Asal usul sejarah musik punk Aliran punk ini diketahui masuk dan berkembang di Indonesia sekitar tahun 1989/1990-1995 yang dipelopori oleh band Anti Septic dan Band Young Offender yang terinspirasi dari band Stupid dan sering berkumpul di Pid Pub Jakarta. Periode pertama adalah pra- Punk di Indonesia yang terjadi pada akhir tahun 1980-an. Punk merupakan yang lahir di London, Inggris. Pada awalnya, kelompok ini selalu dikacaukan oleh golongan skinhead. Namun, sejak tahun 1980-an, saat punk merajalela di Amerika, golongan punk dan skinhead seolah-olah menyatu. Namun, punk juga bisa berarti ideologi hidup yang mencakup aspek sosial dan politik. Punk berusaha menyindir para penguasa dengan caranya sendiri, melalui lagu-lagu dengan musik dan lirik yang sederhana namun kadang-kadang kasar, beat yang cepat dan menghentak. Banyak yang membenarkan citra punk karena banyak dari mereka yang berkeliaran di jalanan dan melakukan berbagai tindak kriminal. Dari hal yang banyak terjadi dan tingkah laku yang mereka perlihatkan, seperti potongan rambut mohawk ala suku indian, atau dipotong ala feathercut dan diwarnai dengan wantex yang terang, sepatu boots, rantai motor dan spike, jaket kulit, celana jeans ketat dan baju yang lusuh, anti sosial, kaum perusuh dan kriminal dari kelas rendah, pemabuk berbahaya sehingga banyak yang setuju bahwa orang yang berpenampilan seperti itu sudah layak untuk disebut sebagai punk. Punk juga merupakan sebuah gerakan perlawanan anak muda kepada tatanan hidup berlandaskan dari keyakinan we can do it ourselves. Punk selanjutnya berkembang sebagai buah kekecewaan musisi rock kelas bawah terhadap industri musik yang saat itu didominasi musisi rock mapan, seperti The Beatles, Rolling Stone, dan Elvis Presley. Musisi punk tidak memainkan nada-nada rock teknik tinggi atau lagu cinta yang menyayat hati. Sebaliknya, lagu-lagu punk lebih mirip teriakan protes demonstran terhadap kejamnya dunia. Lirik lagu-lagu punk menceritakan rasa frustrasi, kemarahan, dan kejenuhan berkompromi dengan hukum jalanan, pendidikan rendah, kerja kasar, pengangguran serta represi aparat, pemerintah dan figur penguasa terhadap rakyat. Akibatnya punk dicap sebagai musik rock and roll aliran kiri, sehingga sering tidak mendapat kesempatan untuk tampil di acara televisi bahkan Perusahaan rekaman pun enggan mengorbitkan mereka. Ideologi anarkisme yang pernah diusung oleh band-band punk gelombang pertama (1972-1978), antara lain Sex Pistols dan The Clash, dipandang sebagai satu-satunya pilihan