____________________ Korespodensi: Social Movement Institute, Potorono, Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55196. Email: luthfianhaekal@gmail.com. POLITIKA: Jurnal Ilmu Politik Vol.10, No. 2, 2019 doi: 10.14710/politika.11.1.2020.31-52 Ekspansi Geografis dan Perampasan Lahan: Sisi Lain Pembangunan Yogyakarta International Airport Luthfian Haekal Social Movement Institute (SMI) Yogyakarta Recieved: 16 Mei 2019 Revised: 22 Desember 2019 Published: 29 April 2020 Keywords: YIA; displacement capital; land grabbing; expansion of space Pendahuluan aktu itu, 19 Juli 2018. Wagirah masih mengenakan mukena merah mudanya dalam posisi sujud menghadang aparat keamanan yang berjejer-jejer. Tidak punya rasa takut, ia menjadi representasi perlawanan. Melawan kekuatan absolut Sultan, Negara, dan Korporasi yang mengancam hidupnya. Ia diangkut paksa. Tidak hanya diangkut, tetapi juga diseret. Polisi memegangi kedua kakinya seakan-akan hendak dilempar agar tidak menghalangi proses pengosongan lahan. Tidak kuasa melawan lagi, ia hanya bisa menangis. Suara tangisannya tidak terdengar oleh aparat keamanan. Mereka semua membisu dan tetap melakukan pengosongan lahan untuk keperluan pembangunan bandara Yogyakarta International Airport (YIA). Sujudnya Wagirah adalah sujud seorang rakyat di atas tanah yang kehilangan akses tanahnya. W Abstract: Pembangunan bandara di Kulon Progo, Indonesia menggerus lahan pertanian masyarakat secara masif. Penggerusan ini diakibatkan oleh dorongan mengonversi modal ke dalam bentuk baru guna memberikan ruang akumulasi kapital yang lebih banyak menghasilkan uang. Dengan beragam cara dan desain kebijakan, ruang-ruang ini dikondisikan guna menjadi instrumen akumulasi kapital yang efektif yang mempertemukan berbagai sektor bisnis, termasuk partiwisata di Yogyakarta. Tulisan ini mendiskusikan ekspansi ruang yang terbentuk melalui pembangunan bandara, dan bagaimana ruang didefinisikan sebagai akumulasi kapital menggunakan teori yang diajukan David Harvey and Henri Lefebvre. Melalui analisis ruang, artikel ini menjelaskan efek infrastruktur terhadap marjinalisais manusia melalui proyeksi keruangan yang dibuat negara dan korporasi. Selanjutnya, ekspansi keruangan imajiner ini berekspansi pada ranah ketenaga-kerjaan yang menjadi syarat beroperasinya produksi supaya akumulasi kapital mewujud.