JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 2, (2013) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) C-230 Abstrak—Keterkaitan antar sektor adalah faktor penting dalam ajaran teori ekonomi regional. Dengan adanya saling keterkaitan antar sektor maka sinergi antar daerah akan terbentuk. Sinergi antar daerah ini adalah modal dalam upaya mendorong laju pertumbuhan ekonomi. Kabupaten Lumajang sebagai salah satu Kabupaten dengan kriteria pertumbuhan ekonomi lambat (relatif tertinggal) dipertanyakan meilhat adanya potensi pada masing – masing Kecamatan di Kab. Lumajang. Penelitian ini dilakukan sebagai upaya percepatan pertumbuhan ekonomi dengan memaksimalkan peran sektor ekonomi potensial melalui keterkaitan antar sektor. Analisis Jalur digunakan sebagai metode analisis guna mencari pengaruh kinerja antar antar sektor sehingga akan nampak pola keterkaitan sektor yang terjadi. Dari delapan kegiatan ekonomi (sektor/sub-sektor) yang diduga memiliki keterkaitan, ternyata hanya lima sektor yang memiliki hubungan keterkaitan. Pemaksimalan kinerja lima kegiatan ekonomi (sektor/sub-sektor) ini akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi melalui arahan kebijakan yang tepat. Kata Kunci—Ekonomi Regional, Keterkaitan Sektoral, Pertumbuhan Ekonomi. I. PENDAHULUAN ercepatan pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai segala upaya yang dilakukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inklusif, dan berkelanjutan [4]. Keterkaitan antar sektor adalah salah satu cara untuk mendorong pertumbuhan ekonomi karena mampu memaksimalkan kinerja sektoral melalui peningkatan produksi [5]. Kabupaten Lumajang adalah salah satu kabupaten dengan kriteria daerah relatif tertinggal. PDRB pe-kapita Kabupaten Lumajang (Rp 10,36 juta) [3] berada pada angka paling kecil dibandingkan wilayah yang berbatasan langsung yaitu Kota Probolinggo (Rp 20,59 juta), Kabupaten Probolinggo (Rp 13,64 juta) [2] dan Kabupaten Jember (Rp 11,27 juta) [1]. Disisi lain, dari 21 kecamatan di Kabupaten Lumajang, hanya 8 kecamatan yang memiliki pendapatan per-kapita diatas rata – rata keseluruhan (tabel 1). Hal ini menunjukkan bahwa hanya sebagian wilayah kecamatan di Kabupaten Lumjang yang telah berkembang. dalam kondisi lapangan, ditemukan bahwa sebagian besar hasil produksi sektor pertanian yang merupakan sektor dengan andil paling besar dalam pembentukan PDRB mengalir tanpa melewati media add value dari sektor industri pengolahan. Hal ini dikarenakan rata – rata Kecamatan dengan hasil produksi sektor pertanian yang baik berada jauh dari kecamatan pusat – pusat industri pengolahan, disisi lain pembeli dari luar wilayah Kabupaten Lumajang sendiri mampu memberikan penawaran harga beli terhadap hasil produksi sektor pertanian yang lebih tinggi daripada penawaran harga beli di dalam Kabupaten Lumajang [7]. Tabel 1. Struktur Ekonomi Kecamatan di Kabupaten Lumajang Berdasarkan PDRB Atas Harga Berlaku Tahun 2011 Kecamatan Share sektor (%) PDRB per- kapita (Rp) Primer Sekunder Tersier Pasrujambe 53,25 7,03 39,72 21.798.752,01 Jatiroto 37,89 21,9 40,16 21.053.364,78 Lumajang 8,12 23,80 68,08 19.922.780,88 Sumbersuko 25,28 33,04 41,68 17.667.266,02 Tempeh 28,44 31,19 40,38 17.437.665,08 Gucialit 45,54 8,13 46,33 16.905.778,75 Pasirian 41,34 21,03 37,62 16.277.512,41 Klakah 36,86 13,28 49,86 15.770.372,92 Yosowilangun 40,25 13,14 46,60 15.107.932,46 Kedungjajang 40,82 21,67 37,51 14.307.455,45 Rowokangkung 40,43 8,95 50,62 14.182.699,08 Tempursari 42,96 9,35 47,69 14.030.930,05 Candipuro 38,93 19,13 41,94 13.929.107,41 Randuagung 43,38 8,35 48,38 13.702.148,73 Tekung 46,51 11,75 41,74 13.598.534,85 Kunir 38,57 14,89 46,54 13.535.501,28 Pronojiwo 46,36 17,84 35,80 12.986.388,54 Sukodono 26,52 24,28 49,19 12.793.593,59 Ranuyoso 46,99 10,36 42,65 11.872.756,21 Padang 45,16 15,56 39,28 11.049.490,54 Senduro 42,17 18,89 38,94 10.652.774,84 Sumber : PDRB Kabupaten Lumajang menurut Kecamatan tahun 2009- 2011 Upaya untuk menciptakan keterkaitan sektor ekonomi antar wilayah sebagai media pendorong pertumbuhan ekonomi wilayah dianggap perlu sebagai pemecah permasalahan ekonomi di Kabupaten Lumajang. Dengan membangun keterkaian sektoral ini maka peningkatan produksi akan terjadi dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi secara inklusif dan berkelanjutan. Ketika sebuah sektor berkembang, maka dampak perkembangan ini akan berimbas pada sektor lain membentuk sebuah siklus. Siklus ini terjadi dikarenakan keberlangsungan sebuah sektor membutuhkan sektor lain dalam proses kinerja produksinya. Sektor primer membutuhkan sektor sekunder sebagai media add value dan sektor tersier sebagai media pemasaran [6]. Pembentukan keterkaitan sektoral harus lebih dulu ditemukan potensi sektoral yang terdapat pada masing – masing kecamatan. Sebagai indikasi awal, memang tiap kecamatan di dalam Kabupaten Lumajang memiliki potensi sektoral sebagai modal keterkaitan (tabel 1). Hal ini terlihat dari adanya beberapa kecamatan yang memiliki share sektor tinggi pada masing – masing kelompok sektor (primer, sekunder, tersier). Kecamatan Pasrujambe yang memiliki andil besar pada sektor primer, Kecamatan Sumbersuko pada sektor sekunder, dan Kecamatan Lumajang pada sektor tersier. Dengan melihat permasalahan serta potensi wilayah yang ada maka studi ini bertujuan untuk meneliti bagaimana pola keterkaitan sektoral yang ada di Kabupaten Lumjang guna meningkatkan kinerja sektoral menuju pada percepatan pertumbuhan ekonomi. Keterkaitan Sektoral di Kabupaten Lumajang Ivan Agusta Farizkha dan Eko Budi Santoso Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia e-mail: eko_budi@urplan.its.ac.id P