Seminar Nasional Teknik dan Manajemen Industri dan Call for Paper (SENTEKMI 2021) ISSN 2809-1825 Volume 1 Nomor 1 Program Sarjana Teknik Industri, Universitas Kristen Maranatha, Bandung 307 Bandung, 11 November 2021 Penentuan Preferensi Masyarakat dalam Berdonasi Smartphone Bekas pada Lembaga Penyalur Donasi Jessie Lestari 1* , Siana Halim 2 , Debora Anne Yang Aysia 3 , Gan Shu San 4 1,2,3 Program Studi Teknik Industri, Universitas Kristen Petra, Surabaya, Indonesia 4 Program Studi Teknik Mesin, Universitas Kristen Petra, Surabaya, Indonesia ( * c13180045@john.petra.ac.id) Abstrak – Pandemi COVID-19 yang tengah merebak telah menciptakan keadaan darurat bagi kesehatan seluruh masyarak Pandemi COVID-19 yang tengah merebak telah menciptakan keadaan darurat bagi kesehatan seluruh masyarakat di Indonesia. Salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam meminimalisir penyebaran virus adalah dengan membuat kebijakan untuk mengubah pembelajaran dari konvensional (di sekolah) menjadi pembelajaran daring dengan bantuan internet di rumah masing-masing (School From Home). Banyak siswa dari keluarga kurang mampu akhirnya terpaksa mengalami kesulitan dalam mengikuti kelas pembelajaran online karena siswa tidak memiliki perangkat yang memadai untuk mengikuti kegiatan pembelajaran online. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui preferensi donator dalam mendonasikan smartphone bekas berdasarkan faktor kepercayaan, keamanan, kenyamanan, dan kualitas pelayanan. Sebanyak 216 data dikumpulkan melalui kuesioner dengan teknik Incidental Sampling, dan data diolah dengan statistik deskriptif dan tabulasi silang di IBM SPSS Statistics versi 26. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 170 responden bersedia mendonasikan smartphone bekasnya, sebanyak 78% di antaranya bersedia berdonasi, meskipun belum memiliki pengalaman dalam mendonasikan smartphone bekasnya dan hanya 8% dari responden yang memilih untuk tidak mendonasikan smartphone bekas mereka kembali. Kata kunci: COVID-19; donasi; preferensi; smartphone bekas I. PENDAHULUAN Coronavirus Disease-19 adalah penyakit yang ditemukan di Wuhan, Cina, pada Desember 2019. COVID- 19 adalah penyakit yang disebabkan oleh virus korona jenis baru, Sars-CoV-2. Penyebaran virus ini terjadi dengan cepat dan mengganggu semua aktivitas masyarakat, mulai dari kegiatan bisnis hingga pendidikan. Pada 11 Maret 2020, World Health Organization menyatakan penyebaran COVID-19 sebagai pandemi setelah melihat jumlah virus yang menyebar dengan cepat ke seluruh dunia (World Health Organization, 2020). Melihat realitas permasalahan tersebut, pemerintah Indonesia sebagai salah satu negara yang terdampak memutuskan untuk menerapkan berbagai kebijakan social distancing untuk menekan penyebaran COVID-19 (Ihsanuddin, 2020). Salah satu sistem yang diterapkan adalah kebijakan pembelajaran online bagi siswa yang dikenal dengan School from Home (SFH). Dalam sistem pembelajaran online, setiap siswa harus memiliki alat pendukung berupa perangkat yang dapat terhubung dengan internet, seperti smartphone, tablet, laptop, dan komputer (Direktorat Sekolah Dasar, 2020). Berdasarkan penelitian Pramana et al (2021), terlihat bahwa selama pembelajaran online di tengah pandemi COVID-19, platform pembelajaran yang paling sering digunakan adalah WhatsApp. Melalui aplikasi tersebut pengajar dapat melakukan diskusi dan membagikan materi pembelajaran seperti file power point, file microsoft word, video dan link sumber lainnya (Susilawati & Supriyanto, 2021) Penggunaan smartphone dalam mendukung program SFH memiliki dampak baik yaitu mempermudah dan mempercepat alur komunikasi serta menarik bagi siswa (Sulaiman, 2020). Namun di sisi lain dampak dari penggunaan smartphone adalah banyak siswa dari keluarga dengan tingkat ekonomi rendah yang tidak dapat mengikuti kegiatan belajar secara optimal. Keadaan ini dapat terjadi karena banyak siswa yang tidak memiliki fasilitas belajar berupa device yang memadai. Meski sudah ada dukungan dari pemerintah berupa paket internet bulanan, banyak siswa yang masih mengalami kendala karena tidak memiliki smartphone yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran. Salah satu contoh siswa terdampak datang dari Panti Asuhan Pelita Harapan Bangsa yang terletak di Banda Lampung. Ketua organisasi dari Yayasan mengatakan bahwa smartphone yang digunakan untuk pembelajaran online harus digunakan secara bergantian karena keterbatasan perangkat (hanya dua smartphone). Sementara itu dalam Yayasan tersebut terdapat 24 anak asuh yang bersekolah di TK hingga SMP yang membutuhkan perangkat pembelajaran. Karena perbedaan kelas dan jenjang sekolah, anak asuh harus mau bergiliran dalam mengambil pelajaran (Jaya, 2020).