Evolusi Hidrogeokimia pada Mataair di Sistem Goa Pindul, Karangmojo, Kebupaten Gunungkidul Afid Nurkholis, Ahmad Cahyadi dan Setyawan Purnama Departemen Geografi Lingkungan, Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Intisari Mataair di kawasan karst umumnya berasal dari aliran airtanah baik yang berasal dari aliran conduit, diffuse ataupun percampuran antara keduanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik umum evolusi hidrogeokimia pada airtanah yang muncul pada beberapa mataair di Sistem Goa Pindul. Data yang digunakan meliputi data kandungan ion mayor dan kalium di dalam air. Analisis evolusi dilakukan dengan menggunakan diagram piper segi empat yang dikembangkan oleh Kloosterman. Hasil analisis menunjukkan bahwa evolusi hidrogeokimia yang terjadi untuk semua sampel adalah dari tipe semi bikarbonat menjadi tipe air bikarbonat. Hal ini tentunya tidak lepas dari adanya proses pelarutan batuan gamping (karstifikasi) di lokasi kajian. Kata Kunci: Goa Pindul, Evolusi, Hidrogeokimia, Mataair, Karst Pendahuluan Karst merupakan suatu medan yang memiliki kondisi hidrologi khas (Ford dan Williams, 1989). Kekhasan ini merupakan akibat dari adanya material batuan yang mudah larut dan memiliki porositas sekunder yang berkembang baik (Cahyadi dkk., 2013a; Cahyadi dkk., 2013b). Batuan yang memiliki karakteristik tersebut di antaranya adalah karbonat, gipsum, dan batugaram. Meskipun demikian, batuan karbonat mendominasi bentukan karst karena memiliki sebaran yang paling luas dibandingkan dengan batuan mudah larut lainnya (Haryono dan Adji, 2004). Kawasan karst dicirikan dengan minimnya/ tidak ditemuinya sungai permukaan dan berkembangnya sistem sungai bawah tanah (Adji, 2011; Cahyadi dkk., 2012, Cahyadi, 2014a). Kondisi ini mengakibatkan masyarakat yang tinggal di kawasan karst seringkali mengalami kesulitan air (Rosaji dan Cahyadi, 2012; Fatchurohman dkk., 2013; Cahyadi, 2014b). Air yang melimpah di sungai bawah tanah belum dapat dioptimalkan akibat