Aktivitas antiviral influenza A E-Journal Planta Husada Vol.2 No.2 Oktober 2014 27 Aktivitas antiviral influenza A subtipe H5N1dari ekstrak Brucea javanica L.Merr Neny Purwitasari , Herra Studiawan Departemen Farmakognosi dan Fitokimia Fakultas Farmasi Universitas Airlangga Surabaya-Indonesia npurwitasari@gmail.com ABSTRACT The outbreak of influenza A H5N1 subtype has raised a global concern on the future risk of a pandemic. Oseltamivir, the current antiinfluenza drug, could not meet the demand if there is a major outbreak. Thus, there is a need to find alternative treatment for influenza A. The objective of this study was to determine the antiviral activity of Brucea javanica extract against H5N1 influenza A virus, inoculated in embryonated chicken eggs. The antiviral activity was performed in hemagglutination assay. This is a method for tittering influenza viruses based on their ability to attach to molecules present on the surface of red blood cells. Serial concentrations of extract using in this study were tested on embryonated chicken eggs prior to the viral inhibition assay. Result showed that there is no death of chicken embryos after treated with the maximum concentration of the extract (1000 μg/ml) incubated for 72 hours. At the same concentration, B.javanica extract reduced 97.39% of H5N1 hemagglutinin titer. In conclusion, B.javanica has a potential to be developed as antiinfluenza, especially for inhibiting the initial step of viral infection. Keywords: H5N1Influenza A , Hemagglutination Assay, Brucea javanica PENDAHULUAN Virus influenza digolongkan menjadi 3 tipe, yaitu virus influenza A, B dan C. Salah satu tipe yang menimbulkan pandemik adalah virus influenza A karena mudahnya mereka bermutasi, baik berupa antigenic drift ataupun antigenic shift sehingga membentuk varian-varian baru yang lebih patogen. Flu burung atau avian influenza merupakan penyakit influenza yang sebelumnya menginfeksi kelompok hewan unggas, mulai ayam, bebek, dan spesies burung. Flu burung disebabkan oleh virus influenza subtype H5N1. Sejak 1997, virus ini telah dilaporkan menginfeksi manusia. Jumlah orang yang terinfeksi saat ini lebih dari 650 orang dengan tingkat kematian lebih dari 60%. Korban di Indonesia sejak pertama kali dilaporkan sampai 2014 adalah 195 orang dan 163 orang diantaranya meninggal. Jumlah kematian di Indonesia ini merupakan jumlah tertinggi di antara negara- negara yang terinfeksi oleh virus flu burung H5N1 (www.who.int). Virus flu burung H5N1 di Indonesia, masih bersifat endemis, masih menjadi penyakit yang merugikan sektor peternakan unggas serta masih menimbulkan masalah kesehatan masyarakat. Pola dinamika dan mutasi, patogenesis, model penularan antarspesies, khususnya pada manusia, obat antiviral serta model vaksin yang tepat, merupakan deretan permasalahan yang perlu dikaji secara mendalam khususnya di Indonesia. Penelitian bukan hanya untuk kepentingan Indonesia, akan tetapi juga bagi bangsa- bangsa lain di dunia (Nidom, 2010). Virus Flu Burung atau Avian influenza merupakan virus influenza A yang termasuk dalam family orthomyxoviridae. Virus ini merupakan virus RNA, single strand yang memiliki 2 lapisan glikoprotein atau antigen permukaan yaitu: Hemaglutinin (HA) dan neuraminidase (NA). Saat ini para ahli telah menemukan 15 macam HA (H1-H15) dan 9 macam NA (N1-N9). Ada 3 tipe virus influenza yaitu tipe A, B dan C. namun tipe A adalah influenza yang paling berbahaya (Harimoto dan Kawaoka, 2001) Brucea javanica memiliki nama lokal buah makasar. Tanaman ini tumbuh liar di India sampai dengan Australia Utara. Di Indonesia umumnya terdapat di hutan jati muda dan hutan sekunder, di pagar dan tempat-tempat yang sudah dibuka hutannya untuk pertanian pada daerah rendah hingga 500 meter dpl (Republik Indonesia, 1979). Kandungan kimia dari tanaman ini adalah alkaloid, alkaloid glikosida, quassinoid, quassinoid glikosida, triterpenoid, serta lignan (Kampedick, 1995; Kim, 2004; Polonsky, 1980). Sedangkan aktivitas farmakologi dari kandungan quassinoid adalah sebagai antivirus HIV dan antivirus Tobacco Mosaic Virus, suatu virus yang menyerang daun tembakau (Shen et al ., 2008). Aktivitas lain yang telah dilaporkan dari buah makasar adalah anti babesidal (Subeki et al. , 2007), anti diabet (Shahidaa et al ., 2009), anti- inflamasi (Hall et al ., 1983), antimalarial (Kitagawa, 1994). Pada penelitian pendahuluan, peneliti menemukan bahwa ekstrak B.javanica mampu menghambat enzim neuraminidase bakteri Clostridium perfringens (Purwitasari, 2010). Juga mampu menghambat aktivitas enzim neuraminidase virus H5N1 dan H1N1 (Purwitasari, 2011). Isolat yang diisolasi dari fraksi etil asetat Buah Makasar juga mampu menghambat virus H1N1 dalam kultur sel MDCK secara signifikan (Purwitasari, 2013). Aktivitas antivirus influenza subtipe H5N1 dengan menggunakan virus yang diinokulasikan dalam telur ayam berembrio dari tanaman ini belum pernah diteliti. Dengan diketahui aktivitas antivirus dari ekstrak tanaman ini, maka diharapkan dapat menjadi alternatif pengobatan influenza apabila terjadi wabah atau resistensi terhadap obat anti influenza yang tersedia sekarang. BAHAN DAN METODE Bahan. Buah Makasar diperoleh dari suplier yang diidentifikasi dan dideterminasi di Balai Materia Medica Batu. Bahan kimia yang dipakai dalam penelitian ini adalah metanol, Penisilin-Streptomisin (Sigma), DMSO (Merck), PBS, Aqua bidestilata. Host atau inang dalam penelitian ini adalah Telur Ayam Berembrio (TAB) yang berusia 10-11