267 TANDOALE: DARI TRADISI KE AGENDA POLITIK-EKONOMI ERA REFORMASI DI BOMBANA SULAWESI TENGGARA TANDOALE: FROM TRADITION TO ECONOMY-POLITICS AGENDAIN REFORM ERA IN BOMBANA SOUTHEAST SULAWESI Taufk Ahmad Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan Jalan Sultan Alauddin / Tala Salapang Km. 7 Makassar, 90221 Telepon (0411) 885119, 883748, Faksimile (0411) 865166 Pos-el: taufk_mukarrama@yahoo.com Diterima: 10 Agustus 2017; Direvisi: 18 September 2017; Disetujui: 24 November 2017 ABSTRACT The process of historical, cultural and power relation between Buginese and Moronenese produced tandoale, a fraternal vow to the both. Tandoale was interpreted as social cohesion then creating a new cultural identity, named “Bugis-Moronene.” This study aims to examine the changing of tandoale meaning from tradition to politics-economy agenda in the reform era. By using historical methodology with the anthropological approach, this study proves that the meaning of tandoale cultural identity is constantly changing along with social- political changes in the wider context. In the regional election, besides as social cohesion, the tandoale”is interpreted as a political representation of Bugis-Moronene in democracy as well as it is also articulated by the political elite to smooth certain their political goals. As the gold mining sector evolves, tandoale cultural identity strengthens amid the emergence of crossings of interest within. The interests of indigenous peoples Moronene maintain the customary land of mining expansion in synergy with the economic interests of Bugis people in accessing mining. Tandoale emerges and is re-interpreted as a cultural space that facilitates Bugis- Moronene interests. At the same time, mining companies, miners, local government and bureaucratic elites also have an interest in mining. This crossing of interests causes the Bugis-Moronene with its tandoale identity articulated at various levels, strengthening in economic competition in the mining sector and becoming a political representation in the regional election. Keywords: Political-Cultural, Regional Election, Tandoale, Buginese, Moronenes. ABSTRAK Dalam proses relasi sejarah, budaya dan kekuasaan antara etnis Bugis dan Moronene memproduksi tandoale sebagai sumpah persaudaraan antara kedua etnis. Tandoale dimaknai sebagai kohesi sosial pada akhirnya menjadi identitas budaya baru “Bugis-Moronene”. Penelitian ini bermaksud untuk memeriksa perubahan makna tandoale dari tradisi ke agenda politik-ekonomi di era reformasi .Dengan menggunakan metodologi sejarah dan pendekatan antropologi, penelitian ini menunjukkan bahwa makna dari identitas budaya tandoale senantiasa berubah seiring dengan perubahan-perubahan sosial-politik dalam konteks lebih luas.Di era Pilkada, tandoale selain sebagai perekat sosial, juga dimaknai sebagai politik representasi Bugis-Moronene dalam berdemokrasi, dan sekaligus diartikulasikan oleh elite politik di tingkal lokal untuk memuluskan tujuan-tujuan politik tertentu.Ketika sektor pertambangan emas berkembang, identitas budaya tandoale menguat di tengah munculnya persilangan kepentingan di dalamnya. Kepentingan masyarakat adat Moronene mempertahankan tanah adat dari ekspansi pertambangan bersinergi dengan kepentingan ekonomi orang Bugis dalam mengakses pertambangan.Tandoale muncul dan dimaknai kembali sebagai ruang budaya yang memfasilitasi kepentingan Bugis-Moronene. Pada saat yang sama, perusahaan penambang, penambang pendatang, pemerintah daerah dan elite birokrasi juga memiliki kepentingan dalam pertambangan. Persilangan kepentingan ini mengakibatkan Bugis-Moronene dengan tandoale-nya terartikulasi di berbagai level, menguat dalam kompetisi ekonomi di sektor pertambangan dan menjadi politik representasi dalam Pilakada. Kata Kunci: Budaya Politik, Pilkada, Tandoale, Bugis, Moronene.