1570 Profil Berpikir Relasional Siswa Visual Berdasarkan Gender dalam Menyelesaikan Masalah Matematika Nurrahmah 1 , Hery Susanto 1 , Hendro Permadi 1 1 Pendidikan Matematika-Universitas Negeri Malang INFO ARTIKEL ABSTRAK Riwayat Artikel: Diterima: 14-05-2019 Disetujui: 19-11-2019 Abstract: This study aimed to describe the relational thinking of male and female visual students in solving mathematical problems. The method used is descriptive analysis. Subjects in this study were 1 male student and 1 female student who had visual learning style. The instruments consists a learning style questionnaires, test questions and interview guidelines. The results showed that visual male students who were able to see equal to (=) as relation symbol, could focus on the expression structure and could provide rationality the problem solving strategy. However, male visual students have not been able to focus on structure because students make computational errors. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan berpikir relasional siswa visual laki-laki dan perempuan dalam menyelesaikan masalah matematika. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif. Subjek pada penelitian ini adalah satu siswa laki-laki dan satu siswa perempuan yang memilki gaya belajar visual. Instrumen berupa angket gaya belajar, soal tes, dan pedoman wawancara. Hasil penelitian menunjukkan siswa visual laki-laki maupun perempuan mampu melihat tanda sama dengan (=) sebagai simbol relasi, dapat fokus pada struktur ekspresi dan dapat memberikan rasionalitas penggunaan strategi penyelesaian masalah. Namun, siswa visual laki-laki belum mampu fokus pada struktur ekspresi karena siswa melakukan kesalahan komputasi. Kata kunci: relational thinking; problem solving; visual learning style; gender differences; berpikir relasional; penyelesaian masalah; gaya belajar visual; perbedaan gender Alamat Korespondensi: Nurrahmah Pendidikan Matematika Universitas Negeri Malang Jalan Semarang 5 Malang E-mail: rahmahbim4@gmail.com Penyelesaian masalah merupakan salah satu aspek penting dalam pembelajaran matematika. Pentingnya penyelesaian masalah di Indonesia tercermin dalam kurikulum, yaitu pada standar kompetensi lulusan (Permendikbud Nomor 20 Tahun 2016), dimana kemampuan menyelesaikan masalah merupakan aspek kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa di Indonesia. Pentingnya penyelesaian masalah juga diungkapkan oleh National Council of Teachers of Mathematics bahwa melalui penyelesaian masalah, siswa dapat memperoleh cara berpikir, menumbuhkan kebiasaan untuk tekun, menumbuhkan rasa ingin tahu yang besar, dan kepercayaan diri dalam situasi apapun (NCTM, 2000). Penyelesaian masalah pada dasarnya bukanlah aktivitas yang seragam dan monoton karena penyelesaian masalah dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah cara menyajikan masalah ke penyelesaian masalah (Baiduri dkk, 2013). Untuk dapat menyajikan masalah ke penyelesaian, siswa memerlukan suatu pendekatan. Menurut Hejny, dkk (2006), terdapat dua pendekatan dalam menyelesaikan masalah yaitu meta-strategi prosedural (procedural meta-strategy) dan meta-strategi konseptual (conceptual meta-strategy). Siswa yang menggunakan meta-strategi konseptual dalam menyelesaikan masalah dikatakan berpikir relasional (Molina, dkk, 2008; Stephens, 2006). Berpikir relasional merupakan salah satu aspek penting dalam penyelesaian masalah karena ketika menyelesaikan masalah yang diberikan, siswa membangun hubungan antara pengetahuan mengenai struktur atau sifat-sifat yang baru serta pengetahuan yang sebelumnya diajarkan sehingga diperoleh suatu kesimpulan yang dikehendaki (Baiduri, dkk, 2013). Di sisi lain, proses penyelesaian masalah juga dipengaruhi oleh perbedaan individu (Baiduri, dkk, 2013). Perbedaan individu terdiri dari beberapa jenis, di antaranya perbedaan gender, perbedaan kemampuan, perbedaan kepribadian, dan perbedaan gaya belajar (Sugiyono, 2009). Menurut Indrawati (2017) perbedaan gaya belajar akan meyebabkan perbedaan kemampuan siswa dalam mengolah, menyelesaikan masalah, dan berpengaruh terhadap respons siswa ketika menyelesaikan masalah matematika. Selain itu, hasil penelitian Zulyanty (2016) menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah dipengaruhi oleh gaya belajar. Hal ini menunjukkan bahwa gaya belajar memengaruhi siswa dalam menyelesaikan masalah matematika. Tersedia secara online http://journal.um.ac.id/index.php/jptpp/ EISSN: 2502-471X DOAJ-SHERPA/RoMEO-Google Scholar-IPI Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan Volume: 4 Nomor: 11 Bulan November Tahun 2019 Halaman: 1570—1575