MAGHZA: Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora, IAIN Purwokerto Juli-Desember, Vol. 3, No. 2, 2018 DOI: 10.24090/maghza.v3i2.2136 228 Tradisi “Makkuluhuwallahdalam Ritual Kematian Suku Bugis (Studi Living Qur’an Tentang Pembacaan Surat Al-Ikhlās) Misbah Hudri dan Muhammad Radya Yudantiasa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Jl. Laksda Adisucipto, Catur Tunggal, Depok, Sleman Email: mishbah.hudry@gmail.com Abstrak Kajian ini meneliti tentang tradisi lokal masyarakat suku Bugis di Sulawesi Selatan yaitu ritual kematian, tepatnya di desa Tadang Palie. Ritual kematian tersebut dinamai dengan Makkuluhuwallah yang diambil dari ayat pertama surat al-Ikhlās. Surat tersebut biasanya dibaca sekitar 15.000 kali sampai 100.000 kali dalam tujuh hari. Keunikan dari Makkuhuwallah adalah media yang digunakan untuk menghitung jumlah bacaan dengan menggunakan kerikil. Setelah hari ketujuh maka kerikil akan diletakkan di atas pusara atau batu nisan. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang sistem pengolahan datanya menggunakan deskriptif-analitik. Instrumen kerjanya mengombinasikan antara studi kepustakaan dan studi lapangan. Penelitian ini juga ingin melihat Al-Qur’an hidup dan direspon oleh masyarakat yang populer dengan istilah studi Living Qur’an. Penulis menemukan alasan di balik penggunaan surat al-Ikhlās dalam prosesi Makkuluhuwallah. Hal tersebut didasarkan pada resepsi masyarakat terhadap surat al- Ikhlās. Surat al -Ikhlās termasuk surat terpendek yang ada dalam Al-Qur’an dan memiliki faḍīlah yang besar. Faḍīlah surat al-Ikhlās banyak dijumpai dalam hadis yang menyatakan bahwa membaca surat al-Ikhlās setara dengan sepertiga Al-Qur’an. Secara logika, membaca surat al-Ikhlās tiga kali berarti sudah mengkhatamkan Al-Qur’an. Terlebih apabila dibaca sebanyak ribuan kali. Penulis menduga bahwa motivasi itulah yang menjadi dasar pelaksanaan dari Makkuluhuwallah. Kata Kunci: Tradisi, Lokal, Makkuhuwallah, Bugis, Living Qur’an. Abstract This study examines the local tradition of Buginese tribe community in South Sulawesi that is death ritual, precisely in Tadang Palie village. The death ritual is named Makkuluhuwallah taken from the first verse of Surat al-Ikhlās. The surat is usually recited about 15,000 times to 100,000 times in seven days. The uniqueness of Makkuhuwallah is the medium used to calculate the number of recitations by using gravel. After a seventh day, the pebbles will be placed above the grave or gravestone. This research type is qualitative research which its data processing system used is descriptive-analytic. The working instrument combines library studies and field studies. This study also wants to see how the Qur'an is responded by a popular society with the term Living Qur'an Study. The author finds the reason behind the use of the surah al- Ikhlās in Makkuluhuwallah procession. It is based on the public receptions of al -Ikhlās. Surat al-Ikhlās includes the shortest letter in the Qur'an and has a great prominence (faḍīlah). The prominence of al-Ikhlās is often found in a hadith which states that reciting surat al-Ikhlās is equal with the whole of the Qur'an. Logically, reciting al- Ikhlās three times already completes the whole al-Quran especially when reciting it thousand times. The writer suspects that motivation is the basis of the implementation of Makkuluhuwallah. Keywords: Tradition, Local, Makkuhuwallah, Bugis, Living Qur'an.