayaan adalah dua hal yang tidak sama akan tetapi memiliki kaitan yang sangatlah erat. Kebudayaan ada di muka bumi karena adanya manusia. Dengan kata lain, tidak akan ada masyarakat yang tidak memiliki kebudayaan dan kebalikannya tidak akan ada kebudayaan tanpa memiliki masyarakat pendukung. Kebudayaan ada karena adanya manusia yang menciptakannya. Oleh sebab itu, manusia hidup dikarenakan adanya keberadaan kebudayaan, dan sebaliknya kebudayaan itu sendiri akan terus ada dan berkembang ketika manusia akan selalu melestarikan kebudayaan itu sendiri dan bukan sebaliknya akan merusak kebudayaan itu sendiri. Artinya, bahwa manusia dan kebudayaan seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Hal tersebut, disebabkan didalam kehidupan manusia tidak akan mungkin tidak berhubungan atau berkaitan dengan namanya produk dari suatu kebudayaan. Kebudayaan selalu dimiliki oleh setiap anggota masyarakat. Karena didalam kehidupan setiap masyarakat, kebudayaan merupakan sesuatu hal yang paling berpengaruh dalam kehidupan masyarakan. Hal tersebut, dikarenakan kebudayaan dapat dikatakan sebagai acuan ataupun pedoman dalam melakukan berbagai aktivitas kehidupan dalam masyarakat. Berdasarkan penjelasan diatas, maka peneliti tertarik untuk mengkaji makna dari tradisi butale dalam kehidupan masyarakat Tigo Luhah Semurup Kabupaten Kerinci ini dikarenakan tradisi butale ini merupakan