ISSN:2527-273X (Online) Accredited by Ministry of Research, Technology, and Higher Education with the ranking of Sinta (S5) SK NO.28/E/KPT/2019, 26th September 2019 JIA (Jurnal Ilmiah Agribisnis) : Jurnal Agribisnis dan Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian 2021:6(3):107-113 http://ojs.uho.ac.id/index.php/JIA doi: http://dx.doi.org/10.37149/JIA.v6i3.18150 ANALISIS SALURAN DAN MARJIN PEMASARAN GULA PASIR MILIK PETANI DI KECAMATAN GEDEG MOJOKERTO JAWA TIMUR Tri Endar Suswatiningsih 1 , Erwin Maryana 1 , Arum Ambarsari 1 1 Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Instiper Yogyakarta, Jl. Nangka II, Maguwoharjo, Yogyakarta 55282 *Corresponding author: endar_instiper@yahoo.co.id To cite this article: Suswatiningsih, T., Maryana, E., & Ambarsari, A. (2021). Analisis Saluran dan Marjin Pemasaran Gula Pasir Milik Petani di Kecamatan Gedeg Mojokerto Jawa Timur. JIA (Jurnal Ilmiah Agribisnis) : Jurnal Agribisnis dan Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, 6(3), 107 - 113. doi:http://dx.doi.org/10.37149/jia.v6i3.18150 Received: May 17, 2021; Accepted: June 29D, 2021; Published: June 30, 2021 ABSTRACT This study analyzes the marketing channels and efficient distribution channels carried out by farmers in marketing sugar products to consumers, knowing how the most economically efficient distribution channels and the obstacles faced by each distribution institution. The essentials primary method used in this research was descriptive. Determination of the location of the study was done purposively. Farmer samples were taken by simple random sampling, and the example of traders was taken by snowball sampling. The entire selection was 28 famers and eight merchants. The research was conducted in May 2018. Data analyzes by calculating the marketing margin and efficiency of each marketing channel. This study indicates that farmers chose four distribution channels to distribute the sugar they have to consumers. The most economically efficient distribution channel was distribution channel III, with an IDR 7,61/kg marketing efficiency value and a marketing margin was IDR 1.000/kg. Keywords: distribution channels; granulated sugar farmers; marketing margin. PENDAHULUAN Gula merupakan salah satu komoditas strategis dalam perekonomian Indonesia serta salah satu dari sembilan bahan pokok kebutuhan pangan yang sangat penting bagi kebutuhan sehari-hari, bagi rumah tangga maupun industri makanan dan minuman Gula dunia sebesar 70% diproduksi dari tebu yang pada umumnya tumbuh di daerah tropis di belahan selatan bumi, sedangkan sisanya gula bit yang tumbuh di belahan utara bumi (Rukmana, 2015). Gula kristal putih berbasis tebu di Indonesia diproduksi oleh 62 unit pabrik yang terdiri dari 50 unit dikelola BUMN dan 12 pabrik swasta. Propinsi Jawa Timur pada tahun 2014 menjadi propinsi dengan luas panen tebu terbesar dan menjadi sentra industri gula di Indonesia (Direktorat Jendral Perkebunan, 2015). Produksi yang dihasilkan provinsi Jawa Timur mencapai 40-50% dari produksi nasional (Direktorat Jendral Perkebunan, 2016). Kondisi tersebut menggambarkan bahwa komoditas gula telah menjadi salah satu sektor sub pertanian yang mampu menggerakkan perekonomian di Jawa Timur. Salah satu Pabrik Gula yang dinaungi oleh PTPN X di Jawa Timur adalah Pabrik Gula (PG) Gempolkrep di Kabupaten Mojokerto. Produksi perkebunan tebu Kabupaten Mojokerto tahun 2018 mencapai 56.581 ton dengan produktivitas 7,7 Ton/Ha (BPS, 2020). Pabrik Gula Gempolkrep memperoleh bahan baku tebu dari petani mitra melalui kontrak kerjasama yang disepakati oleh kedua belah pihak. Salah satu kontrak yang tertera dalam perjanjian bahwa petani mitra bebas menjual gula atas pembagian hasil yang diperoleh dan tidak mengharuskan petani menjual ke pabrik gula kembali. Penentuan bagi hasil gula milik petani dengan PG didasari dari hasil rendemen tebu petani. Sistem bagi hasil ini digunakan untuk menghitung SHU (Sisa Hasil Usaha) petani. Setelah dilakukan bagi hasil antara petani dengan PG Gempolkrep, gula pasir sisa bagi hasil adalah milik petani sepenuhnya. Gula SHS (Superium Hoofd Suiker) hasil dari tebu milik petani akan dibagi dengan proporsi 10% dan 90% per petani. 10% gula SHS akan diberikan ke petani berupa gula natura,