PROS SEM NAS MASY BIODIV INDON Volume 3, Nomor 3, Desember 2017 ISSN: 2407-8050 Halaman: xxxx DOI: 10.13057/psnmbi/m0303xx Kualitas sperma sapi hasil sexing setelah kapasitasi secara in vitro The quality of sexing-sorted bull sperm after in vitro capacitation EKAYANTI MULYAWATI KAIIN ♥ , MUHAMMAD GUNAWAN Pusat Penelitian Bioteknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jl. Raya Bogor Km 46 Cibinong 16911, Indonesia. Tel.: +62-21-8754627, Fax. +62-21-8754588, ♥ email: ekayantikaiin@yahoo.com. Manuskrip diterima: 9 September 2017. Revisi disetujui: 31 Desember 2017. Abstrak. Kaiin EM, Gunawan M. 2017. Kualitas sperma sapi hasil sexing setelah kapasitasi secara in vitro. Pros Sem Nas Masy Biodiv Indon 3: 466-470. Sperma sapi hasil sexing (pemisahan jenis kelamin) dengan metode kolom Bovine Serum Albumin (BSA) 3 kolom 5- 10%, diuji secara in vitro untuk melihat kualitas sperma secara mikroskopis setelah proses kapasitasi. Sperma sapi FH hasil sexing X (betina) dan Y (jantan) yang telah dibekukan, dicairkan kembali pada waterbath dengan suhu 37 o C selama 30 detik. Kemudian dilakukan pengujian kualitas sperma, meliputi parameter motilitas, viabilitas, dan abnormalitas. Pengujian status kapasitasi sperma dilakukan dengan pewarnaan triple staining, dilakukan pada masing-masing sampel sebelum dan sesudah kapasitasi. Setelah itu, sperma X 1 , X 2 , dan Y dikapasitasi di dalam dua perlakuan medium TALP yang mengandung kafein 4 mM (I), serta kafein 4 mM dan heparin 10 μg/ml (II). Sebagai kontrol, digunakan sampel sperma yang tidak di-sexing. Penelitian dilakukan sebanyak 5 ulangan, masing-masing menggunakan straw sperma X, Y, atau tanpa sexing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motilitas sperma X dan Y pada medium kapasitasi II (X 1 =50,9%; X 2 =48,6%, dan Y=51,5%) lebih tinggi secara nyata (p<0,05) dibandingkan dengan medium I (X 1 =41,5%; X 2 =43,9%, dan Y=41,3%). Hasill serupa juga diperoleh pada sperma yang tidak di-sexing. Viabilitas sperma X dan Y yang dikapasitasi pada medium II (X 1 =66,9%; X 2 =61,7%, dan Y=60,3%) juga menghasilkan persentase yang lebih tinggi dibandingkan dengan medium I (X 1 =54,8%; X 2 =50,6%, dan Y=54,9%). Nilai abnormalitas sperma X dan Y sesudah dikapasitasi pada kedua perlakuan medium, tidak berbeda nyata dibandingkan dengan sperma yang tidak di-sexing. Sebelum dikapasitasi, persentase sperma X dan Y yang mengalami reaksi akrosom lebih rendah (2,6% dan 0,5%), tetapi setelah dikapasitasi, jumlah sperma yang mengalami reaksi akrosom meningkat, baik pada perlakuan I maupun perlakuan II. Hasil ini menunjukkan bahwa sexing atau pemisahan sperma sapi X dan Y menggunakan kolom BSA, tidak menyebabkan terjadinya reaksi akrosom lebih awal sebelum proses kapasitasi. Kata kunci: BSA, kapasitasi, reaksi akrosom, sapi FH, sperma sexing Abstract. Kaiin EM, Gunawan M. 2017. The quality of sexing-sorted bull sperm after in vitro capacitation. Pros Sem Nas Masy Biodiv Indon 3: 466-470. Sexing-sorted bull sperm separated with three column BSA (5-10%) was evaluated in vitro to determine the quality of sperm after capacitation. The frozen FH bull sexing-sorted X (female) and Y (male) sperms were re-thawed at water bath with a temperature of 37oC for 30 seconds. Then, the quality of sperms was evaluated in the parameters of motility, viability and abnormality. The state of sperm capacity was examined with triple staining at each sample, before and after capacitation. X and Y sperms were capacitated in two treatment media, i.e., TALP medium with 4 mM caffein (I), or 4 mM caffein combined with heparin 10 μg/ml (II). Unsorted sperm was used as a control. The research was conducted in five repetitions, by using X, Y, and unsorted sperms. The results showed that the motility of X dan Y sperms at the capacitation medium with caffein and heparin was significantly higher (X1=50.9%, X2=48.6%, and Y=51.5%) compared to the capacitation medium only with caffein (X1=41.5%; X2=43.9% and Y=41.3%). The same result was obtained from un- sexed sperm. The viability of X dan Y sperm capacitated with medium II (X1=66.9%, X2=61,7%, and Y=60.3%), also resulted in a higher percentage compared to medium I (X1=54.8%, X2=50.6%, and Y=54.9%). The abnormality of X and Y sperms after capacitation at both treatment medium was not different significantly compared to unsorted sperm. Before capacitation, the percentages of X and Y sperms with acrosome reaction were lower (2.6% and 0.5%), but after capacitation, it resulted in increasing the number of sperms with acrosome reaction incapacitation, both on medium I and II. This result showed that sexing-sorted bull sperm with BSA column not resulting in the earlier acrosome reaction before capacitation. Keywords: Acrosome reaction, BSA, capacitation, FH bull, sexing sperm PENDAHULUAN Peningkatan populasi ternak sapi di Indonesia dapat dioptimasi dengan melakukan inseminasi buatan menggunakan sperma hasil sexing, sehingga dapat dilahirkan pedet dengan jenis kelamin yang sesuai harapan (betina atau jantan), disesuaikan dengan kebutuhan peternak. Pemisahan sperma X dan Y menggunakan kolom BSA dilakukan berdasarkan perbedaan motilitas antara sperma X dan Y dalam menembus larutan BSA (Hafez dan Hafez 2000), serta berdasarkan perbedaan ukuran DNA antara sperma X dan sperma Y. Rasio perbedaan DNA sperma X dan Y pada sapi sebesar 3,8% (Johnson dan Welch 1999). Pengembangan metode sexing sperma sapi dengan kolom Bovine Serum Albumin (BSA) sudah dikembangkan dan diaplikasikan di lapangan,