Gambaran Makna Hidup Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisa Jurnal Psikologi Volume 11 Nomor 1, Juni 2013 1 GAMBARAN MAKNA HIDUP PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISA Vika Maris Nurani 1 , Sulis Mariyanti 1 1 Fakultas Psikologi Universitas Esa Unggul, Jakarta Jalan Arjuna Utara Nomor 9, Tol Tomang-Kebon Jeruk Jakarta 11510 sulis.mariyanti@esaunggul.ac.id Abstrak Pasien yang menderita gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa akan menghadapi penderitaan psikologis, finansial, fisik dan sosial. Dengan adanya penderitaan tersebut pasien akan mengalami keadaan meaningless. Keadaan ini akan membawa pasien pada proses pencarian makna dalam penderitaan atau tetap berada pada keadaan keputusasaan. Proses pencarian makna hidup menurut Frankl didapati melalui pemenuhan salah satu atau ketiga nilai kehidupan yaitu nilai daya cipta, nilai pengalaman dan nilai sikap. Bila hasrat untuk hidup bermakna ini dapat dipenuhi, maka kehidupan akan dirasakan berguna, berharga, dan berarti (meaningful). Kata kunci: makna hidup, pasien gagal ginjal kronis, hemodialisa Pendahuluan Di negara maju ataupun negara berkembang penyakit kronik tidak menular (cronic non-com- municable diseases) seperti penyakit kardio- vaskuler, hipertensi, diabetes melitus, dan penyakit ginjal kronik, sudah menggantikan penyakit me- nular (communicable diseases) sebagai masalah kesehatan masyarakat utama.(Rindiastuti,2008).Di Indonesia, menurut WHO penyakit hipertensi dan gagal ginjal selalu mengalami peningkatan tiap tahunnya. (http://kesehatan.kompas.com). Berdasarkan Pusat Data & Informasi Per- himpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia, jumlah pasien gagal ginjal kronik diperkirakan sekitar 50 orang per satu juta penduduk, 60% nya adalah usia dewasa dan usia lanjut. Berdasarkan data dari PT Askes tahun 2009 menunjukkan jumlah gagal ginjal di Indonesia mencapai 350 per satu juta penduduk, saat ini terdapat sekitar 70000 pasien gagal ginjal kronik yang memerlukan cuci darah. (www.ikc. or.id, diakses tanggal 16 September 2012) Gagal Ginjal Kronik (GGK) adalah suatu sindrom klinis disebabkan penurunan fungsi ginjal yang bersifat menahun, berlangsung progresif dan cukup lanjut, serta bersifat persisten dan irrever- sibel (Mansjoer, 2000). Ginjal merupakan organ penting dalam tubuh manusia, yang mengatur fungsi kesejahteraan dan keselamatan untuk mem- pertahankan volume, komposisi dan distribusi cai- ran tubuh, sebagian besar dijalankan oleh ginjal (Brenner, 1979 dalam Lubis, 2006). Kerusakan pada ginjal membuat sampah metabolisme dan air tidak dapat lagi dikeluarkan. Dalam kadar tertentu, sam- pah tersebut dapat meracuni tubuh, kemudian me- nimbulkan kerusakan jaringan bahkan kematian. (www.nephrologychannel.com). Gagal ginjal kronik terjadi perlahan-lahan, bisa dalam hitungan bulan bahkan tahun, dan si- fatnya tidak dapat disembuhkan.Memburuknya fungsi ginjal bisa dihambat apabila pasien mela- kukan pengobatan secara teratur.Selama ini dikenal dua metode dalam penanganan gagal ginjal.Pertama transplantasi ginjal dan kedua dialisis atau cuci darah.Untuk transplantasi ginjal masih terbatas karena banyak kendala yang harus dihadapi, dian- taranya ketersediaan donor ginjal, teknik operasi dan juga perawatan pada waktu pascaoperasi. Pada metode Dialisis Peritoneal (PD) menggunakan lapisan dalam ruang perut sebagai saringan dialisis untuk membersihkan sampah-sampah dan menyeimbangkan kadar elektrolit. (http://widianto panca.blogdetik.com) Metode PD belum banyak digunakan dan kelemahan pada teknik ini dapat terjadi 3 kategori komplikasi yaitu mekanik, medis, dan infeksi. (http://www.tanyadok.com.) Sedangkan hemodialisa adalah suatu bentuk terapi pengganti pada pasien dengan kegagalan fungsi ginjal, baik yang bersifat akut maupun kronik.Pasien yang menderita gagal ginjal juga dapat dibantu dengan bantuan mesin hemodialisis yang mengambil alih fungsi ginjal.Pasien gagal ginjal yang menjalani terapi hemodialisa, mem- butuhkan waktu 12-15 jam untuk dialisa setiap minggunya, atau paling sedikit 3-4 jam per kali terapi. Kegiatan ini akan berlangsung terus-menerus sepanjang hidupnya (Bare & Smeltzer, 2002). Walaupun fungsi ginjal untuk membersihkan darah dapat diambil alih oleh mesin hemodialisis, ting- ginya biaya yang harus dikeluarkan untuk satu kali proses cuci darah (setidaknya memerlukan Rp. 500.000,- per terapi) kerap dirasakan membebani penderita. Ketergantungan pada mesin hemodialisis,