86 KONSEP EIRENE BERDASARKAN EFESUS 2:11-22 DAN IMPLEMENTASINYA DALAM KEKRISTENAN MASA KINI Wangyu Robi Panggarra sttjaffray@yahoo.com PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Pada awal penciptaan dunia ini catatan Alkitab menjelaskan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Kejadian 1:26, Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita,...” Tetapi akibat dosa manusia pertama, gambar Allah menjadi rusak dan manusia kehilangan kemulian Allah. Rasul Paulus juga menjelaskan dalam Surat Roma 3:23, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah”. Jadi akibat ulah manusia itu sendirilah manusia menjadi jauh dari Tuhan atau menjadi seteru Allah. Karena dosa, manusia mengalami penderitaan, sakit, kematian, seperti yang Rasul Paulus katakan dalam suratnya kepada jemaat di Roma, “Sebab upah dosa ialah maut” (Roma 6:23). Jadi, dengan jalan apapun yang manusia lakukan untuk mendamaikan dirinya dengan Allah tidak akan bisa. Manusia berpikir bahwa dengan apa yang dia miliki dia akan merasa aman dan damai sejahtera. Mitos yang paling umum mengenai uang atau kekayaan bahwa memiliki lebih banyak uang atau kekayaan, akan membuat kehidupan penuh dengan damai sejahtera. Tetapi, tidaklah demikian bahwa uang atau kekayaan bisa saja hilang dalam sekejab mata, karena beberapa faktor yang tidak diharapkan. Paul G. Caram mengatakan, Konsep dunia tentang damai sejahtera adalah tidak adanya kesulitan hidup. Meskipun demikian, tatkala kesulitan lahiriah berhenti, manusia tetap sangat menderita karena kegelisahan-kegelisahan batiniah mereka... Namun ada lagi sebuah damai sejahtera lain, yang datang dari si jahat. Damai sejahtera ini merupakan awan ketidak sadaran yang menutupi pikiran manusia, membuat mereka percaya bahwa mereka tidak apa-apa, walaupun mereka sedang menuju penghukuman. Damai sejahtera dari dunia membuat manusia memiliki anggapan yang berlebihan, terlalu percaya diri, tidak dapat dipengaruhi dan tidak mengenal bahaya, tetapi mereka sedang berjalan menuju bencana tertentu. 1 Dari kutipan di atas menjelaskan bahwa damai sejahtera (eirene) yang dijanjikan dunia kepada manusia sangat “komplet”, dalam artian bahwa manusia yang mengalami damai sejahtera tidak mengalami kesulitan hidup. Inilah yang sedang ditawarkan oleh dunia sekarang ini kepada manusia dan ironisnya orang-orang percaya juga sedang mengejar damai sejahtera yang ditawarkan oleh dunia ini. Tetapi damai sejahtera (eirene) yang dijanjikan dunia hanya untuk kenikmatan yang sesaat atau bersifat semu. Tuhan Yesus sendiri berkata, bahwa damai sejahtera yang Dia berikan tidak seperti yang dunia berikan, Yohanes 14:27, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Jika manusia mengabaikan eirene yang Tuhan Yesus janjikan dan mengejar damai sejahtera yang dijanjikan dunia ini maka akan berakibat fatal bagi kehidupan manusia. Hal ini membuat manusia kehilangan damai sejahtera (eirene) di dalam batinnya, memberontak terhadap Allah dan sesamanya, membunuh, bertengkar, tidak mau berdamai dan sebagainya. Dengan keadaan yang sedemikian buruk manusia hanya menunggu pembinasaan dari Tuhan. Tetapi oleh kasih karunia Allah, Dia mengutus Yesus sebagai 1 Paul G. Caram, Kekristenan Sejati (Jakarta: Voice Of Hope, 2004), 111-112.