\lndoncsian Journal of Chemistry 98 STUDY ON THE INTERFERENCE OF IRON, ALUMINIUM AND SILICON ON THE ATOMIC ABSORPTION SPECTROMETRIC DETERMINATION OF MANGAN IN LATERITE MINERAL KqJIan Interferensl Besl, Aluminium dan Slllkon pada Penentuan Mangan dalam Mineral Laterlt secara Spektrometrl Serapan Atom SULISTYO SAPUTRO Faculty of Educations, Sebelas Marat University, Surakarta NGATIDJO HADIPRANOTO, AGUS KUNCAKA Chemistry Dept. FMIPA Gadjah Mada University, Yogyakarta ABSTRACT Interference of iron, aluminum and silicon on the determination of mangan in laterite mineral by atomic absorption spectrometry has been investigated. Dissolution of laterite mineral into solution have been carried out by wet method destruction using combination of 7 ml of aquaregia, 7.5 ml of concentrated perchloric acid and 9 ml of fluoride acid 48% in sealed teflon flask heated at temperature of about 110 °C for 3 hours to determine the content of Mn element in laterite mineral directly. Interference of these three metals were carried out by evaluating the differences of Mn absorbance at wavelength 279.50 nm and slitwidth 0.2 nm between the solutions containing mangan only and those containing the some amount of mangan together with the interfering elements at those concentration range in laterite mineral. The result showed that both iron at concentration of 100 ppm until 500 ppm and aluminum at concentration at 3 ppm until 15 ppm caused significant and non-linear interference on the determination of Mn 2 ppm. Interference of iron was effectively eliminated by releasing action of aluminum. The signal depression reductional decrease due to 234 ppm of silicon on the determination of Mn 2 ppm can be eliminated by adding 2.30 ml of CaCI2 0.2% (m/v) into these solution. The content of Mn in the laterite mineral after and before adding of CaCh into solution were 2407.04 ± 59.26 pg g'1 and 2311.76 ± 23.61 pg g'1, respectively. This result was significantly different at confidence level 95% as shown by the value of tcaicuiatKi=4.91 that was higher than tu*t«=4.30. Keywords: Laterite mineral, interference, releasing agent. PENDAHULUAN Mangan merupakan salah satu logam yang banyak digunakan dalam bidang industri metalurgi yakni sebagai bahan dasar yang esensial untuk pembuatan baja yang tidak tergantikan oleh unsur lain dan mempunyai sifat tahan karat, gesekan dan suhu tinggi. Dalam industri kimia, mangan dimanfaatkan dalam pabrik galas, cat, tekstil, sal kering (batere), pupuk dan bahan obat- obatan. Mengingat pantingnya kegunaan mangan tersebut, maka semakin besar usaha orang untuk menggali dan menemukan deposit baru dari kulit bumi yang secara ekonomis dapat meningkatkan devisa negara karena harganya relatif mahal. Logam mangan ditemukan pada beberapa deposit mineral di kulit bumi dalam jumlah yang relatif sedikit dibandingkan dengan unsur lain seperti logam alkali, alkali tanah, besi, aluminium dan silikon, tetapi relatif lebih besar dari kandungan unsur-unsur runut lainnya [11]. Salah satu mineral yang mengandung unsur mangan meskipun dalam jumlah kecil adalah laterit. Laterit merupakan material hasil pelapukan batuan ultrabasa yang secara prinsip terdiri atas oksida dan hidroksida besi, aluminium, titanium dan mangan [9]. Mineral ini merupakan salah satu bahan bumi yang prospektif dalam eksplorasi geokimia karena merupakan sumber berbagai logam dl berbagai negara, khususnya yang beriklim tropis dan sub tropis, termasuk Indonesia [4]. Menurut Park dan McDiarmid (1975) lapisan bawah nikel ferous laterit mengandung Fe, Mn dan Co. Hingga saat ini laterit merupakan sumber daya mineral yang belum dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber mangan di Indonesia, padahal ketersediaan mineral tersebut di hampir seluruh nusantara ini cukup melimpah. Hal ini disebabkan ketersediaan bijih mangan saat ini masih cukup banyak, di Sulistyo Saputro, Ngatidjo Hadipmnoto, Agus Kuncaka