PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA HIBRID SEBAGAI SOLUSI KELISTRIKAN DI DAERAH TERPENCIL Agus Nurrohim Pusat Teknologi Konversi dan Konservasi Energi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Gedung BPPT II, Lantai 20, Jl. M.H. Thamrin 8, Jakarta 10340 E-mail: gus_nur01@yahoo.com, agus.nurrohim@bppt.go.id Abstract In order to meet electricity demand, the role of Diesel Power Generation (PLTD) in parts of Indonesia is still very large. Currently, 34.30% of electricity demand in outside of Java-Bali system was supplied by the PLTD. Especially for the Eastern Indonesia (Nusa Tenggara, Maluku, and Papua), nearly 100% of its electricity comes from PLTD. For the next 10 years, the government planning through PT. PLN will install 252 MW of PLTD in Eastern Indonesia and 73 MW in Western Indonesia. Due to the increasing of oil prices in the world will directly increase the oil prices in Indonesia, so that the electricity generating cost from PLTD would also increase. To reduce fuel consumption without reducing the service to the consumer, the construction of Diesel Power Generation should be integrated with renewable energy, like Solar Power and Wind Power to form the Hybrid Power Generation. By the Hybrid Power Generation, energy management can be controlled, so the using of diesel fuel can be more efficient. By applying of Solar Power and Wind Power in a quarter of the capacity of PLTD, the consumption of fuel could be reduced by 152 million liters up to 2019, or an average of 15.2 million liters per year. Kata kunci: PLTD, PLTHibrid, potensi EBT, Indonesia Timur, pengematan BBM. 1. PENDAHULUAN Saat ini kebutuhan energi listrik di Indonesia meningkat pesat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan pertambahan penduduk. Namun, akses pada ketersediaan energi yang handal dan terjangkau belum bisa sepenuhnya dipenuhi oleh pemerintah. Secara umum, kondisi kelistrikan di sejumlah daerah di Indonesia, khususnya di Indonesia bagian timur masih tergolong rendah. Pada tahun 2011, PLN mencatat rasio elektrifikasi nasional sebesar 72,03%. Untuk tahun 2012, PLN menargetkan rasio elektrifikasi nasional sebesar 74,03 %, dengan target rasio elektrifikasi Jawa- Bali 77,2%, Indonesia Barat 74,6%, dan Indonesia Timur 61,4%. Selanjutnya, rasio elektrifikasi nasional ditargetkan naik menjadi 80,01% pada tahun 2014. Jika dilihat dari bauran energinya, produksi listrik (PLN dan IPP) tahun 2011, 44% berasal dari pembangkit berbahan bakar batubara, 23% dari pembangkit yang berbahan bakar BBM, 21% dari pembangkit berbahan bakar gas, 7% dari pembangkit bertenaga air, dan 5% berasal dari pembangkit panas bumi. Pembangkit berbahan bakar batubara pada umumnya merupakan pembangkit-pembangkit dengan kapasitas besar. Sementara, pembangkit berbahan bakar BBM sebagian besar dikontribusi oleh Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) (pada 2010, produksi listrik dari PLTU Minyak 6.712 GWh dan dari PLTD sebesar 12.620 GWh). Dengan adanya keterbatasan sumber energi fosil, harga BBM yang tinggi, dan berlimpahnya sumberdaya energi baru terbarukan, pemerintah perlu mengembangkan energi baru dan terbarukan guna memenuhi kebutuhan energi listrik rakyat Indonesia, khususnya untuk wilayah- wilayah yang masih menggantungakan pada BBM (PLTD). Selain untuk mengatasi permasalahan beban yang tidak sama sepanjang hari, maka kombinasi antara PLTS, PLTB dan PLTD atau disebut Pembangkit Listrik Tenaga Hibrid (PLTH- SBD) adalah salah satu solusi paling sesuai untuk sistem pembangkitan yang terisolir dengan jaringan yang lebih besar seperti jaringan PLN. PLTHibrid yang memanfaatkan suberdaya Energi Terbarukan juga merupakan salah satu langkah untuk memperkuat ketahanan energi nasional. 96 Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia Vol. 14, No. 2, Agustus 2012 Hlm.96-103 Diterima 25 Juni 2012; terima dalam revisi 10 Juli 2012; layak cetak 3 Agustus 2012