9 Analisis Keragaman Morfometrik Rajungan ( Portunus pelagicus Linnaeus, 1758) di WPP 712 Sebagai Dasar Pengelolaan (Analysis Morphometric Diversity of Blue Swimming Crab (Portunus pelagicus Linnaeus, 1758) in FMA 712 As a Base Management) Alvia Safira*, Zairion, Ali Mashar Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor ARTIKEL INFO ABSTRACT Article History Recevied: 24 Agustus 2019 Accepted: 29 Oktober 2019 Blue swimming crab (Portunus pelagicus) is one of the fisheries resources that has a diverse distribution area in Indonesia. The diverse distribution cause by different environmental conditions, which is thought to cause morphometric diversity. The purpose of this study was to analyze the condition of P. pelagicus unit stock from morphometric diversity. The locations are in Lancang Island, Cirebon, and South Madura. The method to measure the morphometric characters is conventional method. The results of Kruskall -Wallis analysis show there are 4 distinguishing characters. The results of cluster analysis show that P. pelagicus in Cirebon and Lancang Island are in the same group, while the P. pelagicus in South Madura was separate. Discriminant analysis shows there are three populations of P. pelagicus, population of Lancang Island, Cirebon, and South Madura. All of the results show that P. pelagicus in WPP 712 might have more than one stock unit potential. Keywords: FMA 712, morphometrics, P. pelagicus Korespondensi Author Alfia Safira, Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Email: asafira97@gmail.com PENDAHULUAN Rajungan merupakan salah satu sumberdaya pesisir yang memiliki nilai ekonomi yang meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini diakibatkan oleh permintaan ekspor rajungan yang tinggi setiap tahunnya. Penangkapan rajungan biasanya dilakukan di perairan pesisir hingga kedalaman 30 m (Zairion 2015). Rajungan (Portunus pelagicus) akan menetap di dasar perairan dan terkadang berenang ke permukaan untuk mencari makan (Mawaluddin et al . 2016). Sebaran rajungan (Portunus pelagicus) meliputi perairan pantai tropis mulai dari Samudera Hindia Barat, dan Samudera Pasifik bagian Timur (Kailola et al . 1993 in Ernawati et al. 2014) serta Indo-Pasifik Barat (Lai et al . 2010). Rajungan memiliki habitat di daerah tepi pantai dan pesisir serta hidup pada substrat yang berpasir dan berlumpur, sehingga menyebabkan rajungan banyak dimanfaatkan secara langsung oleh nelayan karena dekat dengan tepi pantai dan memiliki nilai ekonomis tinggi (Sara et al . 2016). Keberadaan rajungan yang dimanfaatkan dipengaruhi oleh kondisi musim dikarenakan tersedianya stok makanan yang berlebih bagi rajungan (Nontji 1987 in Muhsoni & Abida 2009). Pemanfaatan potensi sumberdaya yang ada akan berpengaruh terhadap kelestarian stok dari suatu populasi. Apabila pemanfaatan stok telah melebihi potensi yang ada, maka akan membahayakan kelestarian stok tersebut (Muhsoni & Abida 2009). Rajungan hidup pada perairan yang memiliki salinitas yang tinggi untuk melakukan pemijahan (Nybakken 1986 in Edi et al . 2018). Hal ini menyebabkan pola persebaran rajungan di perairan Indonesia menjadi beragam. Salah satu perairan Indonesia yang termasuk dalam wilayah persebaran rajungan adalah Laut Jawa. Laut Jawa merupakan suatu wilayah perikanan yang termasuk ke dalam Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 712. Menurut Kepmen KP No. 79 tahun 2016 WPP 712 merupakan salah satu daerah strategis penangkapan ikan dengan estimasi potensi sumberdaya rajungan sebesar 22.637 ton/tahun. Tingginya potensi pemanfaatan sumberdaya rajungan di WPP 712 tentunya memerlukan kajian lebih lanjut mengenai unit stok rajungan di wilayah tersebut sebagai dasar